Bab 41. Dan Aku Memilih Dia

991 Words

Matahari pagi menerobos jendela apartemen, menyentuh wajah Meysa yang masih lelap. Pelan-pelan, kelopak matanya terbuka, menyambut dunia yang—semalam lebih mencekam—dengan lebih ringan. Ia mengedarkan pandang. Sepi. Hening. Namun, bukan sunyi yang menakutkan, melainkan hening yang hangat. Seolah-olah ruang ini memang diciptakan untuk memberi napas bagi orang yang hampir kehabisan harapan. Aroma harum masakan menyelinap masuk ke rongga hidungnya. Meysa mengerutkan kening, lalu beranjak duduk perlahan. Badannya masih lemas, tapi tak seburuk semalam. Di dapur kecil, Jo berdiri membelakanginya. Memakai kaus tipis dan celana rumah, pria itu sedang memindahkan semangkuk bubur hangat ke atas nampan. Begitu mendengar suara ranjang berderit, ia menoleh dan tersenyum kecil. “Mey,” ucapnya pelan.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD