Calon Suami

1067 Words
Seorang pria berjalan tegap memasuki koridor perkantoran Wijaya Group. Dia adalah lelaki dengan usia enam puluhan. Dengan kilau Arloji ditangannya, menunjukkan betapa elegan penampilannya meskipun sebagian rambutnya telah memutih. Sorot mata tegas yang ia pancarkan membuat orang lain menunduk saat melihatnya. Tentu saja setiap orang yang dilaluinya digedung itu tahu siapa Pria dengan wibawa yang demikian memanas. Ketegangan akan tiba-tiba menghampiri disetiap meja kerja yang berada disana. Mereka, bila terlihat sedikit saja kesalahan, teguran dengan aroma mempermalukan akan menjadi kenangan seumur hidup mereka. Sementara orang-orang disekelilingnya adalah para ajudan yang menjaga tuannya. Mereka menjaga Tuan Abraham pemilik Wijaya Group. Abraham memutar handle pintu ditempat putri semata wayangnya berada. Menyembulkan kepalanya tanpa suara. Intan yang sejak bergeraknya handle pintu sudah mengawasi, tertawa melihat ayahnya menyembulkan kepala dari balik pintu. Intan beranjak dari duduknya, menyambut ayahnya. Tetapi ada satu hal yang dilupakannya. Dia lupa mengembalikan bingkai foto Bastian di laci rahasianya. Sedetik kemudian dia teringat diapun segera menggandeng ayahnya ke sebuah sofa ditengah ruangan. "Ayah? Kenapa ayah nggak kasih khabar kalau mau datang ke perusahaan?" Intan mendorong pelan ke sofa berwarna biru tua yang tertata rapi. "Ayah bikin kejutan?" "Apakah Ayah membuatmu terkejut sayang..." "Tentu saja Ayah...ayah mau minum sesuatu?" Intan menawarkan minum kepada Abraham. Tubuhnya berbalik ke arah meja kerjanya. Dengan sekali gerakan Intan berhasil menyelamatkan rahasia hidupnya. "Ha ha ha...Ayah memang akan membuatmu terkejut. Karena Ayah sedang ingin.." candanya. "Ada apa sih Yah, Ayah tampak senang sekali?" "Ah tidak, Ayah hanya merasa bosan di rumah. Ayah sudah tua, tidak ingin memikirkan pekerjaan lagi. Ayah sangat percaya dengan kemampuanmu." Wajah Abraham yang sumringah membuat Intan senang. "Tapi... tidakkah CEO baru Wijaya Group ini tidak akan mengajak Abraham makan malam?" Abraham menyindir Intan. "Oooh itu rupanya?! Baiklah silahkan Ayah memilih restoran mana yang Ayah suka." Intan membuat mimik wajah yang lucu yang membuat Abraham tertawa. "Ayah merasa sangat terhormat kalau begitu." "Silahkan Ayah...Ayah mau kemana ?" "Tenang saja, Ayah sudah membuat reservasi di sebuah restoran..." "Ho ho Ayah bahkan telah merencanakan sejak dirumah bukan?!" Intan mencubit lengan ayahnya. Mereka yang mendengar keakraban mereka pastilah merasa heran dengan sikap Abraham yang bertolak belakang dari biasanya. Sebab Abraham terkenal sebagai pilar yang tak pernah tersenyum. Setelah Intan kembali dari Australia Abraham sering terlihat tersenyum walaupun dia tetap tidak terlihat ramah. ### Malam itu, Intan memakai gaun dengan warna pastel. Gaun panjang dengan jajaran manik berwarna batu pualam dibagian dada dan sedikit di ujung lengan. Sepasang anting panjang dengan sebutir berlian bagaikan tetesan embun yang tertimpa sinar matahari. Make up sederhana itu tak mengurangi kecantikan dan keanggunannya. Di luar sana Abraham sudah menunggu dengan tenang. Sesekali dia melongok ke arah rumah untuk melihat apakah Intan segera keluar. "Wanita dari dulu hingga sekarang sama saja!" Gerutunya. "Aku mendengar Ayah...!" Intan memasuki mobil dan duduk di sebelah ayahnya. "Ayah bilang sama, sama dengan Ibu ya..." Abraham meletakkan tangannya dibelakang Intan dan memeluknya. "Tapi Ibumu dulu lebih cantik..." Intan tertawa mendengarnya. Seorang pramusaji menyambut kedatangan mereka di pintu masuk restoran. "Maaf Tuan, bisa saya bantu ?" "Apakah reservasi kami sudah siap?" "Baik pak, atas nama siapa?" "Abraham." Suara berat Abraham menjelaskan. Pria itu melangkah ke arah resepsionis dan kembali lagi. "Meja Bapak sudah siap dan seorang tamu sudah menunggu Bapak!" Intan yang sejak tadi bergelayut dilengan ayahnya keheranan. "Apakah ayah mengundang tamu?" Yang ditanya tak menjawab, membuat Intan memberengut. Sampailah langkah mereka disebuah meja dengan seorang pria muda yang telah berdiri menyambut kedatangan mereka. Pria tampan dengan penampilan maskulin mengulurkan tangannya kepada Abraham. Intan mengenal siapa pria itu. Pria dengan hidung menjulang dan mata dengan sorot mata elang. Rahang menonjol dengan rambut tipis didagunya. Intan sangat tahu seluruh keluarga Alex karena seringnya mereka berkumpul ketika Ibu masih hidup. " Selamat malam Paman." "Sudah lama menunggu? Ini putri ku Intan, dia baru datang dari Australia." Pria itu melihat Intan lalu mengulurkan tangannya. "Andre." Ia memperkenalkan dirinya. "Intan." Sambut Intan. "Putri ku tidak tahu saya mengundang tamu kehormatan. Intan, ini adalah putra bungsu Tuan Alex. Kamu pasti masih ingat Tuan Alex bukan?" Intan tersenyum kepada ayahnya. Meskipun ia agak curiga, sebenarnya apa maksud ayahnya mendatangkan tamu terhormat ini. "Tentu saja aku masih ingat Yah." Beberapa orang pelayan membawa nampan-nampan pesanan Abraham. Tiga mangkok Shrimp cocktail, nasi , sup kerang hijau siap dan beberapa menu lain bertema sea food membuat perut Intan keroncongan apalagi salad buah segar seperti memanggil-manggil untuk segera dilahap. "Sayang sekali, aku tak bisa melahapnya karena pria terhormat ini." Intan membatin. Beberapa kali ia menelan ludah karena dia tidak bisa memulainya. "Ayo,. silahkan silahkan..." "Baiklah Paman. Silahkan Paman menikmati hidangannya. Dan Intan.. sepertinya kamu sudah lapar." "Hmm, tentu saja. Aku belum makan sejak tadi siang ." Tangan Intan mengambil sepiring penuh nasi putih dan menuang semangkuk sup kerang di atas nasi. "Intan?!" Protes Abraham. "Ha ha ha...kamu benar-benar lapar ? Aku tahu, kesibukanmu membuatmu lupa makan ya...ha ha ha." Abraham tertawa dan di ikuti juga Andre. "Ayah, makanlah yang banyak. Dan terimakasih telah mengajakku kesini." Mulut penuh Intan membuat suaranya terdengar lucu. Andre hanya mengamati sambil tersenyum. "Ya! Tentu ayah akan makan banyak seperti kamu." Meskipun kesal Abraham berusaha menutupi kekesalannya melihat putrinya bertingkah aneh. Abraham memanggil pelayan untuk membersihkan meja mereka dan meninggalkan hidangan penutup. Intan mengelap mulutnya yang belepotan sambil sesekali melihat pria disebrangnya itu. "Intan, Ayah mengundang Andre dan mengajakmu ketempat ini karena ada sesuatu yang akan ayah sampaikan kepadamu. "Kalian tentu mengerti dengan apa yang saya maksud!" Intan memutar bola matanya. Masalah itu adalah tentang rencana perjodohan antara dirinya dengan Andre ketika masih duduk di bangku sekolah menengah. "Tapi ayah! Itu dulu ! Tapi itu sudah tidak berlaku setelah aku menikah dengan Baskoro! Ayah tidak bisa memisahkan dan menikahkan aku semau ayah!!" "Pernikanmu itu tidak pernah Ayah akui." Ucap Abraham cukup tenang. "Dan lagi pula, aku sudah seorang janda sekarang. Apakah kamu tahu itu Andre?!" Andre menatap Intan, mencari jawaban yang pantas ia katakan. "Intan, kami sekeluarga sudah mengetahui kejadian lima tahun yang lalu. Tapi bagi saya itu bukan masalah..!" Badai seakan menghantam kepala Intan. Lima tahun yang lalu itu adalah masalah besar baginya. Bagaimana bukan masalah? "Benar, kami semua sudah melupakan kejadian itu. Dan Andre tetaplah calon suamimu !" Intan mengangkat bokongnya, kekenyangan membuatnya ingin muntah. "Ayah, aku masih belum ingin memikirkan ini. Sebaiknya aku pulang saja duluan!" Abraham menggelengkan kepala melihat kepergian Intan. Dia tahu sifat putrinya yang keras kepala tak jauh dari ayahnya. Sementara Andre hanya tersenyum. "Aku akan melihat bagaimana kamu akan menghindar dariku!" Bisik batin Andre.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD