Seminggu berlalu. Setelah menjalani operasi pengangkatan peluru dan perawatan intensif, kondisi Damian berangsur membaik. Hari ini, ia sudah diperbolehkan pulang ke mansion mewahnya. “Pak, sebaiknya Bapak istirahat dulu. Saya akan siapkan makan siang di dapur,” ucap Alina sambil beranjak dari pinggir ranjang, tempatnya duduk menemani Damian tadi. Namun, baru saja ia berdiri, sebuah tangan kekar menahan pergelangan tangannya. “Tunggu,” cegah Damian lembut. Alina terpaku. Jantungnya mendadak berpacu dua kali lebih cepat. “I-iya, Pak? Ada apa?” tanyanya gugup. Wajahnya perlahan memanas, merona merah tanpa bisa ia cegah. Sial, kenapa jantungku berdebar begini? Kenapa rasanya aku seperti remaja yang baru jatuh cinta? Sadarlah, Alina! batinnya menjerit, mencoba menenangkan desiran aneh di d

