BAB 5

2060 Words
Matahari sudah menampakan diri. Burung-burung berkicauan menyambut datangnya pagi. Seorang wanita masih setia berada di alam mimpinya. Perlahan wanita itu membuka mata. Ia melirik ke ranjang di sebelahnya kosong. Apakah suaminya tidak pulang semalam? Wanita itu lalu menoleh ke arah jam beker yang ada di atas meja di sampingnya. Mata wanita itu langsung melotot ketika jam sudah menunjukkan pukul 07.50 WIB. Gawat, wanita itu sudah terlambat untuk ke kantor. Semalam ia lupa untuk menyetel alarmnya. Tanpa pikir panjang, Rania langsung melompat dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Ia harus buru-buru ke kantor kalau tidak pembimbing magangnya akan marah. Rania keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Ia melihat Bu Astrid sedang di meja makan, menyusun piring kotor. Sepertinya keluarganya sudah selesai sarapan pagi. Rania merasa sedih, kenapa keluarganya tidak menunggunya untuk sarapan bersama? Dan kenapa juga tidak ada yang mau membangunkannya? Padahal mereka tahu kalau Rania magang. "Mah, Rania pamit ke kantor," izin Rania pada mama mertuanya sambil mengulurkan tangan, berniat untuk menyalami tangan mamanya itu. Bu Astrid terdiam sejenak. Ia mengulurkan tangannya pada Rania lalu dengan cepat menariknya kembali. Ia tidak mau berlama-lama bersalaman dengan Rania. Sejujurnya Bu Astrid memang tidak menyukai Rania. Wanita itu berpikir kalau Rania bukan wanita baik-baik. Karena wanita itu anaknya tidak jadi menikah dengan Anisa. Rania tersenyum hambar. Sejijik itukah Bu Astrid padanya sehingga dia tidak mau berlama-lama menyentuh tangannya. Rania, pergi dulu," pamit Rania dan mulai melangkahkan kaki. "Tunggu!" panggil Bu Astrid dan membuat langkah Rania berhenti. "Fajar ke mana? Dari siang kemaren saya gak pernah lihat dia di rumah. Sepertinya semalam dia juga gak pulang." "Rania gak tahu," balas Rania. "Kamu itu istrinya. Seharusnya kamu tahu suami kamu ada di mana. Makanya, kalau suami pergi itu, tanya," omel Bu Astrid. Sudahlah, mungkin berlama-lama dengan Rania membuat dirinya kesal. Istri macam apa itu, tidak tahu suaminya sendiri ada di mana. Bu Astrid lalu membawa piring kotor menuju dapur, meninggalkan Rania yang masih berdiri ditempat. Rania mencoba untuk bersabar dan tidak memikirkan omelan Bu Astrid barusan karena itu hanya membuat hatinya sakit. Ia tahu Bu Astrid memang tidak menyukai dirinya. *** Rania buru-buru melangkah memasuki kantor dan langsung menuju ke ruang kerja. Selama perjalanan, Rania melihat orang-orang tengah menatapnya sambil berbisik dengan teman di sebelah mereka. Hal itu membuat Rania merasa tidak nyaman, ia merasa dirinyalah yang sedang dibicarakan. "Enak, ya, jadi istri bos. Datang telat pun gak masalah. Dan gak perlu turutin peraturan di perusahaan ini," sindir salah satu karyawan. Rania membulatkan mata, sepertinya sindiran itu ditujukan untuknya karena ia yang datang terlambat. Ternyata berita pernikahannya dengan Fajar begitu cepat menyebar. "Dasar pelakor!" Detik itu juga Rania langsung menoleh ke sumber suara dan melihat Elsa, salah satu karyawan di perusahan itu. Dia kini tengah menatap Rania sambil bersidekap d**a. "Siapa yang kamu maksud pelakor?" tanya Rania. "Siapa lagi kalau bukan lo," cecar Elsa. Rania langsung naik pitam, tidak terima dirinya dikatan pelakor. "Jaga, ya, mulut lo. Gue bukan pelakor!" bentak Rania membela dirinya. "Lo sama aja kaya pelakor. Walau Pak Fajar dan kekasihnya belum menikah, tetapi mereka sudah tunangan. Dan gara-gara lo rebut Pak Fajar dari kekasihnya, mereka jadi batal nikah." Orang-orang malah menyimpulkan lebih dulu tanpa tahu apa yang sebenarnya yang terjadi. Mereka menyimpulkan kalau Rania sengaja merebut Fajar dari Anisa. Bagaimana tidak berpikiran seperti itu, selama ini yang mereka tahu hubungan Fajar dan tunangannya baik-baik saja, bahkan banyak yang mengidolakan pasangan tersebut agar segera menikah. Namun, mendadak mereka mendapat kabar kalau Fajar telah menikah dengan anak magang di perusahannya sendiri. Mereka semua mulai membenci Rania dan menganggaonya perempuan licik. Orang-orang tidak tahu kalau sebenarnya Fajar lah yang bersalah karena memperk*s* Rania sehingga membuat mereka menikah. Keluarga Pak Zein dan Pak Heru memang berusaha menutup kejadian itu rapat-rapat agar tidak diketahui orang-orang karena tidak ingin membuat keluarga mereka malu. Pak Zein juga mengancam para pekerja rumahnya agar tidak menyebarkan kejadian itu pada orang-orang, kalau sampai berita itu tersebar maka Pak Zein tidak akan segan-segan untuk memecat mereka. Darah Rania langsung mendidih. Wanita itu menatap Elsa tajam, seakan-akan ingin membunuhnya. Tidak terima dirinya dikatakan pelakor, Rania mendekati Elsa dan menjambak rambutnya. "Lepasin rambut gue!" pekik Elsa, tetapi tidak dipedulikan Rania. Elsa tidak tinggal diam, ia membalas jambakan Rania hingga terjadilah aksi jambak-jambakan antara kedua wanita itu. "Hentikan!" teriak seseorang keras yang membuat Rania dan Elsa berhenti saling menjambak. "Kalian itu bukan anak-anak lagi. Apa kalian gak malu dengan kelakuan kalian?" bentak Bu Rosa---devisi pemasaran di Dirganata Company sekaligus pembimbing magang Rania. Rania dan Elsa sama-sama diam, tak berani menjawab Bu Rosa. "Rania, kamu ke ruangan saya," suruh Bu Rosa lalu berjalan lebih dulu ke ruangannya. Sebelum pergi, Rania melirik ke arah Elsa terlebih dahulu dengan tatapan mautnya. Rania kini sudah berada di ruangan Bu Rosa dan duduk berhadapan dengan pembimbing magangnya itu. "Lihat jam! Sudah jam delapan lewat 30 menit. Kamu sudah telat 30 menit. Saya tahu kamu istri bos di perusahaan ini. Walaupun begitu, tetapi ketika di kantor kamu harus profesional dan patuhi aturan di perusahaan ini walaupun kamu cuma anak magang," tegur Bu Rosa. Perusahaan tersebut memang menerapkan agar semua karyawannya disiplin. Baginya karyawan atau pun anak magang semuanya sama. "Iya, Bu. Saya minta maaf karena hari ini saya telat. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi," jawab Rania. "Kamu saya maafkan, lain kali jangan diulangi lagi. Silahkan keluar." Rania keluar dari ruangan itu dan pergi ke ruang kerja. "Pagi, Indah. Pagi Boy," sapa Rania pada kedua sahabatnya sambil mendudukkan bokongnya di kursi. "Pagi, Ran," jawab Boy. Sedangkan Indah, gadis itu hanya diam dan tak menatap Rania. Gadis itu memasang ekspresi datar ketika Rania datang. Rania bingung, ada apa dengan sahabat perempuannya itu. Namun, dirinya tidak mau ambil pusing, lebih baik ia mulai bekerja. "Boy, lo bawa power bang?" tanya Indah pada Boy. Dirinya lupa untuk mencharger HP-nya sebelum ke kantor tadi. "Gak," jawab Boy. "Charger?" tanya Indah lagi. Boy Menggeleng. "Gue bawa powerbang." Rania mengeluarkan powerbang dari tasnya lalu memberikannya pada Indah. "Gak perlu. Gue gak mau minjem apa pun dari lo," ketus Indah yang sontak membuat Rania bingung. Baru kali ini Indah bicara