Episode 1

1004 Words
Seorang gadis berlari terengah - engah menelusuri hutan tanpa arah. Kegelapan malam yang mencekam membuatnya ketakutan. Namun, dia terus berlari tiada henti. Suara - suara aneh memanggil dirinya. Seakan ingin menelannya hidup - hidup. Pohon di sekeliling tertawa melihat gadis itu dalam ketakutan yang mendalam.  Tawanya membuat bulu roma meremang. Tidak ada lagi tempat untuknya saat ini. Jika dia berhenti, maka mati adalah takdirnya. Untuk mengubah itu, maka sang gadis harus berjuang keras.  "Laura," panggil seseorang tidak berwujud. Namanya tetap dipanggil sampai gadis yang bernama Laura itu teriak ketakutan.  "Hihihihi." Suara tawa yang membuat tubuhnya membeku. Ditambah hembusan angin kuat. "Tolong…, jangan menggangguku." Tubuhnya lemas seiring dengan tawa seseorang perempuan. Ranting pohon bergerak mendekat. Laura berteriak keras.  "Aaaaaaaaa!" teriak Laura bangun dari tidurnya. Ia mengusap peluh yang menetes sambil terengah - engah. Diambilnya nafas panjang lalu dibuangnya berulang kali. Mimpi buruk yang sudah seminggu selalu menghantui tidurnya. Dia sangat frustasi karena mimpi itu.  "Untung hanya mimpi." Nafas laura masih memburu. Ia menatap jam weker yang ada di atas nakas.  "Sial, karena mimpi itu aku jadi seperti orang terlambat," ujar Laura sambil menyibakkan selimut. Gadis itu berjalan menuju kamar mandi membasuh kasar mukanya. Ia masih ingat betul dengan kondisi hutan yang menyeramkan. Mimpi yang terus terulang - ulang di tempat sama. Pertanda apakah itu? Sungguh membuat Laura membenci hal yang berbau horor.  Gadis itu membuka seluruh pakaian lalu mandi dengan mengguyur seluruh badannya. Sebentar lagi, usianya menginjak dua puluh tahun. Namun, sampai saat ini kehidupannya tidak berubah. Kekayaan berlimpah ruah tanpa orang tua.  "Cih, memikirkan itu membuatku kesal." Seharusnya, Laura mendapatkan kasih sayang orang tua. Tapi, nyatanya kedua orang tuanya memilih mengabdi ke gereja meninggalkan duniawi.  "Apa mereka tidak memikirkan aku?" Laura mengambil kimono lalu berjalan keluar dari kamar. Matanya menangkap sosok yang dikenal.  "Lama sekali," katanya sambil memainkan ponsel. Laura mendengus kesal. "Aku harus mendinginkan kepalaku karena mimpi itu."  "Kau masih bermimpi buruk? Pergilah ke dokter." Laura hanya diam dan membuka lemari mengambil baju untuk dipakai.  "Jika kau terus seperti ini? Kau bisa gila, Laura." Gadis itu memasukkan ponsel di tas. Ia menatap Laura dengan senyum yang amat manis.  "Jangan tersenyum padaku, Amber." Laura menutup lemari dengan kasar. Dia membuang kimononya di atas ranjang.  Amber berbaring di ranjang menatap langit kamar. "Apartemenmu ini, kenapa tidak kau jual? Semenjak kau tinggal di sini, kau jadi mimpi buruk." Semua perkataan gadis itu benar adanya. Semenjak dia tinggal di tempat ini, Laura selalu mimpi buruk. Gadis itu selesai memakai baju. Dia berjalan ke arah balkon lalu membuka tirai. "Mungkin, apartemen ini berhantu." Amber langsung bangkit dari ranjang. "Jangan bercanda!" teriaknya.  "Coba kau pikir dengan jernih. Aku mimpi buruk setelah tinggal di sini." Tapi, aku masih belum percaya dengan hantu, imbuhnya di dalam hati.  Laura menatap kertas yang ada di atas meja. Ia menemukan kertas itu di perpustakaan universitas tempatnya menuntut ilmu.  "Jangan - jangan, sumbernya adalah itu?" tunjuk Laura mengarah pada kertas yang ada gambarnya di atas nakas. Mata Amber langsung tertuju di sana. Ia mengambil sobekan kertas itu lalu membacanya. "Raja Hantu." Mendadak, hembusan angin kuat datang ke arah mereka. Suasana menjadi hening dalam kesunyian.  "Kau harus mengembalikan kertas ini ke tempat semula!" titah Amber sambil menyambar tas. Laura mengikat rambutnya lalu merebut kertas itu lalu mengamatinya.  Flashback On Laura mempercepat langkah kakinya. Dia harus menyelesaikan tugas dari Madam Ananta. Jika saja dia mengerjakan lebih awal, pasti tidak akan terjadi hal seperti ini. Madam Ananta terkenal sangat disiplin dan tidak pandang bulu. "Sialan, semua ini karena Amber." Semua kekesalannya di tuangkan dengan ke nama Amber. Padahal, dia sendiri yang salah karena memilih merayakan kepindahannya dengan minum minum di club. Hasilnya, dia harus bangun kesiangan. Mana di club bertemu dengan Antonio and the genk. Sungguh membuat Laura semakin malu karena ketahuan ke club.  "Lupakan, sekarang aku harus ke perpustakaan." Gadis itu berlari secepat kilat menuju ke perpustakaan. Teriakan Amber yang memanggilnya tidak didengar. Dia terus lari menerobos orang yang berjalan berlawanan arah.  Sampai di perpustakaan, Laura langsung duduk menaruh tasnya. Ia mengambil nafas sedalam - dalamnya. Menghirup dengan rakus seakan tidak ada hari esok. Setelah nafasnya normal, gadis itu berjalan mengelilingi rak buku mencari bahan materi untuk besok.  Mata Laura di pertajam untuk mencari buku yang dicari. Ketika menemukan buku itu, dia melihat kertas yang jatuh di lantai. Gadis itu pun meraih kertas itu lalu melihatnya  "Raja Hantu." Kertas itu merupakan gambar orang tertutup jubah hitam dan wajahnya tidak terlihat. Ketika membaca tulisan yang ada di bawah gambar itu. Hembusan angin menerpa dirinya. "Kenapa aku merasa dingin?" ujar Laura sambil melipat kertas itu lalu memasukkan ke dalam saku. Gadis itu berjalan menuju bangku yang ada tasnya.  Laura membuka buku itu. Ia menghela nafas panjang lalu melihat sekelilingnya. Tidak biasanya perpustakaan terlihat sepi. Mata cantiknya itu menoleh ke arah pustakawan. Ada yang aneh dengannya, karena seperti orang yang tidak punya aura kehidupan.  "Aku merinding," gumam Laura mengalihkan pandangannya. Tidak lama kemudian, ada seorang pria duduk di depannya. Gadis itu tersentak kaget melihatnya. Wajar saja, wajah pria itu pucat seperti mayat hidup. Senyum meremehkan jelas berada di kedua bibirnya. Pria itu terkekeh menyeramkan.  Tubuh Laura menegang, pustakawan yang ada di tempatnya dengan cepat berada di samping tempat dia duduk. Sontak Laura berteriak keras.  Mata indah itu terbuka sempurna karena tepukan dari seseorang.  "Hanya mimpi," gumam didengar oleh seseorang.  "Dilarang berteriak, Nona," tegur Pustakawan itu. Laura mengangguk lalu menghela nafas panjang. Sejak kapan dirinya tertidur? Sial, apa karena efek mabuk membuatnya berhalusinasi?  Flashback Off Laura masih mengingat betul kejadian itu. Ia bermimpi padahal tidak sedang tidur. Mungkinkah semua berhubungan dengan gambar Raja hantu itu. Hanya sebuah kertas yang berisi gambar saja membuatnya terpengaruh secara fisik dan psikis. Laura melipat kertas itu lalu memasukkan ke dalam tas. Ia menoleh ke arah Amber yang sedang bersenandung ria. "Ada apa?" tanya Amber sambil menatap Laura.  "Kita berangkat sekarang. Ke perpustakaan dulu," Laura berjalan mendahului Amber berjalan ke luar ruangan.  "Kau yakin akan ke perpustakaan. Kalau buku itu tidak ada bagaimana?" tanya Amber.  "Aku tidak bisa terus seperti ini. Kalau aku tidak mencari buku itu. Pasti aku akan mimpi buruk seumur hidupku." Laura sebenarnya tidak yakin dengan semua yang dipikirkannya. Mungkin, mengembalikan halaman judul itu hidupnya akan normal seperti dulu. Tentunya tanpa mimpi buruk.  "Aku akan membantumu mencari buku itu," ucap Amber sambil merangkul bahu Laura. Mereka berdua berjalan masuk mobil menuju ke Universitas XX. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD