Permintaan Terahir

2512 Words
" Jika ujian sekuat batu yakinlah hanya butuh tetesan air untuk melubanginya" **** Disinilah Azil ,sedang bersama dengan kedua orang tuanya dan tentu saja dengan adik kesayangannya sedang menunggu dokter yang tengah memeriksa keadaan Opa Azil. Tak lama terdengarlah suara pintu di buka. Clekkk Pintu terbuka. "keluarga dari bapak Tamrin," ucap dokter sembari keluar dari balik pintu. "Kami keluarganya dokter," ucap Papa Azil sembari berdiri dari duduknya dan di ikuti anggota yang lain. "Begini penyakit maag kronis dari pak Tamrin sudah sangat parah ,peluang untuk sembuh-pun sangat tipis," ucap sang dokter sembari memandang sendu keluarga yang ada di hadapannya. "Tapi Opa  masih bisa sembuhkan dok ?, bisakah kan?," Tanya Azil dengan suara yang mulai bergetar. "Kita berdoa saja ,semoga bapak Tamrin kuat," ujar sang dokter. "Tolong lakukan yang terbaik dok," ucap Papa Azil. "Kami usahakan." "Kita boleh masuk kan dok?," tanya Azil. "Tentu,silahkan." "Trimakasih dok," ucap Papa Azil sembari berjabat tangan sang dokter. Ahirnya semua pun masuk keruangan , Azil yang sudah menahan tangisannya-pun ,langsung pecah saat melihat Opanya terbaring lemah dia atas brangkar rumah sakit, dengan wajah yang sangat pucat. Azil memang sangat menyayangi Opanya ,terlebih lagi hanya tinggal opanya lah yang masih ada. Dengan perlahan Azil pun mendekat ke arah brangkar,dengan terus berusaha menahan tangisannya. "Opa," panggil Azil lirih. "Enghh ... prinses Opa udah sampai," ucap Opa lirih. "Opaaaaa," panggil Azil langsung berhambur kepelukan Opanya "Opa Azil kangen Opa hiks .." "Hustt prinsesnya Opa jangan nangis lagi ya ,Opa enggak apa apa kok." "Hiks Opa harus sembuh hiks ..." "Iya ,Opa pasti sembuh kok, prinsesnya Opa jangan nangis dong ,masak Azilnya Opa cengeng," ucap Opa sembari tersenyum lemas. "Iya ,tapi janji ya kalo Opa bakal sembuh, nanti kita main lagi ke danau, mancing sama sama terus jailin Nova lagi ya Opa ya," ucap Azil sembari mengusap air matanya. "Iya ,nanti kalo Opa udah sembuh kita main lagi, terus ceburin adik kamu ke danau lagi hehe," canda Opa mencairkan suasana. "Yah Opa,masa Nova mulu yang di bully sekali kali kak Azil kek." "Wlekkk kasihan deh kita bully dia Opa hahah," ledek Azil. "Mama bantuin Nova dong," ucap Nova sembari bergelayut manja di lengan Mamanya. "Kok Mama, Papa kamu aja tuh," tujuk Mama Fira pada sang suami yang melihat dengan tatapan heran pada sang putra yang bertingkah tak seperti biasa. "Kok Papa." "Ah enggak asik, Nova di bully sendirian," rengek Nova seperti anak kecil dan hanya di sambut kekehan dari semuanya. "Opa, Azil sayang sama Opa. Opa jangan sakit lagi ya," ucap Azil sembari memeluk sang Opa. "Iya prisesnya Opa." "Kakak, adek bisa tolong Mama nggak?, Mama mau ke depan cari makanan tapi Mama harus nebus obat Opa, kalian mau kan bantuin Mama?." "Iya dong ma, yuk dek kita cari makan.opa Azil pergi dulu ya nggak lama kok," pamit Azil pada sang Opa. "Iya hati hati ya." Setelah pamit ,ahirnya Azil dan Nova pun pergi untuk mencari makan. Opa, Mama dan Papa yang masih di dalam ruangan. "Pram .." panggil opa lemas. "Iya pa." "Papa cuma mau minta tolong ,kamu bisa kan?." "Insyaallah bisa pa." "Tolong kamu panggili Hermawan suruh datang kesini." "Untuk apa pah?." "Ini perihal janji papah dulu, kamu tau kan?." "Tapi pa, mereka kan masih sma apa enggak terlalu cepat?." "Ini waktu yang pas Pram, Papa enggak tau sampai kapan Papa hidup, dan seandainya Papa pergi ,Papa udah tenang," jelas opa dengan tatapan sayunya. "Papa jangan ngomong begitu, papa pasti pulih." "Iya ,tapi rencana tuhan tidak ada yang tahu kan." "Oke kalo itu kemauan papa, Pram bakal bawa anak dari om Mawan ke sini malam ini juga dan secepetnya bakal Pram urus semuanya." "Makasih ya Pram." "Iya pah, kalau gitu Pram pergi dulu, kalo anak anak tanya bilang aja Pram lagi ada urusan kantor, papa istirahat aja jangan banyak fikiran." "Iya." "Mah titip papa ya," ucap Papa Azil. "Iya mas." "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." **** Jadi sebelumnya banyak teman dari Azil yang datang menjenguk Opa dirumah sakit, tapi entah mengapa Iqbaal tidak jadi ikut karna ada keperluan keluarga yang tidak bisa tinggal di rumah. Setelah azan magrib, semuanya memutuskan untuk pulang menyisakan Azil, Nova dan Mama Fira, dan Opa yang sedang tidur dengan lelap. Posisinya sekarang, Azil sedang tiduran di sofa berbantalkan paha Nova yang duduk di sofa dengan hp di tangannya, dan Mama Fira sedang duduk di sebelah brangkar Opa. "Kak," panggil Nova. "Apa," sahut Azil singkat. "Tadi kakak di tembak kak Iqbaal lagi ya?," tanya Nova penasaran. "Heh tau dari mana lo, lo ngintilin gw ya," dengus Azil saat mengingat kejadian siang tadi. “Yeh ,siapa juga yang ngintilin, orang tadi gw lagi jalan jalan eh pas lewat taman ada kakak sama kak Iqbaal, ya gw deketin lah eh taunya kak Iqbaal ngajak balikan lagi hahaha,” jelas Nova di iringi tawanya. "k*****t lo dek," ucap Azil sembari menampol mulut Nova. "Sakit tau kak," ringis Nova sembari mengusap mulutnya yang kena tampol dari sang kakak. "Bodokkk." Saat tengah asik bercanda, tiba tiba terdengar orang mengetuk pintu dan muncullah sebuah keluarga yang ia kenali,dengan cepat Azil langsung beridiri dan mencium tangan orang tersebut. "Assalamualikum." "Waalaikumsalam," ucap semua orang bersama. "Loh Harry, Rike kalian," ucap Mama Fira kaget. "Iya Fir, kita kemari karna permintaan Pram dan kami sekeluarga juga sudah tau tentang rencana pak Tamrin untuk memajukan janji pak Tamrin dengan ayah saya," ucap om Harry. "Hem, kalo begitu duduk dulu Papa lagi tidur mungkin sebentar lagi bangun. o iya Azil, Nova kenalkan ini om Harry sama tante Rike anak dari temen Opa ,teman Mama sama Papa juga," ucap Mama Fira. "Assalamualikum bunda, ayah," salam Azil sembari mencium punggung tangan Herry dan Rike, ia-pun sudah biasa memanggil mereka dengan sebutan Ayah dan Bunda. "Waalaikumsalam sayang, gimana kabarnya udah lama enggak main ke rumah," ucap bunda Rike sembari duduk di sofa bersama ayah Harry. "O jadi kalian sudah saling kenal," ucap mama Fira. "Iya mah, meraka ayah sama bundanya Iqbaal," jelas Azil dan di jawab senyum oleh mama Fira. "Kalo ini adik kamu nak?." "Eh iya bun namanya Nova, Nov sana salim," ucap Azil sembari menyikut perut Nova pelan. "Eh iya tante aku Nova adiknya kak Azil hehe." "Em ganteng ya tapi sayang anak cewek tante udah kuliah enggak cocok sama kamu," jelas bunda Rike. "Heheh iya tante," ucap Nova kikuk. "Gimana Fir meraka sudah tau ?, soalnya anak kita sudah tau semua soal perjanjian itu, tapi kayaknya kita bakal tuker anak," tanya ayah Harry. "Janji apa ma?." tanya Azil kepada sang Mama. "Ada lah, mereka belum tau. mungkin biar mas Pram aja yang kasih tau, ngomong ngomong anak kalian kemana?." tanya Mama Fira setelah menyadarai tidak ada yang datang bersama mereka. "Mereka ada di resto depan rumah sakit katanya laper," jawab bunda Rike. "Oo jadi kayaknya kalian bakal ngasih anak cowok ya," kekeh Mama Fira. "Iya lah," kekeh ayah Herry. Nova dan Azil hanya bisa saling melihat dan tidak tau apa yang sedang di bahas oleh para orang tua ini. Tak lama datanglah Pak Pram membawa beberapa orang di antara mereka terlihat seperti pegawai pemerintah dan beberapa orang membawa baju koko, setelah Pak Pram datang lah anak bunda dan ayah Harry. Ahirnya semua sudah sampai dan Opa Tamrin pun sudah bangun, tapi entah mengapa setelah sadar,tiba tiba tubuhnya ngedrop lagi ahirnya semua pun kalang kabut ,dengan cepat mereka pun memanggil dokter. Setelah beberapa menit berlalu, ahirnya dokter memberi tahu bahwa Pak Tamrin mengalami kritis. Setelah mendapat izin dari dokter semua orang pun masuk ke ruang rawat pak Tamrin, Azil yang melihat kedaan sang opa pun jatuh pingsan di pelukan adiknya. Ahirnya mereka pun berdiri mengitari pak Tamrin yang tergulai lemas di brangkarnya. "Opa ..." lirih Azil sembari menangis sesegukan di pelukan mama Fira. "Prik-prinses opa jak- jangan nangis dong." lirih Opa terbata bata. "Opa ....." panggil Azil sembari memeluk opa. "Shuss jangan nangis ya, opa ada permintaan buat Azil, Azil maukan wujutin permintaan opa," tanya opa dan hanya di jawab anggukan kepala oleh Azil. "Opa pernah kan cerita tentang janji sama sahabat opa." "Iya." "Opa mau nepatin janji yang sudah lama opa buat, Azil maukan bantuin opa?." "Iya opa." "Janji enggak akan marah." "Iya opa, Azil Janji." "Opa mau kamu menikah sama cucunya temen opa." Seperti tersambar petir tubuh Azil kaku mematung mendengar apa yang baru di sampaikan oleh opanya "Enggak, kakak enggak boleh menikah, biar Nova aja yang wujutin janji opa," sergah Nova setelah melihat wajah shok sang kakak. "Nova jangan aneh aneh," ucap pak Pram. "Nova yang akan menikah, kak Azil enggak perlu menikah biar Nova aja yang gantiin posisi kak Azil," ucap Nova mantap tanpa keraguan sedikit-pun. "Nova kamu masih kecil nak," ucap mama Fira. "Memangnya kenapa ma, kak Azil juga masih kecil apa bedanya, biar Nova aja." "Nova ..." ucapa papa terpotong "Dek kakak enggak papa, oke Azil setuju menikah dengan cucu temen opa," ucap Azil setelah berfikir begitu keras. "Tapi kak." "Udah dek, kakak enggak apa apa." "Jadi Herry, siapa anak kamu yang akan kita pasangkan," tanya papa Azil. "Anak saya yang no 2 Iqbaal, Iqbaal kamu siap," tanya ayah Harry pada Iqbaal yang sedari tadi hanya diam menyimak. "Insyaallah siap yah," jawab Iqbaal mantap. "Kalo begitu kita bisa mulai sekarang, mari pak penghulu," ucap papa Azil mempersilahkan pak penghulu. Semua orang pun duduk di bawah beralaskan tikar yang di beri meja di tengah. Iqbaal dan Azil-pun duduk bersampingan di depan meja yang sudah siapkan. "Kalo begitu kita mulai," ajak sang penghulu. "Ya." "Kalo begitu nak Iqbaal jabat tangan saya dan ikuti apa yang saya ucapkan mengerti." "Siap," ucap Iqbaal sebari menjabat tangan sang penghulu. "Bismillahhirrohma nirrohim ,saudara Iqbaal Dhiafahkri saya nikahkan saudara dengan Azilia Pramudha binti Pramudha dengan mas kawin seprangkat alat sholat dan uang 20 juta di bayar tunai." "Saya trima nikahnya Azilia Pramudha binti Pramudha dengan mas kawin tersebut di bayar tunai," ucap Iqbaal dengan satu tarikan nafas. "Bagaimana semuanya sah." "Sahh." "Alhamdhulillah." Setelah ijab qobul Iqbaal dan Azil pun saling memasangkan cincin di jari manis dan di ahiri Azil yang mencium tangan Iqbaal dan Iqbaal yang mencium kening Azil. Tak berapa lama tedengar bip panjang dari deteksi jantung  alhasil semua langsung lari menuju brangkar dan tak lama datanglah dokter dengan berat hati dokter memberi tahukan bahwa opa Tamrin sudah berpulang ke rahmatullah, semua orang yang ada di sana pun tidak bisa membendung airmatanya. Mendengar hal itu Azil yang berada di pelukan Iqbaal langsung jatuh pingsan, dengan di bantu Nova Iqbaal membawa Azil menuju mobilnya untuk menuju ke rumah kediaman Pramudha karena akan segera di lakukan pemakaman. Lewati pemakaman Hanya ada Iqbaal dan Azil yang berada di tempat peristirahatan terahir opa Tamrin. "Opa ... hiks kalo tau itu akan jadi permintaan opa yang terahir, Azil akan tolak biar opa masih di sini sama Azil," isak Azil sembari memeluk nisan sang Opa. "Azil pulang yuk, udah mau hujan," ajak Iqbaal lembut sembari membelai rambut Azil. "Sebentar lagi Baal, gw masih mau sama opa," ucap Azil lirih. "Hah, kalo gitu keluarin semua beban lo keluarin semua, gw siap jadi sandaran lo Zil," ucap Iqbaal sembari menarik tubuh Azil ke dalam pelukannya, tak lama terdengarlah isakan yang menyayat hati Iqbaal saat ini. "Kanapa opa jahat Baal, opa udah janji sama gw kalo dia bakalan pulih, dia  udah janji sama gw, tapi opa malah ninggalin gw selamanya Baal hiks," isak Azil sembari memukul d**a Iqbaal. "Zil, elo harus ikhlas sekarang opa lo udah nggak akan ngrasain sakit lagi di  sana, apa lo enggak mau opa lo pergi dengan tenang, kita udah berusaha lakuin yang terbaik buat almarhum," ucap Iqbaal mencoba menguatkan Azil. "Iya Baal," jawab Azil mebuat tangisannya mulai mereda. "Oke sekarang hapus air mata lo, ikhlasin kepergian beliau ke doain almarhum di tempatkan yang terbaik," ucap Iqbaal sembari beli air mata di pipi Azil. "Iya makasih ya Baa,l" ucap Azil "Iya sama sama, sekarang kita pulang ya, lo maunya kita ke rumah lo apa ke rumah gw aja." "Kerumah gw aja baal, maaf ya Baal kalo gw masih pake kosa kata lo gw." "Nggak papa, semua perlu diproses." "Makasih ya." "Iya sama sama, yuk pulang." "Iya." **** Seminggu kemudian setelah selesai acara tujuh hari dari almarhum bapak Tamrin. Hari ini Iqbaal sengaja mengajak Azil kerumahnya untuk mengambil baju dan keperluan miliknya, ia tidak enak pada Nova kalo harus terus meminjam baju dan celananya. Hitung hitung mencari angin, dari pada Azil harus berdiam diri di kamar dengan melamun seharian. "Assalamualaikum bunda," teriak Iqbaal sembari masuk ke dalam rumah. "Waalikumsalam, eh menantu sama anak bunda," jawab Bunda Rike dari arah dapur. "Assalamualaikum bun," ucap Azil sembari mencium tangan bunda. "Waalikumsalam sayang yuk masuk, kalian mau tidur di sini." "Nggak bun, Ale kesini mau ambil baju sama peralatan sekolah kok bun," jelas Iqbaal sembari duduk di sebelah Azil. "Oo ya udah enggak apa apa, lain kali aja tidur di sini ya Azil.". "Iya bun." "Ya udah Ale ke atas dulu ya, Azil kamu mau disini apa ikut ke kamar." "Di sini aja deh Baal." "Ya udah aku ke atas dulu ya." Iqbaal pun menaiki tangga menuju kamarnya saat akan membuka pintu Iqbaal bertemu teh Ody yang baru saja keluar dari kamarnya. "Eh Ale ,sendiri apa sama Azil." "Sama Azil teh tuh lagi ngobrol sama bunda, eh teh tolong hibur Azil ya soalnya dia selalu murung sama bengong mulu di kamar, tadi aja dia juga bengong aja di mobil." "Iya gampang itu mah, teteh sama Azil kan emang udah deket, tapi cepet  kasih teteh ponakan ya." "Hah kita masih sekolah kali teh." "Siapa yang tau aja kalik le kamu ngebet." "Enggal lah, udah dulu teh Ale mau paking dulu," ucap Iqbaal sembari masuk ke kamarnya. "Ya udah teteh juga mau ke bawah dulu," ucap teh Ody sembari menuruni tangga menuju ke tempat bunda dan Azil yang sedang mengobrol. "Masa sih bun Iqbaal sampe segitunya," tanya Azil heran. "Aku bener, dia lompat lompat enggak jelas waktu ayah bilang kalo dia bakal dinikahin sama kamu hari itu juga." "Hahah segitunya," kekeh Azil sembari membayangkan kelakuan Iqbaal waktu itu. "Iya Zil, Ale malah senyum senyum sendiri di dalam mobil kayak orang gila," timpal teh Ody yang baru datang. "Haha ada ada aja teh," ucap Azil sembari tertawa kecil. "Ih beneran, lucu lagi pas waktu makan di resto depan rumah sakit, dia bilang sama teteh gini  teh gw deg degan nih mau ketemu calon istri ah udah enggak sabar teh , tapi gw udah ganteng belum jangan sampe malu maluinin nih , eh teh cubit Ale Ale enggak mimpikan   mau ketemu semestanya ale mau jadi huaaa Ale deg degan teh   hahah, "ucap teh Ody sembari memperagakan gerakan Iqbaal saat berbicara. "Eh enggak gitu banget kali teh," ucap Iqbaal yang baru turun membawa satu koper dan tas gendongnya. "Kamu emang bener gitu kalik, ngomong aja malu sama Azil kan hahah keliatan kali le." "Sudah sudah,kalian ini berantem terus, Baal jaga Azil ya, jangan sakitin dia kalian harus saling percaya satu sama lain," nasehat bunda. "Iya bun, Ale akan jaga Azil terus Ale janji," ucap Iqbaal. "ya udah ,bunda, teh aku sama Azil pergi dulu ya udah malem takut di cariin sama mama Fira," sambung Iqbaal. "Iya hati hati ya Baal Azil," ucap teh ody "Iya teh assalamualaikum," ucap Iqbaal dan Azil langsung menyalimi bunda dan teh Ody Iqbaal dan Azil pun menggunakan mobil dan mulai keluar dari pekarangan rumah dan langsung melesat ke rumah Azil. **** "Jika kamu membiarkan hidupmu sia sia berarti kamu belum sepenuhnya bersyukur" ~ erika ~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD