Dua hari kemudian, mereka bertemu di lorong sekolah yang ramai dengan para siswa baru. Nico langsung menggandeng tangan Lupita, membawanya ke taman botani yang terletak di dalam ruangan khusus tumbuhan hias yang berasal dari bumi. Kebetulan, tidak banyak orang sehingga ia bisa bicara serius. Diperlihatkannya layar virtual kecil yang berasal dari gelang komunikasinya.
“Bacalah, aturan tahun ini berubah. Carlo Dante hanya mengajar secara umum pada dua bulan pertama. Selanjutnya, ia akan memilih lima orang yang beruntung yang ia anggap berbakat untuk diajar secara khusus. Lima siswa tersebut akan diseleksi lagi menjadi sejumlah yang ia inginkan, atau tidak sama sekali. Jika kelima siswa tidak sanggup memenuhi harapannya, Carlo Dante akan berhenti mengajar, meneruskan kesibukannya yang lain.” Nico membantu Lupita memahami ketentuan yang tertera pada layar virtual.
“Apa ini? Kenapa Carlo Dante berbuat seenaknya? Banyak siswa yang masuk ke DJ Academy hanya untuk bertemu dengannya.”
“Mungkin itulah maksudnya. Dia hanya mengajar siswa yang serius.”
“Pertanyaannya adalah bisakah kau mempelajari musik DJ dalam waktu singkat dan terpilih menjadi salah satu murid terbaiknya? Walaupun bisa, mungkin masih kalah jauh dengan mereka yang sudah biasa memainkan DJ mixset sebelumnya.”
Nico tersenyum, dalam hal ini ia memang menyimpan sebuah rahasia. “Singkat? Tidak juga. Satu sisi dari diriku yang belum kau tahu.”
Lupita terpana. Benarkah? Cowok pendiam itu mempelajari musik DJ selama ini? Tapi ia tidak salah dengar dan Nico tidak mungkin berbohong padanya. “Kalau begitu, lakukan saja. Aku yakin kau pasti bisa. Musik adalah gairah hidupmu sejak lama, Tuan Nico Xander.”
Disebut ‘tuan’, Nico tertawa. “Ah, sudahlah. Kuurus soal itu nanti, sekarang berikan pendapatmu. Aku menulis lagu baru.”
Bakat Nico dalam bidang musik memang terbilang patut diperhitungkan, sayangnya, baru Lupita saja yang tahu. Nico tak suka publisitas, membiarkan segalanya mengalir begitu saja. Untuk alasan itu, Lupita bertekad membantunya mendapatkan perhatian Carlo Dante.
Setelah upacara kelulusan dan saatnya pendaftaran, mereka ikut rombongan ke kapal induk Saturn Gallant, meninggalkan stasiun ruang angkasa Grand White Base untuk selamanya. Sekitar lima puluh calon siswa DJ Academy dalam satu rombongan tersebut, termasuk Nico dan Lupita, duduk tenang dalam tabung pengaman. Setelah semua siap. Pintu tabung tertutup dan pesawat antariksa pun berangkat.
“Kau yakin, tidak mau ngobrol?” pinta Nico melalui alat komunikasi di dalam tabungnya.
Lupita yang berada tak jauh darinya menjawab, “Tidak, aku mau tidur.”
Awal mula menginjakkan kaki di lantai Saturn Gallant memang menyenangkan. Mereka menganggapnya sebagai mimpi yang menjadi kenyataan. Dunia orang dewasa yang penuh tantangan di masa depan, namun Lupita merasakan sebaliknya. Saturn Gallant adalah tempat menggiurkan yang sekaligus mengundang bahaya. Perang antariksa menghadapi Roughart hanyalah salah satunya. Petualangan mendebarkan lainnya masih menunggu koloni manusia di tempat yang bukan seharusnya mereka berada. Kesenangan manusia mencari wilayah baru sebagai alternatif bumi adalah masalahnya.
“Kita belum diberitahu di mana kita tinggal. Kabarnya semacam asrama yang dibuat mirip seperti tempat tinggal para staf di sini,” kata seorang siswa.
“Itu namanya fasilitas. Nanti juga tahu.” Ujar yang lain.
Lupita yang mendengarnya langsung mengeluh, “Padahal aku sangat ingin mandi. Seluruh tubuhku gatal-gatal.”
“Bila sudah mengenakan seragam resmi, aku yakin hal itu tidak akan terjadi meskipun kau tidak mandi. Seragam Saturn Gallant mampu menetralkan keringat dan mengeluarkannya sebagai gas. Gas-gas itu diserap otomatis oleh bagian berpori pada setiap langit-langit lorong dan ruangan.” Hibur Nico yang berada tepat di sampingnya.
“Euuw, membayangkannya saja aku mau muntah. Jadi tak seorang pun yang bau badan di sini?”
“Carilah satu, pasti tidak akan ketemu. Kita diperbolehkan memakai pakaian kasual hanya di dalam kamar.”
“Kedengarannya seperti neraka,” sesal Lupita tertahan.
“Lupita, bila kau ingin menjadi pilot, maka biasakanlah. Teknologi itu pasti sangat membantu, percayalah!”
Perjalanan dari pintu keluar bandara menuju kendaraan transport mengharuskan mereka melewati pemeriksaan ketat. Alat deteksi bekerja sedemikian canggih tanpa harus merepotkan para pemilik barang. Keluhan demi keluhan keluar dari mulut anak-anak itu tatkala beberapa jenis barang diharuskan ditinggal karena tidak lolos ketentuan. Makanan ringan, kosmetik, obat-obatan, dan peranti hiburan yang dianggap tidak memiliki izin guna akhirnya terpaksa menjadi korban kedisiplinan dan ketatnya aturan tinggal di Saturn Gallant.
“Hei, aku kerja paruh waktu di Grand White Base demi membeli alat itu.” Protes siswa yang lain.
“Penguat sinyal? Kau ingin menyimpannya di kamarmu? Untuk apa? Sinyal kami sangat bagus dan kau hanya akan menggunakannya untuk belajar. Minggir!” Seorang staf bea cukai menolak keinginan pemuda tersebut.
“Ya aku akan sukses dan membuat pabrik benda itu di sini.” Kecam anak itu lagi.
“Oh ya? Sebelum kau sukses pasti didepak lebih dulu dari sini. Heran sekali bagaimana kau lulus dari Grand White Base!”
Teman-temannya yang lain buru-buru menarik lengan si pemrotes yang tidak berpikir panjang. “Jaga sikapmu, Kamal! Kita semua baru datang!”
“Bagus sekali, ini hari pertama dan bea cukai sudah mengingat nama-nama kita!” Satu persatu kalimat kecewa menghujani Kamal.
“Itu bagus! Mereka akan menghormati kita.” Sahut Kamal percaya diri.
“Yeah, yang benar saja saja!”
Kegiatan mereka dimulai dari kendaraan transport besar yang semula mengambang kemudian terbang. Robot menjelaskan segala aturan dan nama-nama semua fasilitas dari atas. Nico semakin mantap, ia tidak salah pilih. Saturn Gallant langsung mendapat tempat di hatinya. Sedangkan Lupita berharap bahwa tempat ini akan memberinya petualangan-petualangan baru yang lebih seru.
Selesai diberi bekal pengetahuan yang tidak bisa dibilang singkat, para remaja tersebut diizinkan masuk ke dalam fasilitas mereka sendiri, The Hope, yang merupakan asrama bagi mereka tinggal selama menempuh pendidikan di DJ Academy.
“Setiap orang yang memegang kunci akses kamar, silakan mencari kamar masing-masing. Kode unik DNA akan bereaksi pada pintu dengan tipe yang sama. Bila kesulitan, silakan hubungi staf.” Suara program berkecerdasan buatan EDOS mengarahkan mereka begitu melangkah ke pintu masuk.
“Keren! Pintu kamar dengan DNA kita sendiri?” Tak henti mengagumi teknologi yang baru saja mereka jumpai.
Tiba di lorong-lorong kamar dengan nuansa perak khas Saturn Gallant, mereka cukup melewati pintu demi pintu. Pintu yang mendeteksi kartu yang tepat akan mengeluarkan suara unik yang berbeda dari yang lainnya supaya si penghuni tahu bahwa itulah kamarnya. Masing-masing memiliki kamar sendiri dengan dua zona berbeda. Zona A untuk para gadis dan Zona B untuk pemuda-pemudanya.
Masuk ke dalam kamarnya, Lupita segera menghubungi Nico dengan menghidupkan layar virtualnya. “Hai, ini lumayan juga. Mungkin aku akan betah.”
“Baguslah! Tinggal bagaimana caramu betah belajar di akademi. Aku masih berharap, kau berkarier di bidang musik. Menjadi pilot juga pekerjaan hebat tapi berbahaya. Kumohon, selama tiga bulan ini, seriuslah dulu pada musik.”
Lupita yang sudah bertekad membantu sahabatnya tentu tidak keberatan untuk mengangguk, menyetujui keinginan Nico. Mungkin ia akan sedikit mencoba, perlahan-lahan hingga menemukan yang menjadi obsesi hidupnya, dan bila obsesi itu adalah menjadi seorang pianis, tentu ia pun tidak akan mengelak lagi. “Oke, akan kupikirkan.” Pada layar terdapat anjuran untuk beristirahat dan kebetulan Lupita begitu penat, maka ia pun menyudahi percakapan.