Bab 6

1700 Words
“Kan, aku bilang juga apa. Lingkungan tempatmu tinggal itu nggak baik pengaruhnya buatmu. Kamu jadi sering dilecehkan sama orang-orang di sana, kan?” Gimana sih Anye ini? Aku mengkhawatirkan Galang mati-matian akibat ucapan busuk pemuda produk gagal itu—mengenai hobinya menonton film ‘anu’—eh, Anye malah memikirkan aku? Tidakkah dia tahu, aku kelimpungan akibat kenyataan buruk itu? Aku hampir saja meledak tadi pagi. Hampir menyuruh Kribo memutar motor bututnya ke sekolah Galang jika saja pikiranku tidak menghentikan aksiku. Aku masih tidak habis pikir, pemuda itu, atau baiknya kita menyebutnya dengan Martin, bisa sefasih tadi mengatakan bahwa anakku, Galang, suka melihat film bokep dengannya? Film bokep, saudara-saudara. Film yang ada adegan perempuan lagi b******u dengan pria. Film yang mempertontonkan organ tubuh secara jelas. Film yang jelas bisa merusak mental Galang. Dia masih empatbelas dan dia sudah mengonsumi film sampah seperti itu? Kalau kau menjadi ibu, gimana perasaanmu? Aku pusing luar biasa. “Kita nggak membicarakan aku. Kita membicarakan Galang.” Aku memutar bola mata. Anye seperti tidak menggubris. Dia memasukkan Happy Tos ke dalam keranjang belanjaan. Dan otakku langsung berpikir otomatis. Menjadi mesin kalkulator tanpa bisa aku cegah. Sepuluhribu sembilan ratus rupiah. “Aku perjelas sekali lagi bahasannya jika kamu nggak paham-paham juga.” Kali ini, Chitato jumbo ia masukkan pula ke keranjang. Sebelas ribu. “Pertama, Galang udah dewasa.” “Dia masih empatbelas, dewasa dari—“ “Jangan menukasku, Jen.” Anye memelototiku, memasukkan lagi dua bungkus Timtam rasa cokelat dan vanilla—sembilan ribu sembilan ratus kali dua; 19.800. “Kedewasaan manusia nggak dilihat dari deretan angka usianya, tapi dilihat dari bagaimana dia berpikir.” “Dari bagaimana dia berpikir?” Aku mengulangi dengan jijik. Seolah apa yang baru saja diucapkan Anye adalah suatu kesalahan. “Galang masih beranggapan dirinya yang paling benar di rumah. Dia mau semua keingingannya terkabul. Apakah itu masuk ke dalam daftar menjadi dewasa?” Sari Roti sobek cokelat: limabelas ribu. Ini anak beli banyak-banyak makanan buat apa, sih? “Dia tahu keinginannya. Dia bisa menyelesaikan perkaranya. Yang menghambatnya tumbuh dan berkembang itu kamu sendiri, Jen. Kamu yang memaksa anak-anakmu seolah masih anak-anak. Padahal kamu tahu, mereka udah dewasa. Galang memiliki cita-cita, Kin sudah memiliki jerawat. Kamu mau menyangkalnya atau gimana, kenyataannya nggak bisa kamu tangkis bahwa anak-anakmu… udah dewasa.” Tentu saja itu hanya bualan. Aku tahu kelakuan anakku persisnya seperti apa. Mereka masih anak-anak. Masih bayiku yang menggemaskan. Bukan sudah dewasa seperti apa yang dibicarakan Anye. Anye berkata itu hanya untuk menakut-nakutiku. Tidak ada yang lain. Ngomong-ngomong, baru saja Anye memasukkan Piattos jumbo tiga bungkus masing-masing seharga tujuh ribu; duapuluh satu ribu. Ya, Tuhan, seseorang harus bisa menghentikannya berbelanja atau dia akan memborong makanan di sini semuanya. “Yang dia tahu hanya apa yang dia pikir terbaik untuknya. Jelas saja itu adalah sebuah pemikiran anak-anak. Menjadikan musik sebagai cita-cita bukanlah pandangan orang dewasa. Dan aku sebagai ibu, nggak akan membiarkan anakku kehilangan arah dan tujuan.” “Kamu melakukan apa?” Perempuan kurus itu menghentikan jalan, berbalik ke arahku yang membawa sekeranjang makanannya, menatapku penuh curiga. Apa? Memangnya aku melakukan kesalahan? “Melakukan apa maksudnya?” “Apa yang kamu lakukan terhadap cita-cita Galang?” “Aku melakukan apa yang akan dilakukan seluruh ibu di muka bumi ini; melarangnya bermain musik, tentu saja.” “Nggak! Kamu nggak akan berani melakukannya!” Dia memekik, terlihat terkejut. Aku mengernyit. Kenapa reaksinya berlebihan seperti itu? Dia pikir aku ini hantu? “Memangnya kenapa? Dia anakku! Aku tahu apa yang terbaik untuknya dan apa yang buruk buatnya. Musik adalah karier paling nggak memiliki masa depan. Aku nggak ingin Galang tumbuh dan berkembang seperti gembelan jika dia bermusik.” “Kamu benar-benar keterlaluan, Jen.” Anye menuding tepat di hidungku. Sekarang, dia berkacak pinggang. Tubuh tingginya menjulang di hadapanku. Wajah cokelatnya tampak serius. Jadi aku tidak melepas fokos mataku pada matanya. “Itu bukan yang ibu lakukan pada anaknya,” tegurnya keras. Menyalahkanku. Dadaku panas. Ada sesuatu di dalam diriku yang menolak untuk menyetujuinya. Dia pikir, posisinya apa di keluargaku sampai menghakimiku sedemikian kerasnya? “Sebagai seorang ibu, seharusnya kamu mengarahkan anakmu. Bukannya melarang seperti ini. Musik adalah bakat yang dimiliki Galang, dan kamu main melarangnya seperti ini hanya karena pikiran konyolmu? Kamu nggak pernah nonton TV di rumah? Begitu banyak orang yang kaya di dunia karena musik. Sebut Ahmad Dhani, Ari Lasso, Judika, Syahrini, bahkan….” Aku tidak menyukai nada bicaranya yang menggantung di ujung kalimat. “Iwan Fals. Penyanyi kesayanganmu. Favoritmu. Yang kamu koleksi semua albumnya. Yang kamu koleksi poster-posternya. Kamu mau memungkiri seperti apa lagi? Bagaimana seandainya Iwan Fals nggak memutuskan menjadi musisi, dan lebih memilih karier sebagai pegawai kantoran? Bisa kamu bayangkan apa jadinya orang-orang tanpa Iwan Fals? Bahkan, cih.” Dia menggeleng. Berkacak pinggang. Posenya yang begitu aku benci.  “Bahkan nggak ada nama anakmu yang sangat indah itu….” Aku terdiam. Mendengus keras. “… Galang Rambu Anarki. Nama anakmu.” Aku sangat ingin menyumpal mulut Anye dengan sempak. “Kamu mencatut nama anak seorang musisi. Dan lucunya sekali, sekarang, anakmu kamu larang bermain musik. Kamu larang bermusisi. Pikiranmu sungguh kontradiktif dengan hatimu. Kamu tahu, kadang aku berpikir, kamu butuh seseorang untuk menyadarkan pikiran burukmu. Agar kamu nggak mengatur-ngatur lagi nasib anak-anakmu. Kamu memang mengandung dan melahirkan mereka, tapi mereka memiliki kehidupan sendiri yang akan mereka jalani. Yang akan mereka pertanggungjawabkan di rumah Tuhan kelak. Jangan picik, Jen. Kamu melahirkan anak manusia, bukan robot atau boneka.” Setelah itu, dia memasukkan Trenz 6.700 sebanyak lima bungkus ke dalam keranjang yang ada di tanganku; 33.500. Aku tentu saja tidak terima dengan apa yang diucapkan Anye. Ini beda kasus. Iwan Fals dengan anakku, sungguh berada di koridor yang berbeda seratus delapanpuluh derajat. Aku hidup di dunia nyata—maksudku, dunia yang tidak ada garis seni di dalam keluargaku. Yang apa-apa dihargai dengan uang. Bahkan buang hajat pun, harus bayar tiga ribu. Bermain musik tidak membutuhkan waktu setahun dua tahun, tetapi puluhan tahun. Harus tekun, harus terus menelurkan lagu baru, biar bisa bertahan. Dan selama tidak ada konser ataupun pertunjukan, tidak akan ada pemasukan yang pasti tiap bulannya. Jika tidak ada pemasukan yang pasti tiap bulannya, anakku harus makan apa jika tabungan saja dia gunakan untuk melakukan promo lagu? Selain itu, iya kalau musik yang dibawakan anakku disukai orang-orang, kalau tidak ada yang suka? Atau paling tidak, yang suka sedikit, yang beli albumnya berapa gelintir coba, jika kau bisa men-download segalanya di internet? Dapat masukan dari manaaa? Pemikiran Anye sungguh tidak masuk akal. Dia agak-agaknya masih hidup di dunia dongeng. Sementara kehidupan, yang aku tahu selama berjuang mati-matian hampir seluruh hidupku, tidak pernah melembek pada siapa pun. Semakin aku lemah, semakin keras dunia menekanku. Pun itu yang akan terjadi pada anak-anakku. Aku harus menyadarkan pada mereka sedini mungkin, bahwa mereka tidak akan bisa mendapat apa pun kemauan mereka. Yang mereka dapat hanya apa yang sedang mereka butuhkan. Aku