Part 12

1140 Words
Dika dan agen E-3 berjalan menuju gedung, mereka berdua mengetes panggilan jam tangan mereka apakah panggilan Dika kepada agen E-3 dan sebaliknya bekerja dengan baik atau tidak. "Bagus, kau bisa berkomunikasi dengan ku sekarang. Berakting lah seperti tamu namun mata mu jangan lepas dari VIP. Hari ini hanya kita berdua yang ditugaskan, aku harap kau bisa melindungi tuan Baron dan nona Trisa sementara aku sisanya." "Baiklah aku mengerti.." Dika masuk ke dalam gedung semi indor, pernikahan ini bernuansa taman. Belum terlalu gelap untuk masihh bermain di luar. Suara musik di dalam gedung mulai dimainkan, pemandu acara pernikahan mulai berbicara menandakan pengantin akan segera masuk. "Baik , Sebentar lagi kita akan melihat kedua pasangan pengantin kita." Pintu terbuka seorang laki-laki masuk ke dalam dan menuju tengah taman ini. "Kita sambut pengantin pria Arbiaz.." Suara tepuk tangan dan siul an memenuhi ruangan menambah suasana bahagia acara ini. "Selanjutnya mari kita sambut.. Raline Amarola." Can marry your daughter And make her my wife I want her to be the only girl that I love for the rest of my life And give her the best of me 'till the day that I die, yeah I'm gonna marry your princess And make her my queen She'll be the most beautiful bride that I've ever seen I can't wait to smile When she walks down the isle On the arm of her father On the day that I marry your daughter Musik dengan judul Marry your daughter mengiringi langkah sang mempelai wanita. Beberapa orang memanggil nama pengantin perempuan dan menepuk tangan serta memuji penampilan pengantin perempuan. Riasan yang sangat cocok dengan wajahnya dan gaun yang berkilau membuat siapapun terfokus padanya. Kedua pengantin itu berdansa di tengah taman selama beberapa saat dan akhirnya pergi ke tempat duduk. Pemandu acar mempersilakan salah satu anggota keluarga pengantin memimpin doa dan para tamu undangan dipersilakan untuk menikmati hidangan. Dika mencari keberadaan Trisa, Ia mencoba menjaga jarak sepuluh meter namun terlalu banyak orang dan mengurangi jarak lagi. Trisa sedang berbincang dengan sekumpulan perempuan, mungkin anak dari teman-teman papanya. Sementara Baron juga sedang berbicara dengan teman-teman laki-laki sambil mencuci mata dengan melihat-lihat wanita cantik. Dika mengambil semangkuk zupa soup dari salah satu stand makanan di dekat Trisa, Ia berusaha untuk menjadi tamu. Ia juga menyukai zupa soup, bila berkunjung ke rumah Kris asisten rumah tangga Kris selalu membuat zupa soup untuk Kris dan Dika. Jam tangan Dika bergetar, Dika segera menggoyangkanya sekali dan mendekatkan ke telinganya. "E-3 kepada J-5, Kondisi aman?" Dika menekan tombol dan berbicara . "J-5 kepada E-3, kondisi aman." Dika segera menghabiskan makanannya dan meletakan di tempat alat makan kotor. Ia mengambil soda dari beberapa stand di sebelahnya. Ia memegang minuman itu dan meminum sedikit demi sedikit layaknya sedang menikmati pesta. Terlihat Trisa meniggalkan teman-temannya dan pergi ke suatu tempat. Dika meletakan minumannya dan segera menyusul Trisa. Ia menuju suatu lorong yang mengarah ke bagian dalam gedung. Trisa ternyata pergi ke toilet. Dika bersembunyi di salah satu tiang lorong tersebut. Akhirnya setelah beberapa saat Trisa keluar dari dalam kamar kecil wanita. Ketika menuju kembali ke taman seorang laki - laki menutup jalan Trisa. "Hei... apa kabar?" Gilang bertanya. "Aku? Baik..." "Hei.. kenapa kau begitu keras padaku?" Gilang kembali melontarkan pertanyaan sambil tersenyum smirk. "Aku biasa saja. Ada apa?" "Kau semakin kesini semakin jarang membalas pesan ku." "Maaf sekali, aku terlalu sibuk dan sepertinya kau tahu aku itu seorang calon dokter?" Trisa mencoba menghindar namun Gilang semakin menahan Trisa untuk pergi, kini Trisa menempel di tembok lorong itu. “Hari ini kamu pergi bersama keluarga mu?” “Iya tentu saja.” “Apa setelah ini kau memiliki acara lain?” Dika mengintip dari balik tiang tembok Ia memperhatikan apakah Trisa memberikan kode atau tidak. “Hmm.. tidak.” “Kalau begitu mau coba naik Volkswagen Golf R terbaru ku?” “Tidak terima kasih, mungkin kamu bisa ajak orang lain saja.” “Kamu yakin?” Gilang mencoba menempelkan tangannya pada tembok untuk menahan Trisa untuk kabur. Namun sebelum berhasil mendarat Dika menghampiri Trisa dan menabrak tangan Gilang sambil merangkul pundak Trisa untuk pergi. "Ayo, sedang apa kamu disini ? yang lain sedang menunggu mu." Dika dan Trisa meninggalkan Gilang tanpa melihat ke belakang. Mereka berjalan dengan cepat namun tidak mengetahui mereka akan kemana. "Kita mau kemana, J-5?" Dika melirik sekeliling dan terdapat tanda petunjuk menuju kolam berenang. "Kolam renang." Mereka sampai pada ujung lorong dan menuju tempat duduk yang ada di pinggir kolam. Dika dan Trisa duduk disana dan Dika segera melepaskan tangannya dari pundak Trisa. "Maaf." Trisa menatap Dika kemudian mengalihkan padangannya ke arah kolam. Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat dan suasana menjadi hening. "Kau tidak apa-apa?" "Gue gapapa. Tenang saja." "Baiklah.." Trisa kembali melemparkan pandangannya ke arah kolam. Beberapa saat terdiam namun Ia ingin mengobrol dengan seseorang untuk menghilangkan ketakutannya. "Bagaimana hasil tes mengemudinya?" Dika menatap Trisa sesaat kemudian mengambil dompet dari sakunya. Ia menunjukan sebuah kartu yang tertulis "Surat Izin Mengemudi" dengan mantap. "Wah, syukurlah." Trisa bertepuk tangan kecil dan tersenyum. Senyum paling cerah yang baru pertama kali Dika lihat nampak pada wajah Trisa. "Terima kasih, aku masih bisa menjaga mu sampai saat ini." "Memangnya mengapa?" "Kata agen I-3 dan Miss Greci.. kau.." "Ah mereka, terlalu melebih-lebihkan lagipula Cloud8 punya fasilitas itu, seharusnya seluruh staff berhak menikmatinya." "Oh iya, Miss Greci ingin menraktir kau dan aku. " "Wah? yang benar? Dia kan paling tidak suka makan banyak, Kita di traktir salad ?" "Subway katanya." "Whoaaaa... sebuah keajaiban." "Aku mendapatkan nilai sempurna untuk semua test. " "Anak pintar ! Hehe." Trisa menepuk - nepuk lengan Dika , Dika sedikit terdorong, Trisa kemudian menyimpan kembali tangannya. "Gue turut senang bila teman teman gue berhasil." Dika kembali memasukan surat izin mengemudinya ke dalam dompet. Tunggu sebentar.. Teman? Dika hanya tersenyum, Ia tiba-tiba teringat sesuatu yang diberikan Miss Greci di kantor. "Aku mempunyai aplikasi yang bagus untuk mu. Apa aku boleh meminjam ponsel mu?" Trisa terkejut Dika menanyakan itu.. Ia ragu mengambil ponsel dari tas kecil nya. "Aku tidak akan mencampuri urusan mu, tenanglah.. " Dika mencoba meyakinkan Trisa. Trisa membuka kunci layar ponsel dan menyerahkannya. Dika mengirim link ke ponsel Trisa dan mengunduh aplikasinya. "Aplikasi ini Miss Greci yang memberitahu, katanya panggilan darurat ini lebih cepat dari yang tersedia di ponsel keluaran sekarang." Dika mengatur ponsel Trisa di depan mata Trisa. Dika meminta Trisa untuk mencobanya. "Coba di tekan tombol itu sebanyak dua kali dengan cepat." Tidak sampai hitungan detik ponsel Dika bergetar cepat dan mengeluarkan bunyi. Layar ponsel dan jam tangan Dika memunculkan titik keberadaan Trisa secara jelas dan rinci. "Wah.. ini sangat cepat.” "Bila terjadi sesuatu tekan itu, aku akan menghampiri mu secepat mungkin." Trisa menatap Dika nanar saat mendengar perkataan Dika. Menghampiri mu secepat mungkin? Apakah kau serius? Mereka tak sadar ada seseorang yang mengawasi mereka di semak-semak dan mulai berkomunikasi melalui telepon. "Halo tuan?" "Aku punya pekerjaan untuk mu." .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD