Koridor rumah sakit terasa dingin dan panjang, mencerminkan kegelisahan yang menyelimuti Dani dan Jelita. Lampu-lampu neon di langit-langit memancarkan cahaya redup, menambah suasana muram. Rio, sang jurnalis, kini terbaring tak berdaya di ruang operasi. Kondisinya kritis, setiap detiknya adalah perjuangan antara hidup dan mati. Jelita duduk di kursi tunggu, tangannya menggenggam tangan Dani erat, matanya menatap kosong ke arah pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Dani berusaha menenangkan Jelita, sesekali mengusap punggung gadis itu, meskipun hatinya sendiri bergemuruh cemas. “Dia akan baik-baik saja,” Dani mencoba meyakinkan, lebih pada dirinya sendiri. “Tim medis terbaik yang menanganinya.” Sementara Jelita hanya mengangguk pelan, otaknya masih berputar pada bisikan terakhir Rio

