Fara tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri. Penyesalan selalu ada, namun kembali lagi pada alasannya melakukan ini. Dia adalah satu dari banyak orang yang sulit menerima kematian. Ia cukup bahagia hanya dengan menatap Jevan yang tertidur di sebelahnya. Ketika lelako itu terpejam, hembusan napasnya terasa sangat “manusia”. Hatinya menjadi tentram. Kenangan indah terus berputar di kepalanya. Tidak ada yabg bisa dilakukan sekarang kecuali membayangkannya lagi. Jevan masih hidup, tubuhnya tidak akan membusuk, dia ada disini, di dekatku, ucapnya dalam hati. Tiba-tiba Jevan membuka matanya, lalu berkata santai, “Sudah kubilang jangan terlalu galau masalah ini'kan?” Fara terkesiap, “Kamu sudah bangun?” ia segera menjaga jarak di antara mereka berdua. Jevan bangun sembari meregangkan o

