Seutuhnya hati Rowena telah mati pada Rebecca. Tidak ada setitik pun senyar simpati di hati melihat saudara tirinya merintih kesakitan di depan mata. Yang ada hanya kebencian mendalam–yang berakar sampai menguasai pikiran. Dia mengabaikan Rebecca, segera berbalik badan dan beranjak pergi dari ruangan itu. Kekejamannya berlanjut ketika Rebecca yang ditinggalkan tidak diberi alas. Saudara tirinya itu dibiarkan merintih kesakitan di atas lantai yang dingin dan berdebu tebal. “Kami minta uang muka yang kau janjikan.” Pria yang keluar bersama Rowena segera menagih janji. Rowena yang berada di depannya langsung menghentikan langkah dan berbalik badan. “Kau ini selalu tidak sabar!” ucapnya ketus sembari menyerahkan amplop cokelat yang dikeluarkan dari tas di tangan. “Aku hanya ingin menagih j

