06. Puncak

1362 Words
Bravino menyugar rambutnya ke belakang. Harinya cukup berat karena saingan bisnisnya mulai melalui jalan yang ia benci. Benci karena ia pasti harus menggunakan cara kotor untuk menyingkirkan saingannya itu. Bravino butuh distraksi. Distraksi yang menyenangkan juga menenangkan. Dengan langkah tegap dan pasti, Bravino mulai menapaki kakinya ke anak tangga, menuju lantai dua. Tempat di mana ia meminta Ivy, gadis kecil mainan barunya untuk bersiap. CEKLEK Bravino masuk. Ia mendapati ruangan itu kosong. “Di mana dia?” monolognya. Lelaki dengan tubuh tegap dan tinggi seratus delapan puluh delapan centimeter itu melanjutkan langkah. Walk in closet adalah tujuannya. Dua sudut bibirnya tertarik selaras ke arah samping. Pemandangan di hadapannya terlalu tinggi dari ekpektasinya sendiri. “Aku berubah pikiran. Aku tidak mau melihat kamu pakai lingerie. Aku lebih suka kamu polos seperti ini.” Berikutnya terdengar pekikan suara dari wanita yang kini Bravino letakkan di atas bahu. “Le-lepaskan aku, Tuan.” PLAK PLAK Bukannnya diturunkan, Ivy malah mendapatkan dua tamparan yang cukup perih di bagian belakangnya. “Sakit,” lirih Ivy. “Makanya gak usah melawan,” balas Bravino dengan suara penuh intimidasi. Ivy kembali memekik kala Bravino meletakkan tubuhnya di atas kasur. Tidak mau membuang waktu, ia langsung mengurung tubuh Ivy di bawahnya. Menatap wanita yang baru kemarin ia buka segelnya dengan tatapan buas. Tatapan itu membuat Ivy risih sekaligus malu. Meski ini bukan untuk pertama kalinya, tapi mungkin untuk selamanya, setidaknya selama ia menjadi sugar baby bagi Bravino, ia tak akan pernah bisa terbiasa. “Maaf.” Ivy bersuara karena ia ingin mengenyahkan rasa tak nyaman itu. Inginnya ia menutupi bagian sensitifnya, tapi tak bisa karena Bravino menahan dua tangannya di samping kepala. Sedangkan kakinya ditimpa Bravino dengan kaki lelaki itu sendiri, meski tak membuatnya merasa berat atau sakit. Kening Bravino berkerut. “Kenapa kamu minta maaf?” “Ka-karena aku belum memakai apa yang Tuan perintahkan.” Bola mata Ivy mengarah ke samping. Tak kuat rasanya harus menatap dua mata yang memiliki sorot tajam seperti mata elang yang siap memakan mangsanya. Sementara itu, telinga Bravino rasanya gatal saat mendengar ucapan Ivy yang terdengar terlalu kaku dan baku. “Don’t call me like that. Aku seperti akan meniduri pembantuku saja. Dan masalah lingerie, aku punya banyak kesempatan untuk melihatmu dengan itu semua.” Membayangkan semua itu, Ivy jadi bergidik ngeri. Seingatnya di sana ada sekitar puluhan baju kekuarangan bahan yang tergantung. “Ja-jadi, aku harus memanggil Anda apa?” Bravino yang berada di atas Ivy melepaskan pegangannya. Ia menegakkan tubuh dan membuat Ivy mendapatkan kesempatan untuk menutupi bagian depan tubuhnya. “Terserah kamu, asal bukan Tuan,” jawab Bravino sembari jarinya menari di atas kancing kemeja yang kini ia buka satu persatu. Ivy berusaha mengalihkan tatapannya pada otot d**a, bisep dan juga enam kotak yang berhiaskan bulu-bulu halus di tubuh bagian atas Bravino. Terlalu indah untuk ditolak, tapi terlalu takut untuk dihadapi. Bagian itu terekspos dengan mudah oleh mata Ivy karena Bravino telah melemparkan pakaiannya ke bawah. Susah payah Ivy berpikir lalu satu panggilan pun keluar dari mulutnya “Kalau Om bagaimana?” “Om?” Ivy mengangguk. “Iya. Karena Anda jauh lebih tua dari aku.” “Jangan! Aku tidak mau kamu memanggilku seperti itu. Itu sama saja seperti aku lagi tidur sama keponakannku sendiri. Itu terlalu mengerikan, you know? Dan masalah umur, aku rasa kita tidak sejauh itu.” “Aku baru dua puluh dua tahun, kalau Om berapa?” “Aku … aku cuma sepuluh tahun lebih tua dari kamu.” “Oh, berarti emang udah paling bener. Aku gak mungkin memanggil Om dengan sebutan Kakak karena perbedaan usia kita terlalu jauh. Kalau nama juga tidak mungkin, kan kita gak seumuran, itu tidak sopan. Jadi, aku pikir panggilan Om itu yang paling bener.” “Whatever! Aku udah gak tahan lagi!” Bravino yang sudah kepalang berhasrat tak ingin membahas masalah panggilan. Yang ada di kepalanya sekarang adalah segera melampiaskan hasrat yang terlanjur membumbung tinggi di benaknya. Namun, Bravino tak ingin bersifat tak gentle. Ia harus memuaskan Ivy, membuat wanita muda yang yah lumayan terlalu muda baginya itu, mendesah bahkan menjerit kala menemukan puncaknya. Bravino mulai dari bibir. Bibirnya yang merah gelap mulai memanjakan Ivy. Bravino jadi tahu bila Ivy tak menggunakan perona bahkan pelembab karena ia tak bisa merasakannya. Permainan Bravino mulai kasar dan menuntut, seiring dengan hasrat yang kian meninggi. “Buka mulut kamu dan balas ciumanku!” titahnya frustasi karena Ivy hanya diam saja. Tanpa menjawab Ivy pun membuka mulut. Kembali Bravino melancarkan serangannya. Sangat mudah untuk dirinya menemukan titik-titik sensitif yang membuat Ivy mulai bersuara. Hampir membuat Ivy pingsan karena tak sempat bernafas, akhirnya bibir Bravino mulai turun ke leher, membaui aroma tubuh Ivy yang khas, meski bukan menggunakan body shower yang mahal, tapi ia tetap menyukainya. Sentuhan demi sentuhan menjalar hampir di sekujur kulit Ivy. Mengalirkan getaran bak listrik yang menyengat hingga ke peredaran darah. Untuk kesekian kalinya Bravino mengajak Ivy untuk mencicipi surga dunia. Surga yang meski kotor tapi tetap ingin ia datangi. Ivy menggeleng frustasi saat Bravino dengan lihai menggulungnya dalam hasrat yang tak bertepi. Tujuan lelaki itu hampir tiba. Bravino memeluk erat tubuh wanita yang mungil dalam pelukannya itu saat puncak itu tercapai. Mengeluarkan hormon dopamine yang menularkan rasa tenang dan nyaman pada sugar baby-nya. Saling meresapi hangat tubuh akibat perjalanan panas tadi. Membuat Ivy terlelap begitu saja. Sedangkan Bravino masih tetap terjaga. "Baby kamu sudah tidur?" tanya Bravino. Ia sedikit menunduk demi menatap wajah cantik dalam dekapannya. Keningnya berkerut, jari besarnya bergerak spontan merapikan anak rambut yang menutupi kening Ivy. "Kamu harus bersih-bersih dulu, Baby," ucapnya lagi sembari mengecup ujung hidung Ivy. Tapi bukan jawaban yang Bravino dapatkan melainkan erangan panjang dari Ivy. Tanpa disangka, Bravino melepaskan pelukannya, kemudian berjalan menuju kamar mandi dan kembali dengan handuk basah. Dengan sangat lembut ia mengusap kulit Ivy yang terasa lengket kerena peluh. Sesekali ia mengusap di tempat yang ia senangi. Bukan Bravino namanya kalau tak memiliki pikiran kotor. Bravino menyelesaikan bersih-bersih itu hingga ke ujung kaki Ivy. Dan tersenyum simpul menilai hasil kerjanya. "Sekarang kamu sudah bersih, Baby. Tidur aja dulu, kamu harus cukup istirahat untuk ronde selanjutnya," ucapnya sembari kembali masuk dalam selimut dan bergabung dengan Ivy. Yang Bravino tak tahu adalah Ivy sudah terbangun saat dirinya disentuh dibagian sensitif. Siapa juga yang bisa tidur nyenyak dalam kondisi tadi. Dan itu membuat Ivy mendengar ucapan Bravino barusan. 'Matilah aku!' Ponsel dalam tas Ivy bergetar, mengalihkan perhatiannya, ada satu pesan yang tak ia ketahuin masuk. Benda tersebut memang tak sempat ia lihat lagi karena terburu-buru, Itu dari Eriva. “Ini ada telepon, Baby. Dari adik kamu.” Bravino mengambilkan benda komunikasi itu. Ivy masih tetap bergeming padahal panggilan itu belum ia jawab. Heran juga karena Eriva menghubungi dirinya padahal ia sudah mengatakan bila hari ini dirinya bekerja sampai malam. “Angkat teleponnya, Baby. Kalau tidak biar aku yang-“ “Jangan! Biar aku aja.” “Cepat!” Ivy kemudian menggeser ikon jawab di layar ponselnya. “Iya, Er. Ada apa?” “Kak, tadi aku ngeliat kakak di klinik. Kakak ngapain ke dokter obgyn?” “Hah? Mu-mungkin kamu salah lihat, Er.” Ivy sama sekali tak menduga di hari keduanya menjadi sugar baby ia akan ketahuan secepat itu. “Nggak! Gak mungkin aku salah lihat. Sekarang kakak dimana?” “Hmm, kakak di…” BRAK Pintu kamar terbuka lebar, di sana ada Eriva yang ditemani Damian. Kondisi yang sama sekali tak Ivy harapkan. “Kak! Ini yang kakak bilang bekerja? Pekerjaan macam apa ini, Kak?” “Er, Kakak bisa jelasin semuanya. Ini…” Ivy menggeleng, berusaha bangkit dari ranjang bersama selimut karena hanya itu yang membungkus tubuhnya. “Jangan sentuh aku! Aku malu punya saudara seperti Kakak! Kamu perempuan kotor!” Damian memeluk Eriva yang menangis tersedu-sedu. “Ivy, aku juga tidak menyangka kamu melakukan hal murahan seperti ini. Aku menyesal mengenal kamu! Kamu memalukan!” Ivy jatuh luruh bersama selimutnya di lantai. Hal yang paling ia rahasiakan malah terungkap begitu cepat. Dihina sedemikian rupa oleh orang-orang terdekatnya membuat ia makin hancur. “Diam kalian semua!” Bravino mengeluarkan suara yang sarat dengan emosi tingkat tinggi. Dari laci di nakas samping tempat tidur, ia mengeluarkan revolver siap pakai. Pelatuknya sudah ia geser. “Kubunuh kalian semua!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD