Meskipun udara malam ini terasa dingin, ditambah dengan pendingin ruangan yang menyala. Keringat panas dingin membasahi wajahnya. Ia pun mulai membaca isi dari surat tersebut. Jakarta Dear, istriku tercinta. Maafkan kepengecutanku yang pergi begitu saja meninggalkanmu, tidak berpamitan secara langsung. Aku tidak sanggup melihat tatapan terluka di matamu, begitu mendengar penjelasan dariku. Aku harus pergi, entah untuk berapa lama. Untuk menemui seseorang yang pernah merajai hatiku dan mejadi kekasih hatiku. Ada hal yang harus kuselesaikan dengannya. Maaf, aku tidak bisa mengatakannya melalui surat ini, alasan diriku menemuinya. Kau harus percaya, kalau aku sudah tidak mencintainya lagi, karena semua cintaku saat ini hanya untukmu. Tolong!, kumohon!, tetaplah bertahan di rumah kedu

