“Lepasin saya, Pak Oliver! Bapak nggak perlu pura-pura lagi di depan saya!” Suara Audrey melengking menembus tirai hujan deras yang mengguyur trotoar depan hotel. Air hujan membasahi gaun dan rambutnya hingga lepek melekat di kulit. Ketika jemari Oliver menyambar bahunya dengan tegas, Audrey memutar tubuhnya kasar, berusaha menghempaskan cengkeraman pria itu. “Audrey, dengarkan saya dulu!” teriak Oliver, suaranya parau bertarung dengan deru angin malam. Kemeja putih mewahnya sudah basah kuyup, menempel ketat di dadanya. “Kamu salah paham! Semua yang kamu lihat di dalam itu tidak seperti bayangan kamu!” “Salah paham gimana lagi, Pak?” Audrey tertawa sumbang, seulas tawa getir yang dipaksa keluar di tengah gigil tubuhnya. Air mata yang meleleh di pipinya bersatu tanpa beda dengan rintik h

