"Mayang, ayo masuk kita foto bareng pengantin," seru salah satu dari mereka menyebut nama gadis itu.
Mereka lantas pergi, aku melihat gadis itu berhenti sejenak memandang ke arahku dan sedikit mengukir senyum. Aku membalasnya dengan senyum yang sama kepadanya. Mungkin dia tahu kalo sedari tadi aku memandanginya.
Aku pun mengikuti mereka ke dalam rumah untuk segera berpamitan pulang. Mencari keluargaku yang entah berada dimana, kukeluarkan ponsel untuk mendial nomor mamaku.
"Mama, di mana? Ayo, kita pulang."
"Iya, ini mama sama papa sudah berada di teras depan, kamu di mana?"
"Baiklah, aku segera ke sana."
Ketika menuju teras depan, aku melihat gadis tadi yang sedang berfoto bareng pengantin dengan senyuman yang sangat indah mengukir di wajahnya, aku bergeming cukup lama memperhatikan gadis itu dari kejauhan. Bunyi ponsel mengusik kesadaranku akan keterpanaan pesona gadis itu.
"Ya, Ma, ini aku sudah jalan ke tempat parkir" sebelum mama bicara aku sudah mendahuluinya.
Sesampainya di tempat parkir Mama sedikit kesal denganku, karna sedari tadi aku tidak menemani mereka di acara nostalgianya bertemu dengan teman lama mereka, rasanya membosankan mendengar percakapan mereka mengenang masa muda yang tidak begitu menarik bagiku.
"Kamu dari mana saja? Kenapa kamu selalu menghilang setiap menghadiri acara bersama orang tua?" protes mama ketika di dalam mobil.
aku yang duduk samping mama di belakang, sedangkan papa duduk di depan samping supir pribadi papa.
"Lagian, masa iya aku harus nempel sama mama dan papa? kayak anak kecil aja, aku kan udah dewasa, Ma." sahutku.
"Iya, sih, dewasa tapi kenapa gak punya gebetan kamu?
"Mama ngapain sih ngebahas itu, gak penting pembahasannya"
"Siapa bilang gak penting? Kamu gak pengen nikah? Atau mau hidup melajang terus? Kamu gak pernah ngenalin satu cewek pun ke mama, mama khawatir aja dengan sikap kamu yang dingin, gak ada cewek yang mau deket sama kamu, Regan" celoteh mama.
"Udah, Ma, diam ah, kebiasaan selalu aja berdebat sama Regan" tegur papa.
Seketika suasana di dalam mobil hening tanpa ocehan mama.
Aku gak peduli dengan perkataan mama yang gak jelas, meskipun ada benarnya perkataan mama tapi aku gak terpengaruh.
Sesampainya di pekarangan rumah, aku bergegas keluar dari mobil dan langsung ke lantai atas menuju kamar, membersihkan diri dan merebahkan badan bermanja di atas ranjang ditemani bantal dan guling.
Menatap langit-langit di atas ranjang, pikiranku melayang ke wajah gadis yang ada di pesta, dengan menajamkan ingatan tentang nama gadis itu yang sempat disebut oleh temannya.
Ya, namanya Mayang tidak salah aku ingat betul dengan nama yang disebutkan temannya.