Jakarta, Indonesia
Devian menghisap sebatang rokok yang terselip di antara bibirnya. Sudah tujuh tahun sejak kejadian itu, tetapi Devian masih mengenang jelas masa tersebut. Ketika dirinya memaksa seorang gadis yang baru 15 tahun untuk ditiduri dan mendapat pukulan dari kakaknya si gadis.
Devian menyesal karena telah melakukan hal yang hina kepada seorang gadis dan berjanji pada diri sendiri tak akan membuat hal itu lagi tetapi Devian tidak memungkiri bahwa hanya gadis itulah yang membuatnya tertarik.
Jarang sekali mendapat gadis yang memiliki sifat seperti itu. Apa dia akan mendapatnya suatu hari nanti? Entahlah, yang Devian tahu sebelum itu dia ingin bersenang-senang dengan banyak wanita.
Devian melirik pada seorang wanita yang tengah tertidur pulas di ranjang. Dia mendekati kemejanya dan merogoh saku, menemukan dompet lalu mengeluarkan beberapa lembar uang.
Ditaruhnya uang itu dan mengenakan kemeja lalu jas. Tak lupa dengan celana panjang kemudian menyeret kedua kakinya keluar dari kamar dan hotel melati. Saat Devian keluar, segerombol pria membungkuk hormat.
Devian tak banyak bicara, dia lebih memilih untuk masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat tersebut tanpa suara. "Tuan, apa kita mau pulang?"
"Ya, kita pulang." jawab Devian. Jujur, Devian merasa bosan dan perlu sesuatu yang baru dalam hidupnya. Tetapi apa? Selain bisnis dan wanita, adakah yang bisa Devian lakukan?
***
Tempat lain, beberapa orang tengah sibuk termasuk seorang gadis yang menjadi ketua untuk mengurus orang-orang sibuk itu. "Yana, sampai kapan kita melakukan hal ini?" protes Nia, sahabat Yana yang sekarang capek.
Sahabat sekaligus atasannya ini tak memberikan istirahat untuk anak buahnya yang juga termasuk dia. "Sampai semuanya selesai." balas Yana tenang sembari melihat beberapa catatan.
"Tetapi masih ada hari lain, kita ini bukan robot tahu. Lihat sudah jam sembilan malam, ingat ada beberapa karyawan perempuan tak baik kalau perempuan pulangnya malam hari." Yana menoleh dan memberikan senyuman palsu.
"Aku juga seorang gadis, Nia. Tetapi aku tak apa-apa tuh." Nia mencibir habis-habisan tetapi apa boleh buat, usaha ini milik sepenuhnya Yana. Dia tak berkepentingan.
Yana merasakan teleponnya bergetar, dia bertanya-tanya melihat nama Ayahnya berada di layar ponsel. Jarang sekali Yana ditelpon oleh sang Ayah. Yana kemudian mengangkat telepon, tak sadar Yana mengaktifkan loudspeaker.
"Halo, Ayah." sapa Yana baik-baik tetapi balasan sang Ayah mengejutkan.
"YANA?! KAMU ADA DI MANA SEKARANG?!" pekikan Ayah Yana terdengar keras bukan hanya di telinga sang putri melainkan anak buahnya.
"Ayah, jangan teriak dong! Memangnya Ayah mau telinga putrimu ini tak bisa mendengar lagi?!" protes Yana.
"Ayah tak mau tahu kamu harus pulang! Sekarang!" Yana mendengus kesal. Kedua matanya menatap sekitaran dan mendengar suara cekikikan dari beberapa orang yang tak jauh darinya.
Beberapa orang lagi tersenyum karena sang bos sedang dimarahi layaknya anak-anak. "Baiklah." Ditutupnya telepon itu dan memandang sekeliling.
"Tunggu apa lagi, kemasi barang kalian." Setelah berujar demikian, Yana merapikan barangnya lalu pergi keluar.
Semua orang yang berada di tempat tersebut bersorak gembira dan dengan wajah yang tak berubah mereka mengemas barang untuk pulang.
****
Yana akhirnya sampai di rumah. Di ruang tamu, dia disambut wajah sangar sang Ayah yang menunggu dia. Adapun nama pria itu adalah Lucas Nerissa.
"Nah ini dia anak perawanku yang baru pulang! Yana, kamu itu gadis loh tak baik kalau kamu pulang selarut malam ini! Coba saja kalau Ayah tak telepon kamu mungkin kamu masih kerja!?" Yana mengerucutkan bibirnya tanda bahwa dia protes.
"Ayah, Yana bukan anak kecil toh Yana punya tujuan kalau pergi bukan? Nggak seperti wanita lain yang keluyuran tak jelas." Yana membela diri.
"Cukup! Ayah bisa terima kalau kamu kerja tetapi Ayah tak bisa berkompromi soal sifatmu yang workaholic itu. Coba saja kalau kamu bisa cari pacar mungkin Ayah tak akan khawatir seperti ini." Lalu hal-hal yang membosankan lainnya di telinga Yana.
Inilah kehidupan malam Yana, selalu mendengar omelan sang Ayah yang terus meminta agar dia punya kekasih. Sebenarnya Yana mempunyai paras yang cantik begitu juga dengan sifatnya sayang sekali karena dia penganut workaholic.
Yana terlalu sibuk dan cinta dengan pekerjaannya hingga dia tak punya waktu untuk berkenalan dengan seorang pria. "Ayah tak mau kamu jadi perawan tua nak dan Ayah juga semakin lama semakin tua. Ayah hanya ingin di masa tua Ayah, ada beberapa anak kecil yang menjaga Ayah." harap Lucas.
Yana mendengus kesal. "Ayah, tenanglah aku baru 21 tahun. Aku masih terlalu muda untuk menikah." Perkataannya dibalas dengan tatapan tak bersahabat oleh Lucas.
"Pokoknya Ayah tak mau tahu, besok Ayah akan memberikanmu waktu untuk mencari seorang pacar. Jika dalam 24 jam, kau tak bisa menemukan seorang pacar maka kau siap-siap saja Ayah akan mengirim mu untuk menjadi biarawati!" Mata Yana membulat.
"Tetapi Ayah bagaimana dengan pekerjaanku?"
"Memangnya Ayah peduli apa?! Camkan perkataanku ini dan kau tahu Ayah tak pernah main-main jika memegang ucapan!"
***
Keesokan harinya, Yana memasang wajah masam dan kadang kala melamun. Dia sedang berpikir tentang perkataan sang Ayah yang memang selalu serius dalam hal apapun.
Yana tak mau meninggalkan pekerjaannya tetapi jika dia tak mendapatkan seorang pacar maka Yana akan langsung dikirim menjadi biarawati oleh sang Ayah. Jadi Yana dengan terpaksa harus mencari seorang pria sebelum waktunya habis.
"Yana," Yana terperanjat dan melihat ke pada Nia. "Kok wajahmu murung? Di mana semangat workaholic-mu itu hah?" Yana hanya tersenyum simpul.
"Atau kau punya masalah? Ceritakan padaku saja mungkin aku bisa bantu?" lanjut Nia penasaran dengan apa yang disembunyikan sahabatnya itu.
"Justru karena ini masalah? Aku tak akan mengatakannya padamu secara gamblang. Ada kalanya masalah itu harus kita cari tahu sendiri solusinya." Setelah mengatakan hal itu, Yana menjauh dari Nia menuju salah seorang karyawan dan membahas soal pekerjaan.
***
Kediaman Alexandra
"Selamat pagi," sapa Devian. Sapaannya dibalas oleh keluarganya yang saat itu sedang sarapan sedang dia telah rapi dan hendak pergi bekerja.
"Kapan kau datang?" tanya Pamannya, Richard.
"Jam satu pagi." jawab Devian singkat.
"Hari ini aku akan mampir ke klub ada urusan di sana." lanjutnya dengan tenang tanpa merasa terganggu dengan tatapan tajam sang kakek sekarang.
"Apa kau akan main dengan wanita jalang lagi?!" Kedua mata Devian bertentangan dengan tatapan penuh intimidasi tetapi tak ada ketakutan sama sekali. Dia sudah terbiasa dengan hal tersebut.
"Tidak, aku hanya akan bertemu dengan seorang teman." Tepat setelah berujar demikian, bunyi bel rumah menginterupsi pendengaran.
"Jo, coba kamu lihat itu siapa?" Perintah dari kepala keluarga Alexandra segera dikerjakan oleh Jo, kepala pelayan keluarga Alexandra.
Beberapa menit Jo kembali. "Tuan, Tuan Kevin ada di depan."
"Jangan biarkan dia masuk." sahut Kakek Devian. Perlu diketahui, Kevin adalah Ayah Devian. Kenapa dia langsung diusir? Karena dia mengkhianati istrinya dengan menikah seorang wanita lain lalu mempunyai anak dari hasil hubungan dengan pernikahannya tersebut.
Kakek Devian merasa malu dan mengusir Kevin tanpa uang sepeser pun. Dia juga menganggap Devian adalah anak Kevin satu-satunya dan menjadi pewaris dari kekayaan yang dia miliki karena sang Paman, memiliki usaha sendiri dan telah mengambil bagiannya.
Oleh sebab itu, Kevin marah. Jika dia tak dianggap itu boleh saja tetapi anaknya yang satu lagi juga adalah cucu dari Ayahnya. Namun, tak ada kata maaf untuk Kevin begitu juga dengan keluarga kecilnya. Kakek Devian tak menginginkan mereka.
Setelah Devian menyelesaikan sarapannya, dia keluar dari kediaman Alexandra. Tak lupa pria itu berpamitan kepada keluarga yang tinggal di rumah.
Di luar, dia berpapasan dengan sang Ayah kandung. Raut mukanya tak menunjukan ekspresi sembari menatap lama melihat Kevin yang frustasi. Kevin yang menyadari hal itu berbalik melotot kepada Devian.
"Kenapa? Apa kau senang melihatku seperti ini?" Devian tersenyum sinis mendengar pertanyaan Kevin. Kelihatan jelas kalau sangat membenci Devian.
"Ya." Jawaban Devian sangat singkat tetapi cukup membuat jiwa Kevin bergetar. Terkadang Kevin berpikir apa benar Devian adalah anaknya? Sebab, sifat Devian yang tenang dan kadang menakutkan sama sekali bukanlah sifat cerminan kedua orang tua Devian.
Luci, Ibu Devian adalah wanita yang polos dan sangat baik hati hingga dengan mudah dan bodohnya dia mencintai seorang pria b******k seperti Kevin.
Kevin adalah pria yang egois. Dia selalu menginginkan apapun yang dia inginkan. Nyatanya, sifat Devian terbentuk karena dunia memperlihatkan semua kebusukan di atas bumi ini. Dimulai dari Ibunya yang ditinggalkan lalu meninggal dunia dan menjalani kerasnya kehidupan yang dia jalani sebelum bertemu dengan keluarga yang telah membesarkannya.
Devian segera meninggalkan Kevin yang masih menunjukan wajah pucat. Santai, dia lalu masuk ke dalam mobil SUV menuju perusahaan.
***
Tak terasa jam telah menunjukan jam 10 malam. Yana terus berkelabat dengan pekerjaan tanpa memusingkan Nia yang kini tengah tak enak. Tentu saja karena Yana belum memulangkan mereka.
"Yana, kapan nih kita pulang? Udah malam tahu!" ketus Nia sebal.
"Oh ya, jam berapa sekarang?" balas Yana tak berminat.
"Jam 10 malam." Yana terperanjat. Dia melihat jam tangannya dan benar saja sudah jam 10. Itu artinya dia hanya punya dua jam untuk mencari pacar.
Yana dengan cepat mengambil barang-barangnya lalu memasukannya ke dalam tas. "Nia, kau suruh saja mereka pulang ya aku punya urusan diluar." Setelah mengatakan sekaligus pamit, Yana pun meninggalkan tempat kerja.
Dia bergerak tergesa-gesa menuju parkir ingin memasuki mobil. "Nona," Yana mematung. Ditolehnya ke belakang dan menemukan beberapa pria yang dia kenal adalah anak buah sang Ayah.
"Saatnya pulang Nona, Tuan telah menunggu." Yana sontak menggeleng.
"Aku punya urusan yang harus aku selesaikan." kata Yana membuat alasan.
"Tetapi Tuan telah menyuruh anda pulang jadi saya harap.." Yana tak mendengarkan. Dia membuka sepatu hak tinggi secara diam-diam dan mengambil langkah seribu.
Melihat anak Tuannya itu kabur, mereka mengejar Yana. Ketika Yana berlari, matanya memandang mencoba mencari seorang pria sambil berdoa dalam hati.
Doanya didengar, tak jauh di depannya seorang pria tiba-tiba menghalangi jalan. Yana berlari mendekati pria itu sambil memanggil si pria. "Mas, mas!"