Pada Jumat keesokan harinya, dengan izin dokter, keluarga Wijaya akhirnya berhasil membawa Danish keluar rumah sakit pagi-pagi sekali untuk merayakan Idul Fitri bersama. Ada seorang perawat menemaninya dengan sangat telaten, wajahnya ceria dan penuh semangat. Danish bahkan terlihat lebih bahagia dan banyak bicara. “Ya, ampun! Hotelnya terlihat bagus sekali!” puji ayah Casilda dengan senyum bodoh, menarik istrinya untuk melihat pintu masuk yang begitu indah. “Hush! Jangan bikin malu! Ayo, cepat kita bersiap!” Casilda terkekeh melihat tingkah laku keduanya. “Apakah sebagus itu? Seharusnya aku membawa ayah dan ibu menginap di hotel ini sejak awal,” kata Arkan bangga. Arkan sengaja menyewa dua kamar hotel mewah yang berada tidak jauh dari gedung komunitas Muslim, tempat yang bagus untuk

