“Nggak ada kesepakatan lagi, Audrey. Nggak ada sandiwara. Ini cuma saya dan kamu.” Kalimat itu meluncur pelan dari bibir Oliver, namun getarannya memantul keras di dinding d**a Audrey. Tatapan mata Oliver terkunci rapat pada manik mata Audrey, menciptakan keheningan yang sarat dengan emosi jujur. Di luar villa kayu, hujan deras masih menderu dihantam angin malam, tapi di depan perapian ini, waktu seolah berhenti berputar. Audrey menahan napas. Selimut bulu tebal yang melingkupi bahunya terasa kian hangat, namun tak sehangat jemari Oliver yang kini perlahan menangkup pipinya dengan lembut. “Pak Oliver...” bisik Audrey, suaranya hampir tenggelam oleh desis kayu terbakar. “Oliver,” potong pria itu halus, mengusapkan ibu jarinya di tulang pipi Audrey. “Di dalam ruangan ini, panggil saya Ol

