"Kris, kayaknya gue bakal jarang di rumah susun deh."
Usai pertemuan semalam, Ardika langsung pulang ke rumah susun dan mempersiapkan segalanya. Namun Ia menemui Kris sudah terlelap dalam tidurnya.
"Kenapa?” Tanya Kris sambil memakai jaketnya.
"Gue di buat sangat dekat dengan VIP."
"VIP itu orang yang bakal lo jaga ya? Wah waktu malam juga?"
"Iya katanya."
"Whooaaa.... " Kris masih terkagum dengan kabar yang Dika sampaikan padanya.
"Uang sewa tetap gue bayar kok Kris."
"Gapapa, maksud gue lo ada kesempatan dong buat deketin cewek cantik dan kaya."
"Gue nggak mikirin deh." Ucap Dika sambil menyelesaikan mengenakan sepatunya.
Kris dan Dika keluar dari kamar dan menuju ke bawah rumah susun ,mereka berdua berjalan kaki dan bergegas menuju kampus. Di tengah perjalanan Kris berhenti dan mengecek ponselnya.
"Dik, lo duluan aja ya, cewek gue minta ditungguin di depan gerbang."
"Oke bro, gue duluan ya.” Dika menepuk pundak Kris dan segera berjalan.
Hari ini hari pertama Dika menjadi bodyguard Trisa. Sejujurnya Ia sangat bingung harus berbuat apa tidak ada briefing lain setelah perkenalan. Ia terus berjalan di trotoar depan kampus dan sebentar lagi akan sampai. Tiba-tiba Ia melihat mobil Trisa memasuki gerbang kampus dan di belakang mobil Trisa terlihat mobil hitam membuat jarak sangat dekat dengan mobil Trisa.
"Hey, J-5 masuklah!" Seorang laki-laki dengan kode agen J-2 membuka kaca jendela mobil sambil tetap melajukan mobil.
Dika masuk ke dalam mobil dan kembali berjalan, mengikuti Trisa mencari parkiran mobil , Ia datang cukup pagi hari ini , dan tempat parkir masih terlihat sepi.
"Gimana ya, aku di buat dekat banget sama target. Apa yang harus dilakukan?" tanya Dika sopan.
"Menurut saran ku, lebih baik kamu ciptakan jarak 3 meter, VIP ini tidak suka dijaga terlalu dekat."
"Ah oke baiklah."
Trisa berhasil menemukan tempat parkir. Mobil pengamanan Trisa parkir 3 petak setelahnya, Dika turun dari mobil dan mempersiapkan dirinya.
"Semangat ya, jangan terlalu dekat dengan VIP."
"Oke."
Trisa turun dari mobil dan diikuti Dika di belakangnya, Ia terus berjalan dan Dika mengikuti namun berlagak seperti tidak mengenalnya. Tiba - tiba Trisa berlari dan Dika ikut berlari. Ia cukup terkejut Trisa tiba-tiba berlari.
Namun tiba-tiba Trisa berhenti. Dika yang sudah berlari terpaksa ikut berhenti dan tepat di samping Trisa.
"Lo yang namanya J-5 kan?"
"Iya benar."
"Pasti lo diminta berada 3 meter di belakang ku." Tanya Trisa yakin. "Oh ayolah kita bisa di sangka seperti berpacaran dan kau seprti penguntit. 10 meter ya?"
"Se--puluh?"
"Lo bisa berlari cukup baik dan pandangan lo sepertinya masih cukup baik jadi seharusnya lo bisa menyelamatkan gue."
"Iya aku bisa."
"Baiklah bagus. Ingat, sepuluh meter. Termasuk bila gue pergi ke kantin bersama teman-teman ku, jangan mengikuti gue."
"Tapi..."
"Gue sudah besar, sepertinya tidak ada guna nya juga loe disini."
"Ini pegang." Trisa memberikan sebuah tas karton kepada Dika dan Dika hanya terdiam.
"Kurasa ini punya lo. Oh iya, lo tidak perlu berada di dekat gue saat malam kecuali gue memanggil mu. Biarkan kru yang satunya yang menjaga ku."
"Iya aku mengerti."
"Jangan beritahu ke papa kalau aku mengatakan ini."
"Tapi bagaimana bila tiba-tiba papa mu mencari ku ketika malam ?"
"Gue bisa mengatasinya tenang lah."
"Trisa... aku serius."
"Tenang saja J-5, lo akan aman. Gue gak suka lo terlalu banyak di dekat gue setiap waktu."
"Aku jelek?"
"Bukan, jangan sampai Nica tahu lo menjadi bodyguard gue. Ingat itu!"
"Baiklah."
Trisa kemudian meninggalkan Dika dan berjalan menuju gedung kampusnya. Setelah sepuluh meter Trisa di depan Dika barulah berjalan tetapi Ia sangat penasaran apa isi di dalamnya.
"Oh tidak.."
Di dalam tas coklat itu berisi jas hitam yang Dika kenakan saat melalui test bodyguardnya.
Trisa menuju ruangan kelas diikuti Dika setelah beberapa menit. Trisa duduk di barisan ke empat dari sepuluh barisan dan Dika di barisan ke delapan di jalur tengah tempat duduk. Ia akan menuruti keinginan Trisa agar Ia sebisa mungkin tidak membuat kesalahan . Jam pelajaran dimulai dan dosen pengajar memasuki ruang kelas itu. Semua anak terfokus pada pengajaran para dosen dan tidak ada yang mengobrol.
"Baik ,hari ini adalah kelas sel dan virologi. Sejak dahulu sel tidak mempunyai perubahan dalam strukturnya. Ada Inti sel, mitokondria, badan golgi....."
Dosen pengajar itu membuka kelas dengan pendahuluan, entah mengapa dari satu jam waktu perkuliahan lima belas menit digunakan hanya untuk pendahuluan saja .
"Oke kita masuk ke dalam sel manusia..."
Akhirnya masuk ke dalam inti pembahasan perkuliahan, Dika tetap mencatat poin–poin penting dalam perkuliahan ini, Ia harus bisa mempertahankan nilainya agar beasiswa yang Ia dapatkan tidak lepas. Entah apa yang harus Ia lakukan lagi bila beasiswa tidak menyanggah biaya perkuliahannya. Namun Ia tidak lupa untuk tetap menjaga Trisa, iya dirinya akan menganggap Trisa sebagai adiknya sendiri. Ia mengingat pesan ayahnya untuk menjaga Calista dengan baik. Tetapi Calista kini sudah cukup besar untuk bisa mengurus diri sendiri.
"Ardika Noema..."
Dika terbangun dari lamunannya dan menoleh ke sumber suara.
"Iya, saya pak."
"Coba kamu jelaskan bagaimana virus dapat mempengaruhi sel. Serta contoh penyakit yang disebabkan oleh virus.”
"Virus menempel pada dinding sel dan menginjeksikan DNA nya ke dalam sel kemudian DNA virus berkembang di dalamnya dan mengambil control pada inangn, kemudian sel akan pecah dan makrofag baru akan keluar mencari sel lain sebagai inang baru. "
"Virus SARS,MERS menyebabkan penyakit pada pernapasan. Influenza, HIV."
"Iya cukup, bagus pengetahuan di Sekolah menengah atas masih menempel dengan jelas pada dirimu. Bagaimana virus bisa pergi?"
"Vaksinasi ?"
"Iya , mengapa ketika bayi kalian perlu dibawa ke rumah sakit untuk melaksanakan vaksin agar tubuh kalian mempelajari bagaimana menangani virus yang mungkin bisa datang nantinya dan juga imunitas, imunitas seperti yang kalian ketahui...."
Dosen pengajar terus menjelaskan lebih dalam dan tinggal sepuluh menit lagi jam kelas kuliah akan berakhir.
DRTT DRT
Ponsel Trisa bergetar , menandakan ada notifikasi masuk entah pesan atau dari aplikasi ruang obrolan. Ia menekan tombol kunci ponsel dan melirik layar ponsel nya.
Celine : " Tris? Lo sibuk gak? Ntar makan yuk di kantin."
Nical : " Iya nih .. lo udah lama gak ngobrol bareng kita"
Trisa mengabil ponsel dari sisi buku catatanya dan meletakan diatasnya kemudian Ia membalas pesan mereka melalui notifikasi.
Trisa : "Iya sesudah ini gue ada jeda satu jam, ketemu di kantin ya."
Celine : "Yes! Trisa ku gak sibuk."
Rania : "Akhirnya dokter yang satu ini bisa nge gossip setelah sibuk banget di semester ini."
Trisa kembali memperhatikan dosen pengajar dan mencatat kembali poin – poin penting. Ia juga menulis dengan pena warna – warni agar Ia semangat dalam membaca.
"Oke.. jam perkuliahan telah berakhir. Sebelum kalian keluar dari kelas ada tugas kuliah untuk kalian, per dua orang. Kalian ingin per kelas besar atau kelas praktikum?"
"Kelas besar!"
"Kelas praktikum."
"Kelas besar saja, pak! Biar bisa kenal satu sama lain."
"Bohong pak, dia mau modus."
"Sekalian pak, laki–laki pasangan perempuan."
Trisa hanya terdiam, entah tugas apa lagi yang harus Ia kerjakan kelas sel dan virology baru kelas pertama pada hari ini, entah siang dan sore nanti aka nada tugas apa yang menghampiri nya. Di tengah keributan Ia memanfaatkan untuk menghubungi Dika sebagai J-5 untuk tidak mengikutinya pada jam kosong setelah kelas.
Trisa : " J-5, gue akan makan di kantin bersama teman-teman gue. Jadi jangan mengikuti. Biar supir yang tadi ikut makan di kantin. Jangan sampai mereka menaruh curiga padamu."
Satu notifikasi di aplikasi telegram masuk di layar notifikasi ponsel Dika. Dika membukanya dan membalasnya.
J-5 : "Oke. Aku ada di ATm centre, akan ku jemput ketika ingin memasuki laboratorium."
Trisa hanya membaca pesan Dika dan akhirnya dosen membubarkan kelas.
"Oke nanti akan saya kirim daftar namanya ke ketua kelas . Selamat pagi."
Semua orang keluar dari kelas terkhusus Trisa, Ia sangat semangat sambil berlari. Entah mungkin Ia terlihat tidak ingin berpas –pas an dengan Dika ketika semua mahasiswa berkerumun mengantri keluar dari kelas atau memamg Ia sudah sangat rindu dengan teman- temannya. Dika segera mengetik pesan pada J-2 untuk pergi ke kantin.
J-5 : " Pergilah ke kantin dan makan disana, VIP bersama teman – temannya Ia tidak mau aku mengikutinya."
J-2 : "Aneh sekali padahal kau tampan. Ia kan bisa menjadikan mu sebagai pacarnya"
J-5 : "Ah sudahlah..."
.
.
.