Anna menghela nafasnya, sesekali melirik ke arloji putih yang melingkar di pergelangan tangannya. Semua bahan dan perlengkapan sudah ada di tangannya sekarang, tinggal membawanya ke kasir. Tetapi semua tenaganya hilang begitu saja, dia akhirnya duduk di kursi yang ada di dekat rak buku. Itung-itung sekalian ngadem, berhubung AC tepat berada di atasnya. Matanya menyapu ke sekelilingnya, dan tepat pada saat itu Anna menyipitkan pandangannya. Seketika senyum seringai tercetak di wajahnya, dia jadi punya akal. Dengan mengendap-endap dia berjalan mendekat kea rah Zelin dan Anes, sebenarnya Anna tak punya masalah apa-apa dengan dua cabe-cabean sekolah, tapi waktunya sudah mepet dia juga sudah tidak punya tenaga untuk melanjutkan perjalanannya. Ketika sudah berada di dekat Zelin dan Anes, Anna

