02. Virgin

1248 Words
“Aku mohon… tolong berhenti,” suara Ivy pecah di antara napas yang terengah. Tangannya yang kecil mencoba mendorong d**a lelaki itu namun sia-sia. Tubuh Bravino terlalu besar untuk dia lawan, pria itu benar-benar menutup seluruh ruang geraknya. Bravino mencium rambut Ivy sambil tersenyum miring, mengamati wajah Ivy dengan tatapan seduktif. Sekaligus menakutkan di waktu yang sama. Hawa panas dari tubuh Bravino membuat Ivy ikut merasakannya. Suhu tubuh lelaki itu di atas rata-rata. Sesekali Ivy bergidik saat deru nafas Bravino menerpa kulitnya. Ivy menggeleng ketakutan, namun detik berikutnya wanita itu berteriak keras saat sebuah tarikan kasar merenggut semua pelindung yang ia kenakan. Ivy merintih ketakutan dengan air mata yang kembali berlinang. “Jangan… aku mohon,” ucap Ivy, suaranya tercekat di tenggorokan. “Aku takut.” Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri saat tidak ada lagi pelindung yang menutupi tubuhnya. Berusaha menutupi, meski sebenarnya sia-sia. Bravino mengangkat wajahnya. Dengan senyuman iblis di wajahnya. “To-tolong. Ki-kita harus bicara dulu. Jangan berbuat seperti ini. Aku ….” Ivy masih terus memohon agar Bravino mau melepaskannya. Sangat tidak masuk akal bila hanya keterlambatannya mengantar pesanan lelaki itu, tapi ia malah harus berakhir dengan kehilangan mahkotanya. “Aku cuma terlambat mengantar pesanan,” Ivy mencoba bertahan pada logika yang bahkan ia sendiri tak lagi yakini. “Kita bisa bicara baik-baik. Aku akan melakukan apapun sebagai hukuman, tapi tidak begini ....” “Bicara?” Bravino tertawa pendek. “Nanti! Setelah kita selesai! Sekarang ada hal yang lebih penting yang harus kamu lakukan!” Bentakan dengan mata yang menyalang sangat tajam itu membuat nyali Ivy semakin ciut. Ia hanya bisa tetap mendorong tubuh Bravino sekuat yang ia bisa. Bravino kemudian berdiri di atas tubuh Ivy, mencoba meraih sesuatu dari laci nakas di samping tempat tidur. Sebuah benda dengan bungkusan berwarna silver dan berbentuk segi empat. Meski Ivy kolot, tapi ia tahu bila benda yang tengah Bravino jepit dengan gigi juga jari itu adalah alat kontrasepsi pria. Ivy meronta dan melawan lebih kuat lagi. Hal yang membuat Bravino melayangkan tangannya ke pipi mulus Ivy. Telinga Ivy berdenging karena tampar4n kuat itu. Membuatnya sedikit pusing dan ia bisa merasakan adanya rasa asin di sudut bibirnya. “Aku sudah bilang jangan bergerak dan berhenti melawan! Sekali aku mau, maka kamu akan menjadi milikku sampai aku tidak lagi menginginkanmu.” Bravino bangkit dan berjalan ke arah sebuah lemari. Harusnya itu bisa jadi kesempatan untuk Ivy melarikan diri tapi setelah ditampar tadi, keberaniannya jadi merosot hingga ke titik nol. Ternyata Bravino kembali dengan sebuah tali di tangannya. Dengan cepat ia kembali berada di atas tubuh Ivy yang kini kembali berusaha menutupi tubuhnya meski sebenarnya tak menutupi apapun. “Apa lagi yang mau kamu lakukan?” tanya Ivy takut. “Kamu terlalu banyak bergerak,” jawab Bravino dingin. “Aku hanya ingin memastikan kamu tidak menyulitkan.” Ivy pasrah ketika Bravino menggunakan tali itu untuk mengikatnya. Kedua tanganya di diikat ke atas headboard. Ruang gerak yang sedikit membuatnya makin sulit melawan. Ivy menutup mata dengan air mata yang berlinang semakin banyak membasahi wajahnya saat sentuhan-sentuhan yang terasa asing itu perlahan dia rasakan. Rasa malu bercampur ngeri membuat tubuhnya kaku, pikirannya terlepas dari raganya sendiri. Dia merasa seperti benda yang dipindahkan sesuka hati, bukan manusia yang memiliki kuasa atas tubuhnya sendiri. Bravino melepaskan bibir Ivy. “Balas cium4nku, bod0h!” “A-aku tidak tahu caranya,” jawab Ivy dengan pelan. Ia benar-benar buta masalah bercinta. Jangankan itu, berpacaran saja tak pernah, saking sibuknya ia bekerja untuk melanjutkan hidup. Bravino tertawa mencemooh. “Jangan coba bercanda padaku. Tadi kamu meremehkanku lalu sekarang kamu mau membodohi aku?!” Ivy menggeleng. “Aku tidak berani membodohi kamu. Aku takut.” Kening Bravino berkerut. Ia sudah biasa berbicara dengan banyak orang. Sayangnya Bravino tak mendapatkan tanda-tanda kebohongan itu sekarang. ‘Sial4n, Jhon! Kali ini ia memberiku barang yang jelek,’ umpatnya dalam hati. Kepalang tanggung, Bravino memilih tetap melanjutkan. “Lakukan seperti apa yang aku lakukan!” Desis Bravino dengan nada penuh perintah. Pria itu mulai bergerak dan Ivy menggeliat tidak nyaman, sentuhan yang seharusnya lembut berubah menjadi belenggu. Namun, di menit demi menit selanjutnya, tubuh Ivy justru bereaksi dengan cara yang tidak seharusnya. Dan sungguh, dia membenci kenyataan bahwa tubuhnya bisa berkhianat di saat hatinya menjerit menolak. Sekuat tenaga Ivy menahan desahannya sebab tubuhnya semakin berkhianat dengan mulai menikmati apa yang dilakukan pria asing itu padanya. “Akh!” Ivy menjerit ketika ada sesuatu yang keras dan besar seperti berusaha membelah dirinya menjadi dua. Bravino mengangkat wajah, dan menatap Ivy dengan tajam. “Aku bukan mau melawan, tapi itu benar-benar sakit. Sakit sekali,” ucap Ivy takut sambil meringis. Ia takut kalau Bravino akan menyakitinya lagi. Lelaki itu lalu mundur kemudian menunduk untuk memastikan sesuatu di bawah sana. “Kamu masih perawan?” “Hah?” “Jawab aku!” “I-Iya,” jawab Ivy. “s**t! Jhon apa yang kamu inginkan dengan memberikan perempuan bod0h seperti ini?!” Bravino berhenti sesaat, menyadari jika wanita malam ini benar-benar berbeda. Tipe wanita yang tidak pernah Bravino sentuh sebelumnya. Seorang perawan. Namun, fakta itu tidak membuatnya mundur. “Aku tidak bisa berhenti seperti ini, jadi nikmati saja apa yang akan terjadi,” bisik Bravino tepat di telinga Ivy. Ivy memekik keras saat rasa sakit itu menghujamnya begitu tajam, mengoyak sesuatu yang selama ini belum pernah terjamah oleh siapa pun. Jeritannya begitu memilukan, lalu berubah menjadi isak tangis yang menyayat hati. Bravino berhenti sesaat, sementara Ivy menutup mulutnya dengan lengan, lalu menggigit lengannya untuk meredam rasa sakit yang mengoyaknya. Tak pernah terbayang sedikit pun oleh Ivy bahwa dirinya akan mengalami penghinaan sedina ini. Padahal ia hanya ingin mencari nafkah untuk adiknya, tapi mengapa ia malah bertemu Lucifer yang mengantarkannya ke jurang neraka menjijikkan. ‘Apa aku masih sanggup hidup setelah ini?’ *** Wajah wanita itu terlihat pucat dengan gurat kelelahannya, air matanya sudah mengering dengan mata yang terasa perih karena terlalu banyak menangis. Dia membekap bibirnya sambil menatap pada langit-langit kamar yang terasa begitu asing. Tubuhnya masih sama dengan anggota tubuh yang lengkap. Tapi rasanya hampa, sesuatu yang sangat penting itu telah hilang. Hilang direnggut dengan alasan yang tak ia pahami. Mengapa dirinya harus mengalami kesialan seperti ini. Dosa apa yang pernah ia lakukan di kehidupan masa lampau hingga di kehidupan ini ia harus banyak menanggung derita. Tak cukup hanya hidup pas-pasan, bahkan termasuk miskin. Harus banting tulang sedemikian rupa agar bisa bertahan hidup bersama adik semata wayangnya, dan kini ia menjadi mahluk yang kotor. Dinodai dengan sangat hina. Matanya menoleh ke samping, di sana ada lelaki yang telah merenggut paksa kehormatannya. Kini tengah tidur pulas setelah memporak-porandakan tubuh juga harga dirinya. 'Siapa dia? Kenapa dia sangat kejam? Apa dia tak punya hati?' Ivy memaki Bravino, tentu saja hanya di dalam hati. Pipinya masih sangat mengingat tamp4ran panas yang tadi lelaki itu berikan. Belum lagi betapa beringasnya Bravino menghancurkan dirinya tadi, tanpa memperdulikan isakan juga permohonan Ivy sama sekali. Lelaki egois yang hanya menginginkan kenikmatan untuk nafsunya sendiri. Ivy mencoba bergerak, tapi gumaman Bravino seketika menghentikannya. "Jangan kemana-mana, aku belum selesai! Jangan sampai aku lemparkan kamu ke anak buahku dan kamu akan lebih hancur lagi!" "Tapi aku ...." Bravino bangkit dan membuka mata. Menajamkan tatapan yang seakan ingin menusuk jantung lawan bicaranya. "Diam, atau akan aku buktikan kata-kataku tadi. Ingat, aku bukan orang yang punya hati nurani!" Akhirnya Ivy hanya bisa kembali menangis sembari menutupi wajahnya dengan bantal, sementara Bravino kini merubah posisi tidurnya jadi membelakangi Ivy. Ivy terus menangis, menangisi nasibnya yang malang, sampai jatuh tertidur karena lelah. Lelah akibat perbuatan Bravino juga takdir buruk hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD