Kiana kembali melirik lelaki di sampingnya, lagi-lagi tidak ada respon apa pun, berarti memang ia tidak perlu meminta pertimbangan atau persetujuan Regan untuk menjawab setiap pertanyaan itu.
"Saya butuh uang dan Tuan Regan membutuhkan keturunan, kami sepakat menjalani pernikahan kontrak." Jawaban Kiana membuat Regan tersedak. Sementara Wijaya terlihat hanya menggelengkan kepalanya saja.
Kiana mendapat tatapan tajam mematikan dari Regan saat menyerahkan segelas air putih pada tuan mudanya itu dan Kiana sudah tidak peduli apa yang akan dilakukan Regan padanya.
"Kamu memang keterlaluan! Dan, kamu Kiana, kalau boleh tahu untuk apa uang sebanyak itu?" Wijaya penasaran dengan hal yang mendasari perjanjian nikah kontrak antara cucunya dengan Kiana.
Kiana pun akhirnya menceritakan semua permasalahan hidup yang dialami sampai ibunya terjerat utang puluhan juta. Tidak ada yang ia lebihkan atau ia kurangkan, semua sesuai dengan apa yang terjadi.
Mendengar kisah hidup Kiana, Wijaya pun sampai terenyuh akan perjuangan Kiana yang tidak mudah sebagai tulang punggung keluarga sepeninggal ayahnya.
"Kapan rencana kalian menikah?"
"Akhir pekan ini, Kek. Kami mohon doa restu dari Kakek." Kali ini, Regan yang angkat suara.
"Lusa kalian makan malam ke rumah lagi, ya! Pokoknya sempatkan waktu kalian, walau cuma sebentar!” pinta Wijaya sebelum mengakhiri pertemuan mereka malam itu.
***
Menjelang hari H pernikahannya, Kiana masih saja bekerja seperti biasa. Beberapa kali terselip pertanyaan dalam hati, apa keputusannya sudah benar? Menjalani pernikahan di atas kertas. Bahkan, lamarannya saja dilakukan Regan tanpa didampingi keluarganya. Hanya ada Robi juga satu asisten sang kakek yang hadir saat itu.
Hari pernikahan pun akhirnya tiba. Akad nikah dilakukan di villa pribadi milik Regan yang tidak pernah diketahui keberadaannya oleh keluarga lain selain Wijaya. Kiana terlihat cantik dengan balutan kebaya modern berwarna putih, warna yang senada dengan pakaian yang dikenakan Regan yang terdengar lancar saat mengucapkan ijab qobul.
"Bagaimana para saksi?
“Sah!” Suara yang hadir menggema di ruang tengah villa, menandakan jika status Regan dan Kiana sudah resmi menjadi suami-istri.
"Selamat ya, Nduk. Semoga langgeng sampai nanti dipersatukan lagi di surganya Allah." Tini memeluk putrinya yang sekarang sudah menjadi istri orang terpandang. Dekapan hangat yang penuh haru. Wanita paruh baya itu merasa sangat bahagia. Setidaknya ia merasa tenang karena putrinya akan hidup tanpa kekurangan seperti yang pernah dialaminya.
Namun, perasaan Kiana justru sebaliknya. Entah kenapa hatinya berkecamuk di hari bahagianya itu. Pasalnya, tidak ada satu pun keluarga Prayogo yang datang menyaksikan pernikahannya. Hanya Wijaya didampingi asistennya, juga Robi yang tampak hadir di sana.
"Kamar kamu di sini dan setelah kita pulang, kamu tetap bekerja seperti biasa! Pokoknya kamu jangan khawatir untuk tunjangan bulanan kamu sudah saya transfer, sekaligus sisa uang yang saya janjikan, tapi ingat! Jangan berharap lebih dengan pernikahan ini, saya tidak akan menyentuh kamu sampai saya bisa membuka hati dan menerima kamu sebagai istri saya secara utuh." Ucapan Regan cukup menyadarkan Kiana jika lelaki yang sekarang menjadi suaminya terpaksa menjalani pernikahan itu. Namun, mau bagaimanapun, itu adalah pilihan hidup yang mau tak mau harus ia jalani.
***
Tiga bulan sudah status Kiana menjadi seorang istri dan selama itu pula dirinya masih perawan. Suaminya masih belum mau menyentuhnya, bahkan interaksi mereka masih sama seperti ketika mereka belum menikah. Bedanya, kini Kiana membantu Regan dalam menyiapkan keperluan pribadinya. Bahkan kamar yang ditempati Kiana masih sama, di kamar pembantu. Semua penghuni kediaman Prayogo tidak ada yang tahu jika mereka sekarang tinggal dengan sepasang pengantin baru.
"Nan, tolong panggilkan Kiana!” pinta Regan sekeluarnya dari ruang gym.
"Baik, Tuan."
Tak berselang lama Kiana datang dengan membawa tumbler berisi air putih juga segelas green smoothie, minuman wajib Regan setelah selesai berolahraga.
"Diminum dulu, Tuan!” Panggilan Kiana pada Regan pun juga masih sama.
"Besok malam kakek ngundang kita makan malam, selepas isya Robi akan menjemputmu."
Kiana hanya mengangguk, lalu menerima gelas bekas green smoothie dari tangan Regan. "Ada lagi, Tuan?"
Regan mengangkat tangannya meninggalkan Kiana begitu saja. Interaksi suami istri yang sangat tidak layak untuk ditiru. Jangan pernah tanya bagaimana perasaan Kiana, biasa saja karena memang tidak pernah ada rasa cinta untuk Regan, semua dijalani atas dasar perjanjian. Toh, dirinya juga tidak rugi apa-apa, hanya pekerjaannya saja yang bertambah, terutama soal menyiapkan pakaian kerja Regan.
***
Malam ini, Regan pulang tak sendiri, Kiana yang sedang menyiapkan makan malam melihat suaminya berjalan beriringan dengan seorang wanita. Sebagai istri tentu ada tanda tanya dalam benaknya, tapi mengingat perjanjian di antara mereka, Kiana hanya bisa diam.
"Nesa, lama nggak ketemu. Gimana kabar kamu, Sayang?” Wika menyambut kedatangan Regan bersama Nesa–teman SMA, sekaligus cinta pertamanya dulu.
"Alhamdulillah baik, Tan. Tante apa kabar, sehat juga, 'kan?" Nesa dan Wika saling memeluk dilanjut dengan cipika cipiki.
"Ayo duduk, Sayang! Tante kangen banget lo sama kamu. Denger-Denger kamu udah menetap di Indonesia lagi, 'kan?” Wika begitu antusias dengan kedatangan mantan pacar Regan itu, mereka berdua memang sefrekuensi, sama-sama hedon, senang ke salon juga kumpul-kumpul sosialita.
"Nesa juga kangen sama Tante, sama Regan juga sih," ucap Nesa blak-blakan sambil melirik Regan yang duduk di sebelahnya.
Mendengar perkataan Nesa, Kiana yang baru saja datang untuk menyajikan minuman dan camilan, coba menahan sesak yang tiba-tiba menyerang. Hatinya terasa perih saat melihat sikap Wika yang begitu dekat dengan Nesa, layaknya seperti mertua dan menantu. Raut wajah Kiana ternyata mampu dibaca Regan yang sejak tadi sudah memperhatikan Kiana.
“Sesakit inikah ternyata tidak dianggap sebagai istri? Kenapa dia tidak menikah dengan perempuan itu saja? Kenapa harus aku yang dipilihnya, padahal perempuan itu kelihatan dekat sekali dengan Nyonya Wika?” Sambil melangkah pergi, Kiana terus bermonolog kesal.
Kedua matanya sesekali masih melirik Regan yang terlihat nyaman ada di samping Nessa. Harusnya aku tolak tawaran dia! Kiana terus merutuki diri sendiri karena terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Mau menyalahkan takdir apalagi ibunya, rasanya sangat memalukan, nyatanya karena terdesak keadaan kini dirinya punya tabungan yang nominalnya tidak sedikit. Ibunya juga diberi modal oleh Regan untuk membuka toko kelontong di rumah, bahkan rumah mereka sampai direnovasi, walau tidak dibongkar total.
Di tengah kekesalannya, tiba-tiba suara berat terdengar memanggil. Kiana pun menoleh. Menatap penuh keterkejutan saat yang ada di hadapannya saat ini ternyata adalah Regan.
“Eh, Tuan Regan, ada apa, ya? Apa Tuan butuh camilan lagi atau mau saya buatkan kopi?”
“Saya tidak butuh apa-apa. Saya cuma mau mengingatkan kamu, jangan pernah berharap lebih dari saya! Berhenti memasang wajah cemburu di depan Nessa dan Ibu saya! Ingat! Kamu itu cuma istri kontrak, saya cuma butuh rahim kamu, tidak lebih dari itu!”
Mendengar itu, Kiana seketika mematung diam tanpa suara. Lidahnya terasa benar-benar kelu. Hanya mampu menatap Regan dengan air mata yang tiba-tiba menetes tanpa bisa ditahan. Rasanya teramat pedih. Perkataan Regan seperti sebuah pedang yang menghunus jantungnya hingga terasa sakit.
Bersambung.