Amber sudah diambang batasnya ketika meraba perih di pipi. Dan ada noda darah di sana. Dengan keras, gadis itu memukul kepala Laura karena berani melukai pipi mulus miliknya. Laura hanya diam meringis kesakitan. Ekor matanya melirik Antonio yang masih diam mematung di samping Amber. "Apakah kau baik - baik saja?" tanya Laura dengan perasaan bersalah. "Oke, aku minta maaf. Aku terpaksa melakukan hal ini. Kalian terhipnotis, jadi tidak ada pilihan lain. Padahal, aku sudah mencubit pipi kalian sampai merah. Tidak ada perubahan sama sekali," jelasnya panjang lebar sambil merapikan anak rambutnya. "Maafkan aku," celetuk Antonio. Pria itu berpikir bahwa Laura marah padanya. Pikiran - pikiran negatif yang bersarang tadi sudah menghilang sepenuhnya. "Seharusnya, aku yang minta maaf," ucap

