Malam harinya, Diandra pulang ke rumah untuk menemani putri bungsunya tidur sebab sang putri tidak mau diajak menginap di rumah sakit.
Kini di rumah sakit hanya ada Abian dan Satria saja.
"Bie, apa nggak sebaiknya kita hubungi Kak Felix? Dia berhak tahu soal ini!" pinta Audrey seraya menatap Abian dengan tatapan sendu.
"Aku sudah menghubunginya namun ia nggak peduli dan bilang sedang sibuk kerja!" jawab Abian seraya menatap istrinya dengan tatapan sendu.
"Ternyata fitnah bisa menghancurkan segalanya dan ternyata benar bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan!" ucap Audrey seraya menarik nafasnya.
"Drey, maafkan aku karena malam ini aku nggak akan menemanimu di sini!" Abian meminta maaf sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa? Kamu mau ke mana?" tanya Satria pada putranya.
"Pa, Bie minta tolong sama papa untuk menjaga Audrey di sini karena Bie akan melaksanakan tugas negara, tugas mendadak ini sangatlah penting! Dan papa tentu tahu bahwa seorang prajurit nggak boleh menolak tugas," jawab Abian seraya mengangkat kepalanya dan menatap Satria dengan tatapan sendu.
"Oh, jadi itu alasannya? Baiklah, papa akan di sini menjaga istrimu," ucap Satria.
"Terima kasih, Pa!" jawab Abian yang kemudian segera pergi ke arah tas ranselnya untuk mengambil seragam loreng miliknya.
Di menit berikutnya, Audrey sudah tertidur pulas di atas brankar rumah sakitnya.
Sementara Satria duduk bermain ponsel di sofa yang berada dalam ruangan itu.
Ponsel Satria berdering ketika baru saja pria itu meletakkan ponselnya ke atas meja.
"Halo?" ucap Satria.
"Selamat malam, Mayor. Em ... malam ini ada kegiatan—"
"Oh, saya lupa. Baiklah, bawa semua anggota ke RS C***a!" titah Satria pada bawahannya.
"Siap, Mayor!" jawab bawahannya dari seberang teleponnya.
Satu jam setelah itu, tiga orang tentara pria dan dua orang tentara wanita tiba di rumah sakit dan langsung menemui Satria di ruang rawat inap Audrey.
Mereka semua kini sudah duduk di sofa untuk membicarakan soal tugas negara.
Namun kehadiran mereka justru membuat Audrey terganggu, Audrey terjaga dalam tidurnya kala ia mendengar suara banyak orang.
"Drey, ada apa? Tidurlah yang nyenyak agar cepat sembuh!" ucap Satria setelah melihat pergerakan dari Audrey.
"Ada apa, Pa? Mengapa banyak orang di sini?" tanya Audrey pada papanya.
"Ada hal penting, tapi tenang saja, Drey! Sebaiknya kamu kembali tidur saja!" Satria meminta menantunya untuk kembali tidur.
"Tenang! Papa nggak akan pergi, papa akan tetap di sini sampai Bie pulang!" lanjut Satria.
"Baik, Pa!" jawab Audrey yang kemudian kembali menutup kedua matanya.
Namun, wanita itu kembali membuka kedua matanya kala mendengar suara pintu terbuka.
"Drey!" Panggilan seorang pria dari depan pintu membuat Audrey dan semuanya menatap ke arah pintu.
"Nicho?" ucap Satria setelah melihat pria muda yang tak lain adalah kakak kandung Audrey tersebut.
Nicho berjalan ke arah Audrey dengan tatapan sendu, Satria pun menghentikan pembicaraannya dan memutuskan untuk pergi ke arah brankar.
"Drey, kakak ingin minta maaf atas semua perbuatan jahat kakak padamu?" ucap Nicho sambil menundukkan kepalanya.
Audrey terkejut kala melihat kakak kandungnya berubah sikap menjadi baik, lembut dan sepertinya sudah menyayanginya.
"Kak Nicho mengapa tiba-tiba menjadi baik dan meminta maaf pada Drey?" tanya Audrey yang merasa penasaran akan hal itu.
"Karena Kak Nicho sudah sadar bahwa kakak salah dan sudah sangat dzolim padamu!" jawab Nicho seraya menatap adiknya dengan tatapan sendu.
"Drey nggak pernah membenci Kak Nicho sebab kakak adalah saudara Drey!" ucap Audrey sambil tersenyum.
"Terima kasih, Drey!" jawab Nicho seraya memeluk adiknya sambil menangis.
"Sama-sama, Kak. Drey sangat bahagia sebab kakak sudah berubah," ucap Audrey sambil mengeluarkan air matanya.
Beberapa saat kemudian, Nicho melepaskan pelukannya dan berbicara pada Satria.
"Om, sepertinya om sedang sibuk dengan tugas negara. Jadi, biarkan saya yang menjaga Audrey di sini!" pinta Nicho pada Satria.
"Em ... nggak usah, saya khawatir—"
"Apa om curiga pada saya?" tanya Nicho seraya memotong ucapan Satria.
"Saya hanya mengkhawatirkan kondisi menantu saya!" jawab Satria.
"Saya kakak kandungnya dan saya sudah menyesali semua kesalahan saya, jadi tolong izinkan saya menebus kesalahan saya dengan cara merawat Audrey!" Nicho memohon dengan penuh harap pada Satria.
"Maafkan saya, saya nggak bisa memenuhi permintaanmu, Nicho!" tolak Satria.
"Pa, biarkan Kak Nicho menjaga Drey sebab Drey juga ingin merasakan kasih sayang dari kakak Drey!" pinta Audrey pada Satria.
Satria menghela nafasnya dan kemudian memenuhi permintaan Audrey sebab ia melihat Audrey sangat ingin bersama dengan saudaranya.
"Baiklah! Jika begitu papa akan ke markas untuk menyelesaikan pekerjaan papa!" jawab Satria yang akhirnya mengizinkan sebab kehadiran para bawahannya mungkin bisa menganggu ketenangan Audrey untuk istirahat.
"Nicho, saya percayakan menantu saya padamu! Tolong jaga dia dengan baik!" lanjut Satria.
"Baik, Om!" jawab Nicho sambil tersenyum.
"Kalian semua, mari ke markas!" titah Satria pada semua bawahannya.
"Siap, Mayor!" jawab semua anggota TNI AD yang ada di sana.
Mereka semua pun akhirnya pergi dari sana, setelah kepergian semua orang, Nicho menutup pintu ruang rawat inap Audrey.
"Kak Nicho mau tidur? Tidur di sofa saja, Kak!" ucap Audrey sambil tersenyum dan melihat Nicho yang masih membelakanginya.
"Enggak perlu!" tolak Nicho seraya berbalik dan menatap Audrey dengan sebuah senyuman.
Senyuman Nicho membuat Audrey bergidik ngeri sebab itu bukan senyuman bahagia atau kasih sayang.
"Kak?" panggil Audrey.
"Apa kamu pikir semudah itu menyayangimu dan melupakan segalanya?" tanya Nicho seraya menyeka sisa air matanya secara halus.
"Ternyata gampang sekali menipu dirimu ya?" lanjut Nicho.
Hancur sudah, hati Audrey kembali hancur kala sang kakak hanya memberinya harapan palsu, wanita itu tadinya sudah merasa sangat bahagia namun kini ia sangat sedih dan takut.
"Apa maksudnya ini, Kak?" tanya Audrey dengan mata yang berair kala hatinya terasa sangat sakit.
"Kamu lemah secara emosional, Drey! Mangkanya, kamu mudah ditipu dengan air mata dan simpati," jawab Nicho sambil tersenyum dan berdiri di samping wanita hamil yang terbaring di atas brankar rumah sakit.
"Apa mau kakak?" tanya Audrey dengan air mata yang mengalir membasahi kedua pipi mulusnya.
"Kepergianmu!" jawab Nicho sambil mengeluarkan satu buah alat suntik yang telah diisi oleh cairan.
"Tapi mengapa? Bukankah Drey sudah menandatangani surat itu?" tanya Audrey sambil menangis.
"Iya, tapi pengacara bunda bilang kalau uang hasil penjualan harus dibagi rata dan aku nggak mau uang itu dibagi denganmu!" jawab Nicho dengan nada tinggi.
"Ambil saja uangnya, Drey nggak akan mengambilnya!" ucap Audrey.
"Enggak bisa segampang itu dan jalan satu-satunya adalah kepergianmu! Jika kamu tiada maka masalah ini akan selesai!" jawab Nicho.
"Kak, tolong jangan mencelakai Drey! Drey sedang hamil, Kak! Dan jika terjadi sesuatu pada Drey maka anak ini juga akan kena!" Audrey memohon agar Nicho tidak mencelakainya.
"Racun ini akan membuatmu nggak bisa bergerak dan berbicara selama tiga puluh menit dan setelah itu kamu akan pergi untuk selama-lamanya! Selamat menderita dalam diam adik kecilku!" ucap Nicho sambil tersenyum miring.
"Kak, Drey mohon jangan lakukan itu!" Audrey memohon dengan air mata yang tak henti-hentinya menetes.
Nicho tersenyum dan kemudian membuka penutup jarum dan lantas mendekat ke arah Audrey.
"Kak, Drey mohon jangan!" pinta Audrey seraya menatap wajah Nicho dengan nanar.
Nicho tidak memperdulikan permintaan dan permohonan Audrey, yang ada di hatinya saat ini adalah uang dan uang. Pria itu bahkan rela menukarkan hidup adiknya dengan uang.
"Selamat tinggal Audrey!" ucap Nicho yang kemudian hendak menyuntik Audrey, namun jarum itu berhenti di atas tangan lengan Audrey, entah apa mau Nicho saat ini.