“Jasad terbakar itu bukan saya. Kamu itu orang baik yang salah ambil jalan. Mumpung masih punya waktu, kembalilah!” Pak Brahim menyeka bekas air mata Saimah dengan ujung jari. Kemudian, pria ini tersenyum. “Ayo, buruan tuntaskan tugas kamu! Saya tunggu di sini. Oh, ya. Ini air yang harus kamu bawa.” Saimah pun cekatan menerima sebotol air berwarna keabu-abuan. Kemudian, ia dengan setengah berlari menuju area pemakaman. Langkah kakinya lalu menuju sebuah bangunan kecil yang berada di bagian belakang makam. Wanita tersebut untuk beberapa saat mengamati seorang pria yang sedang duduk bersila dengan mata terpejam. Saimah mendatangi Sarto dengan langkah kaki berjingkat. Kini wanita berkuncir kuda tersebut telah tepat di belakang Sarto. Tampaknya Sarto sedang fokus bersemedi. Saimah berjin