mengekori Anye sampai ke meja kasir. Ngomong-ngomong tentang Anye, aku belum menceritakan tentang dia, ya? Baiklah, kali ini, aku akan beberkan sedikit yang aku tahu tentang dia, sahabatku dari SMA. Nama lengkapnya, well kau pasti sudah tahu nama lengkap sahabatku ini, bukan? Apa? Kau tidak tahu? Oke, aku akan mengulanginya demi kalian. Nama lengkap perempuan kurus ini: Anyelir Dirundung Hujan. Namanya memang agak… kau tahu kan maksudku? Aneh. Tapi dia—di luar dari sifat sok mengertinya yang kadang sangat aku tidak suka—baik sekali padaku. Usianya tiga lima. Seperti yang aku bilang, dia tinggi sepertiku, tetapi kurus—hal yang selalu menjadi bahan bully-an Malam; d**a terepes. Dia baru memiliki anak satu berusia delapan tahun. Oke, oke, aku akan menceritakan siapa Anye lebih detail nanti saja. Agak-agaknya kini ada seorang ibu muda yang membutuhkan pertolongan dari penyakit gila belanja di minimarket. “Total semuanya: 457.320 rupiah, Ibu.” Mbak Kasir membacakan sederet nominal belanjaan Anye. Aku memelotot seketika? “Apa?” Hampir setengah juta hanya untuk makanan ringan? Ini sih namanya buang-buang duit. Tidak bisa dibiarkan begitu saja. “Kurangi semuanya, Mbak.” Aku bertutur tegas. “Jen, apa-apaan sih kamu.” Anye menyingkirkan pundakku, tetapi aku sekuat tenaga bertahan di posisiku menghadapi mesin kasir. “Kamu hanya butuh makanan ringan untuk mengganti makan siangmu, Nye. Ini sih terlalu banyak. Pemborosan. Duit setengah juta bisa kamu belanjakan untuk kebutuhan Shaloom—susunya, popoknya, baju-bajunya—bukannya untuk makanan ringan nggak bergizi seperti ini.” “Jen, jangan membuatku malu. Menyingkir dari mesin kasir dan biarkan aku membayar semuanya.” “Aku jelas nggak akan membiarkanmu menghabiskan setengah juta hanya untuk jajan, Nye.” Aku mendengus keras. “Mbak, semuanya kurangi saja. Sisakan Sari Roti satu bungkus dengan air mineral botol 600ml saja.” Aku tidak menggubris Anye. Aku benar-benar harus memberinya pelatihan bagaimana caranya berhemat. “Demi Tuhan, kenapa aku selalu lupa sih kalau kamu ini temen paling buruk saat diajak belanja? Sialan.” Mbak Kasir merengut, seperti tidak terima dengan permintaanku. Memangnya kenapa? Usianya mungkin baru delapanbelas, dia belum tahu apa-apa tentang kebutuhan rumah tangga. Nanti kalau dia sudah punya dua anak yang beranjak remaja, dia akan tahu betapa menghemat itu sungguh sangat diperlukan sekali. “Jadi total semuanya duapuluh ribu.” Aku memberi akses Anye untuk membayar belanjaannya. Aku mendengarnya mendengus, tapi apa peduliku, iya, kan? Aku kan hanya berniat untuk menyelamatkan dompetnya. Maksudku, isi dompetnya. Sampai di kantor, dan kembali menginput data klien serta follow up beberapa perusahaan yang sudah aku serahi proporsal asuransi, email-ku mengeluarkan notif adanya pesan baru. Aku menggeser mouse, mengklik gambar surat di kotak masuk. Dan, logo sekolah anakku terpampang nyata di sana. Kami mengimbau Ibu Jen untuk segera melunasi tunggangan biaya sekolah Kinar Rakita Dewi senilai 30.780.00 sebelum tanggal kelulusan anak SMP. Jantungku seakan melorot, tubuhku seolah melayang di atas bumi, ujung-ujung jemariku beku, perutku berjempalitan, kupingku berdenging, napasku tertahan di pangkal tenggorokan. Aku menelan ludah dengan susah payah. Kueja sekali lagi sederet uang beserta tanggal tenggat masa pembayaran. Bahkan, untuk meyakinkan apa yang aku lihat tidak ada kesalahan, aku memajukan tubuh. Ujung hidungku sampai menyentuh layar monitor. Tapi, tidak ada kesalahan di email tersebut. Nominalnya tetap sama. Tanggal batas pembayarannya pun tidak berubah. Hampir tigapuluh satu juta. Aku ulangi sekali lagi. Hampir tigapuluh satu juta. Hampir tigapuluh satu juta. Hampir tigapuluh satu juta. Ya, Tuhan, uang segitu banyaknya, aku cari di mana?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD