“Kamu nggak punya wewenang pecat saya, Oliver! Saya orangnya Bu Maureen!” Pekikan nyaring Pak Anton menggelegar di seluruh penjuru lantai eksekutif, memotong kesunyian pagi yang biasanya formal. Di kiri dan kanan meja kerjanya, dua petugas keamanan berseragam hitam berdiri tegap. Tanpa ekspresi, jemari mereka gesit memasukkan map binder, plakat penghargaan, hingga bingkai foto keluarga di atas meja ke dalam sebuah kardus cokelat tebal. “Pak Anton, tolong kooperatif dan jangan buat kegaduhan,” cetus salah satu petugas keamanan seraya menggeser tumpukan dokumen ke dalam kardus. “Lepasin tangan kamu! Jangan pegang-pegang saya!” bentak Pak Anton, mencoba menepis lengan petugas itu dengan gusar. “Kalian semua cuma satpam! Nggak tahu siapa yang gaji kalian di sini?!” Para staf di kubikel lua