seketus itu padanya. Sedangkan Boy, ia juga ikut terkejut. Dirinya tahu kenapa Indah bersikap seperti itu pada Rania. "Lo kenapa, sih, Ndah? Dari tadi gue perhatiin lo kayak lagi marah gitu sama gue? Gue salah apa?" tanya Rania. Indah hanya diam dan bersikap tak peduli. Dirinya berpura-pura tidak mendengar Rania. Rania berdiri lalu menarik Indah menuju ke toilet. Ia ingin bicara berdua dengan sahabatnya itu. "Lepasin tangan gue!" tegas Indah. Namun, tak dihiraukan oleh Rania. Sesampainya di toilet Rania baru melepas tangan sahabatnya itu. "Lo marah sama gue? Gue buat kesalahan apa?" tanya Rania. "Ya. Gue marah dan kecewa sama lo. Sebenarnya gue, lo anggap sahabat gak, sih? Lo nikah tapi gak beritahu gue. Dan gue juga gak nyangka, padahal lo tahu Pak Fajar udah punya tunangan, tetapi kenapa lo malah nikah sama Pak Fajar. Apa lo gak mikirin nasib tunangannya gimana?" Indah berbicara keras. Mata gadis itu berkaca-kaca. Ia tidak percaya jika sahabatnya sejahat itu. Rania terdiam kaku setelah mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Indah. Sepertinya sahabatnya itu juga termakan omongan orang. Kenana orang-orang menfitnahnya tanpa tahu yang sebenarnya? "Semua ini gak seperti yang lo pikir. Gue gak merebut Pak Fajar dari tunangannya." "Kalau yang dibilang orang-orang itu salah, lo jelasin yang sebenarnya ke gue!" pinta Indah. Rania mematung, tak mungkin ia menjelaslan yang sebenarnya pada Indah. Ia takut Indah akan menjauhinya kalau tahu ia kotor. "Lo gak bisa, kan. Itu karena lo gak pernah anggap gue sahabat." Indah tersenyum getir. "Bertahun-tahun kita sahabatan, tetapi lo gak pernah berbagi keluh kesah lo ke gue. Lo sedang bahagia atau pun sedih lo gak pernah sama sekali cerita ke gue. Bukankah sahabat itu harus saling terbuka." "Selama ini gue gak pernah tanya apa masalah lo karena gue selalu tunggu lo yang cerita. Tapi lo gak pernah lakuin itu. Pernah gue tanya sama lo, tetapi lo jawab gak papa. Padahal dari raut wajah lo jelas kalau lo lagi ada masalah. Jujur, gue sedih, Ran. Sahabat gue sendiri nganggap gue kayak orang lain, dia gak percaya sama gue kalau gue bisa jaga masalah pribadi dia tanpa membocorkannya ke orang lain." Perlahan, cairan bening itu lolos dari pelupuk mata Indah. Sebagai sahabat yang sudah sejak kecil selalu bersama, Indah ingin kalau Rania terbuka padanya. "Gue kecewa sama lo. Mulai hari ini juga persahabatan kita putus," tekan Indah lalu buru-buru keluar dari toilet seraya menghapus air matanya. "Maafin gue, Ndah. Jujur, gak mudah buat gue cerita masalah gue ke orang lain. Walaupun orang itu sangat dekat dengan gue," lirih Rania sambil meneteskan air mata. Selama ini Rania lebih suka memendam masalahnya sendiri karena tidak ingin merepotkan orang lain. Rania segera menghapus air matanya. Ia tidak mau orang-orang melihatnya menangis. Rania lalu berjalan keluar dari toilet. "Rania, kamu dipanggil Pak Fajar ke ruangannya," ucap salah satu karyawan menghampiri Rania. "Oh, Iya. Makasih," jawab Rania pada karyawan tersebut. Rania penasaran kenapa Fajar memanggilnya. Apakah pria itu ingin minta maaf karena semalam tidak pulang. Sesampainya di depan ruangan Fajar, Rania mengetuk pintu. "Masuk," terdengar suara dari dalam ruangan. "Ada apa? Kenapa Bapak manggil saya?" tanya Rania dingin yang kini duduk di hadapan Fajar. Sejak Fajar menodainya, Rania mulai benci pada pria itu. Walau Fajar adalah suaminya, tetapi Rania harus profesional dengan memanggil pria itu 'Pak' karena mereka sedang berada di kantor. "Kalau kamu masih mau magang di sini silahkan patuhi aturan. Kalau tidak silahkan keluar dari perusahaan ini," tekan Fajar tanpa menoleh ke arah Rania. Pria itu sedang membaca dokumen. Sebenarnya dokumen itu sudah selesai ia baca. Fajar hanya berpura-pura karena malas menatap Rania. "Maksud Bapak apa?" tanya Rania yang masih belum mengerti. "Tanpa saya jelaskan seharusnya kamu tahu kesalahan kamu di mana." "Apa yang Bapak maksud adalah karena saya datang terlambat dan pertengkaran saya dengan Elsa tadi?" tanya Rania. "Tepat sekali," balas Fajar. "Saya datang terlambat karena saya bangun kesiangan. Dan saya gak akan ribut kalau bukan Elsa yang mulai duluan." "Semua orang akan beralasan seperti itu jika dirinya telat. Kamu gak usah dengan omongan orang karena itu akan buat keributan," cerca Fajar. Rahang Rania mengeras, ia sangat kesal. Kenapa dirinya yang disalahkan, padahal Elsa duluan yang memulai keributan dengannya. "Oke, saya ngaku salah dan saya minta maaf. Saya boleh pergi?" Rania pasrah. Berbicara dengan Fajar hanya membuatnya emosi. "Silahkan," balas Fajar dengan raut wajah datarnya. Rania berdiri dari duduknya. Tangannya tak sengaja menyenggol sebuah foto di meja Fajar sehingga jatuh ke lantai. Rania mengambil foto itu. Di foto itu terlihat Fajar bersama seorang gadis yang Rania yakini adalah tunangan Fajar. Dalam sekejap foto itu berpindah ke tangan Fajar. Pria berbadan atletis itu lalu memasukkan foto itu ke dalam laci. Rania tidak tahu harus biasa saja atau marah karena Fajar masih menyimpan foto kekasihnya. Rania juga sadar akan statusnya, dirinya dan Fajar menikah karena terpaksa demi tanggung jawab pria itu. Rania tahu kalau Fajar masih mencintai tunangannya. Namun, karena sekarang Rania adalah istri Fajar, ia juga ingin dicintai dan berharap Fajar mau melupakan mantan tunangannya. Tiba-tiba terlintas di pikiran Rania, apakah kemaren Fajar pergi dari rumah untuk menemui mantan tunangannya itu. "Kemaren siang Kakak ke mana? Kenapa Kakak gak pulang ke rumah? Kakak nginap di mana?" tanya Rania dengan suara lembut. Kali ini ia berperan sebagai seorang istri, bukan anak magang lagi. Ia harus tahu ke mana dan apa yang di lakukan suaminya kemaren. "Kamu gak perlu tahu. Tolong profesional karena ini lagi di kantor, gak usah bawa urusan pribadi ke sini," balas Fajar dingin. Hati Rania ngilu mendengar jawaban dari pria itu. Entah kenapa sikap Fajar sekarang dingin pada Rania? Padahal dulu pria itu sangat ramah. Apa Fajar marah pada Rania karena pernikahan ini. Seharusnya Ranialah yang marah karena di sini dirinya yang menjadi korban. Kesuciannya direnggut, selain itu ia juga dicaci banyak orang. "Kakak pasti temuin perempuan di foto itu, 'kan?" tebak Rania. Padahal Fajar sudah mengingatkan, tetapi Rania masih saja menanyakan hal pribadi. "Bukankah saya sudah bilang, jangan bawa urusan rumah ke kantor. Dan Semalam saya ke apartemen. Puas? Sekarang kamu boleh pergi." Fajar menunjuk pintu keluar. Rania pun akhirnya keluar dari ruangan pria itu. Setelah Rania pergi Fajar kembali mengeluarkan foto tadi dari dalam laci. Ia mengamati perempuan di foto itu sendu. Kemaren setelah dari rumah sakit Fajar memang pulang ke apartemennya dan menginap di sana. Entahlah, dirinya tidak ingin pulang ke rumah. Ia butuh waktu sendiri untuk menghilangkan beban pikiran. ~Bersambung~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD