43. Perasaan Tak Berbalas

1344 Words

Ivy hanya menatap kosong pada televisi yang sedang menayangkan acara yang ia sendiri tak tahu. Banyak pikiran yang mengisi kepalanya, sampai-sampai rasanya nyaris meledak. "Kak, makan yuk. Kakak harus makan. Kakak dan adek bayinya gak bisa kalau cuma ngandelin nutrisi dari infus, Kak." Sudah berulang kali Eriva mencoba membujuk sang Kakak. Dari sejak Raisa dan Rere masih menemani hingga mereka pamit karena ada kesibukan masing-masing. Tapi tetap saja Ivy bergeming dengan penolakan. "Kak, Kakak gak bisa mengulangi apa yang sudah terjadi. Yang bisa Kakak lakuin sekarang cuma memperbaiki itu semua," bujuknya lagi. Tapi Ivy tetap menggeleng, malah sekarang air matanya mulai membanjiri pipi yang tak memiliki rona kemerahan seperti biasanya. "Aku harus gimana, Kak? Setidaknya Kakak harus ng

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD