Riana terdiam setelah mendengar penuturan dari kedua orang tuanya. Jujur saja, ia tidak dapat mengatakan apapun saat ini. Hatinya, sudah terlanjur memendam rasa sakit untuk jangka waktu yang lama. Ia selama ini mengharapkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, justru kerap mendapatkan perlakuan yang menyakitkan hatinya. Mungkin mulutnya bisa mengucapkan kata memaafkan, tetapi bisakah hatinya secepat itu juga memaafkan kesalahan kedua orang tuanya. Ia memang tidak mau dicap sebagai anak durhaka, ‘Tetapi seorang anak juga bisa menjadi terluka dan menaruh rasa benci kepada orang tuanya, bukan?’ tanya hati Riana. Jaka meraih tangan Riana dan ditepuknya pelan. Ia lalu meraih Riana ke dalam pelukannya dan mengecup mesra kepala sang istri, “Pikirkanlah terlebih dahulu dengan hati dan pikiran

