Pak Anggit makin melewati batas. Nggak lama setelah kamu berdebat kecil, seorang pengacara yang dia panggil datang. Saat aku mendelik protes, Pak Anggit menjawab dengan kalem bahwa pengacara tersebut hanya untuk pendampingan selama pemeriksaan saja. Entah aku harus menyebut dia lancang atau dapat diandalkan. Papa minta diberi waktu untuk berbicara denganku. Berkat lobi-an pengacara Pak Anggit, kami diberi kesempatan untuk bicara, dan bahkan disediakan ruang khusus dimana hanya ada kami berdua. Aku memicing dengan tangan terlipat di daada, sementara Papa sedikit nunduk entah karena badannya kesakitan atau karena nggak punya muka lagi untuk disombongkan. Dari yang kudengar dari Pak Anggit, ternyata Papa ini dilaporkan oleh seseorang atas dugaan penipuan dan penggelapan uang. Dia menawarka

