Jelmaan

2618 Words
Makan malam tersaji rapi di atas meja yang panjang, berbagai hidangan telah mengeluarkan aroma lezatnya yang menggiurkan hidung mereka, dan menggertak setiap perut untuk segera menyantapnya. "Sekarang mari kita mulai makan!" ajak Dave memimpin. Satu persatu dari mereka duduk di kursi yang berjejer panjang, sepanjang meja makannya. Tak perlu menyajikan makanan, karena berbagai pelayan selalu sedia untuk melayani mereka. Jadi, mereka tinggal menyendok saja dan memasukkannya ke dalam mulut. Begitu mudah hidup mereka, hingga lupa akan kehidupannya setelah kematian. Mereka sudah mulai menyendoknya, bahkan ada yang sudah melahapnya. Mereka begitu asyik menikmati makanan lezat yang langsung dari koki terkenal restoran. Nada panggilan masuk dari ponsel Dave. Ia hentikan makannya sejenak dan mengangkat teleponnya. Setelah berbicara dengan penelepon, seketika mukanya berubah. Ia menatap teman-temannya, seperti teringin mengatakan sesuatu. "Ok guys, kalian mau dengar berita gembira?!" serunya dengan wajah seringai. Semua sudah menyiapkan telinganya, untuk mendengar kabar apa yang akan Dave sampaikan. "Besok kita akan ada pesta, so are excited?!" "Are you seriously?!" serentak mereka bersamaan. Dave menganggukkan kepalanya, "Of course!! Perusahaan kita akan ada promosi, jadi kita adakan pesta.” “Ya, Devina akan menyanyi untuk kita semua!” seru Victor. “Apa maksudmu Victor, ini tidak ada dalam rencana kita!” elak . “Oh ayolah nona Bose! Sudah lama kami tak mendengar lagumu!” Krystal bahkan ikut memojokkan Devina. Devina adalah seorang penyanyi, semua teman-temannya memintanya untuk bernyanyi. Dia sering menjadi juara kampus saat kuliah dulu, dan sejak saat itu Devina tak lagi terlihat manggung. Jadi teman-temannya menggertaknya untuk kembali menguasai mix di atas panggung. “Turuti saja Ruch, lihat sepetinya Victor ingin sekali mendengar lagu cintamu!” tambah Dave. Devina melirik ke arah Victor yang begitu mengharapkan agar dia menyanyi di pesta nanti. Matanya yang dalam itu menggambarkan begitu banyak pengharapan. Devina sepertinya juga punya perasaan terhadap pria polos itu. Pria yang tak berani mengungkapkan perasaannya pada orang yang dicintainya. Bahkan Devina sudah memberinya begitu banyak kode, namun Victor tetap tak mau menunjukkan kejantanannya. “Baiklah!” Akhirnya Devina menyetujui permintaan teman-temannya itu, terutama Victor. . “Ok guys, good night and sweet dream for you all!" Dave beranjak ke atas menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. "Yey!" teriak mereka kegirangan. “Sudah malam, mari kita tidur!” ajak Nia. Satu persatu dari mereka menaiki tangga. Ada 3 lantai yang menyusun rumah besar itu. Dan kamar mereka ada di lantai nomor 2, sedangkan lantai ke tiga di gunakan untuk bersantai melihat pemandangan kota yang bisa mereka ekspos dari lantai 3. Sebagian dari mereka adalah sepasang kekasih, namun mereka tidak diizinkan Dave untuk tidur satu kamar. Dave takut akan kelalaian mereka yang belum sah di mata hukum. Jika mereka dibiarkan terlalu bebas, hal itu akan membawa Dave dalam masalah. Orang tua mereka akan menyalahkan Dave sebagai orang pertama yang bertanggung jawab langsung bagi mereka. Karena Dave sudah menandatangani kontrak dengan para orang tua mereka. Akhirnya mereka memasuki kamar satu persatu. Setiap kamar saling berjejer, jadi ada tujuh deret kamar yang memenuhi lantai dua. Malam yang semakin larut membuat mereka segera terlelap untuk menyongsong esok yang cerah. Di Hari berikutnya ... Gemerlap lampu memancarkan kerlap-kerlipnya, sebuah pesta besar telah digelar di sebuah bar perusahaan. Minuman, bir, anggur, alkohol tersaji rapi di antara meja-meja kaca. Pekikan orang kegirangan, teriak histeris, menikmati setiap momen. Lampu meredup, hanya secercah lampu sendu yang dibiarkan menyala. Musik romantis terputar, alunan nadanya menghipnotis setiap pasangan. Ternyata Devina yang membawakan lagu untuk menghibur mereka. Tak bisa dipungkiri, suaranya itu begitu merdu. Seperti ada keajaiban di pita suaranya. Ravi berdansa dengan Nia. Tarian sendu penuh romantis ia ciptakan, gerakan senada saling berirama. Di bawah nyala lampu yang sendu mereka terus memadu cinta tanpa ada rasa canggung sekalipun. "Kau adalah hidup dan jiwaku!" bisik Ravi di telinga Nia. Nia tersipu, ia memalingkan wajahnya. “Berhentilah menggodaku Ravi, lihat semua orang memandangi kita!” tukas Nia. Ravi menata kembali wajah Nia agar menatapnya. “Aku tidak peduli dengan semua orang, aku hanya ingin menikmati malam kita berdua, sepanjang waktu. Ngomong-ngomong malam ini adalah malam spesial bagiku, apa kau tak mengingatnya?” “Bagaimana aku bisa lupa kalau besok adalah hari ulang tahun kekasihku. Katakan, kado apa yang kau inginkan dariku?” tanya Nia. Ravi menyentuh pipi lembut kekasihnya itu, dan berbisik di telinganya. “Ciuman!” lirihnya, ia hendak mencium pipi lembut Nia, namun tiba-tiba lampu disko menyala terang. Seorang penari tiba-tiba muncul menghebohkan suasana, pandangan semua orang terfokus padanya. Seorang wanita cantik bergaun seksi tengah menari, menggerakkan tubuh indahnya bak kupu-kupu malam. Gerakkannya yang lues menyihir setiap mata yang melihatnya. Penari itu menebar pesona di antara para pria, perlahan ia mendekat ke arah Dave yang sedari tadi terpaku padanya. Ia gerakkan tangan lembutnya menyentuh d**a Dave, dan mengajaknya berdansa bersama. Penari itu melakukan gerakkan seseksi mungkin dan beralih menggoda pria lainnya. Musik telah berhenti, penari itu juga telah menghentikan tariannya. Wajah cantiknya terpampang sempurna mengagumkan setiap mata yang memandang. Gaya jalannya yang seperti model dengan kaki ramping nan aura memesona, tak kalah dengan Nia. Ia bergerak melangkah menuju ke arah Dave yang telah asyik minum dengan teman-temannya. "Hi guys!" sapanya dengan nada lembut. Dave terhipnotis, belum pernah ia melihat gadis secantik itu. Aura dan pesonanya begitu memikatnya. Ia tak sadar sampai melongo menatapnya. Dave terus menatapnya tanpa henti. Kali ini ia harus mengubah cara pandangnya yang untuk tetap melajang. "Bolehkah aku gabung?!" tanya gadis itu pelan. "Tentu saja, kemarilah!" ujar Dave semangat. "What your name?!" tanya Simon . "Selena!" jawab penari itu mantap. "Beautiful name!" sahut Dave. “Hi, i am Dave !" lanjutnya memperkenalkan diri. "Dan mereka teman-temanku, Victor , Krystal, Simon ," Dave memperkenalkan semua teman-temannya. "Sepertinya kalian sudah berteman lama!" seru Selena. "Kau benar, kami semua bahkan seperti keluarga!" mantap Dave.. "Kalau kau mau, kau bisa bergabung dengan kami," tawar simon.. "Benarkah? Ini sesuatu yang luar biasa!" kagum Selena. “Asal kau setara dengan kita!” Nia tiba-tiba menyahut yang baru datang dengan Ravi. Selena menatap ke arahnya dengan penuh keheranan. “Maksudmu?” “Kami semua di satukan karena kekayaan, jadi siapa pun yang berpangkat dengan kami boleh menjadi teman kamu!” jawab Ravi yang mulai sombong. “Oh!” Selena memperlihatkan senyum manisnya. “Apa putri seorang polisi tidak boleh gabung dengan kalian?” Mendengar perkataan Selena seketika membuat mereka tertegun sekaligus menelan ludah. Wajah-wajah sombong dari mereka seketika sayu begitu mendengar pernyataan dari gadis bergaun merah itu. “Kenapa kalian menjadi tegang? Tenanglah aku tidak akan menangkap kalian. Selain polisi ayahku juga seorang pengacara terkenal. Kami juga hidup bergelimang harta, tapi aku lebih suka menari di tempat seperti ini!” jelas Selena sembari mengedarkan pandangannya ke atas. “Luar biasa, bahkan putri seorang polisi juga sangat mengasikan. Tentu saja kau boleh gabung dengan kami,” kata Krystal. “Ya, apa salahnya memiliki teman seorang putri dari polisi. Kalau kita tertahan nanti, kita tak perlu cari pengacara lagi. Karena Selena yang menolongnya, benarkan Selena?” Nia mencoba mengambil keuntungan dari seorang Selena. “Ayolah teman, meskipun aku suka akan kehidupan malam, tapi aku tak sebebas itu. Harga diri ayahku yang menjadi taruhannya. Ngomong-ngomong, kalian terlalu bebas, apa orang tua kalian tak marah?” tanya Selena. Krystal tertawa mendengar pertanyaan Selena. “Kami sudah mendapat golden tiket dari orang tua kami! Dia tidak akan marah pada kami!” sombongnya. “Kau mau tahu siapa? Dave! Dia orang tua kami!” Dave menatap ke arah Selena. “Oh ya, orang tua mereka mempercayakan anak-anaknya padaku!” jelas Dave. “Menarik!” ucap sembari mengangguk-angguk kecil. “Devina!” panggil Victor Ia melihat Devina sudah berjalan menghampiri mereka. Rupanya gadis itu telah selesai dengan tampilan menyanyinya tadi. Bahkan sebelum datang menari menghebohkan semua orang, ia sudah tak di panggungnya lagi. Mungkin saja ia tengah ke kamar mandi tadi. Selena melihat Devina yang berjalan ke arahnya, tepatnya tertuju pada mereka, teman-teman barunya. “Siapa dia?” tanyanya. “Dia juga bagian dari kami!” seru Victor, sembari menatap ke arah Devina. “Hi guys!” sapa Devina ketika sudah berhadapan dengan mereka. Matanya melirik ke arah Selena. “Hi, apa kau penari tadi?” tanyanya pada Selena. Selena menganggukkan kepalanya. “Iya, dan kau yang menyanyi tadi kan? Suaramu begitu indah!” pujinya. “Selena!” lanjutnya lagi memperkenalkan diri. Devina tersenyum sejenak sebelum menjawab. “Terima kasih! Aku Devina! Ngomong-ngomong tarianmu juga indah!” Nada suara panggilan masuk dari ponsel Dave membuyarkan pembicaraan mereka. Dave memberi isyarat untuk pergi dan mengangkat teleponnya pada mereka. Mereka semua melanjutkan menikmati pestanya lagi. Tak lama setelah Dave berbicara pada penelepon itu, ia kembali lagi bergabung bersama teman-temannya. Ia melihat Selena mulai begitu akrab dengan teman-teman yang sudah seperti adiknya itu. Wajar saja, karena pesona Selena mampu menyihir siapa pun, itu yang Dave pikirkan. Ia melangkah menuju ke arah mereka yang masih berdiri di dekat meja sajian. “Apa kau menikmatinya?” tanya Dave tertuju pada Selena. “Teman-temanmu sangat luar biasa Dave, mereka mengasyikkan,” ucap Selena. “Minum?” Dave menyodorkan segelas minuman beralkohol padanya, namun ia menghentikan aksinya sebelum gelas itu disentuh Selena. “Oh aku lupa, aku sedang berhadapan dengan putri polisi. Maaf, kau tak mungkin minum seperti kami kan? Kau bisa meminum jus kalau kau mau?” pungkas Dave, lalu meletakkan segelas minuman itu lagi di atas meja kaca. Namun Selena malah mengambilnya, begitu gelas itu menyentuh meja. “Untuk kalian, segelas saja tak masalahkan?” serunya. “Ufff ... Kau memang cocok menjadi bagian dari kami!” kata Simon. “So ... Guys! Marilah kita nikmati pesta malam ini!” tambah Ravi sembari meraih segelas lagi, padahal sudah beberapa gelas ia habiskan. Mereka semua bersama-sama mengambil segelas minuman beralkohol yang tersaji di atas meja kaca itu. Dan sama-sama meminumnya. Begitulah kehidupan para pemuda kota itu lakukan, berhura-hura dan menikmati setiap pesta. Sangat meng Malam semakin larut, dan suasana pesta pun tak ada bedanya. Masih meriah, dan bahkan semaraknya semakin histeris. Sebagian dari mereka asyik berjoget di tengah lantai dansa dengan musik jaz yang begitu menggetarkan gendang telinga. Selena melirik ke arah jam tangannya yang mengikat di pergelangan tangan. Sudah menunjuk pukul 11 malam lebih, namun pesta belum juga berakhir. Tapi, ia mengakui berbicara dan berbaur dengan mereka begitu mengasikan. Walau ia menyadari kalau mereka adalah lingkaran hitam yang mungkin saja bisa menjeratnya juga. “Sampai kapan pesta ini berakhir?” tanyanya pada mereka. “Pesta ini tidak akan berakhir sebelum jam 1,” jawab Dave . “Apa kalian sering berpesta selarut ini?” tanya Selena lagi. Lagi-lagi Dave yang menjawab. “Iya, dan ini lebih berbeda. Hari ini salah satu dari kami ada yang ulang tahun!” “Kekasihku yang ulang tahun!” sahut Nia, sembari menggandeng lengan Ravi. “Oh wow selamat ulang tahun buatmu, Ravi!” ucap Selena. “Kau bisa mengucapkannya nanti, ini belum jam 12,” seru Ravi. “Aku ingin mengucapkannya yang pertama kali,” kata Selena. “Kau merebut kesempatan itu dariku,” canda Nia. Mereka semua tertawa. Dan melanjutkan berbincangnya lagi, sembari menunggu waktu tengah malam. Tepat jam 12 nanti, pesta ulang tahun Ravi baru akan dimulai. "Kalian lanjutkan mengobrol, aku akan menemui beberapa klien,” kata Dave pada mereka. Ia lalu beranjak menemui kliennya dan meninggalkan teman-temannya. “Teman, apa kalian akan duduk mengobrol di sini? Mari kita bergabung dengan mereka, menari di bawah lampu disko!” ajak Simon. “Kalian nikmati, aku lagi enggak mood!” tolak Nia. “Ayolah Nia, kenapa kau begitu membosankan seperti ini?” Devina ikut memaksa. “Kalian ke sanalah! Aku akan menemani Nia di sini!” ujar Ravi. Victor menarik tangan Ravi hingga berdiri dari duduknya. “Oh teman, kekasihmu itu tidak akan hilang. Ini adalah harimu, dan mari kita menikmatinya!” “Yeah, mari kita nikmati hidup ini selagi masih bisa!” sahut Simon. “Benarkan Selena?” Selena tersenyum. “Kalian benar. Tapi aku lagi tak ingin, kalian nikmati saja. Aku akan di sini dengan Nia.” “Yeah, Baiklah kalau kalian berdua tak mau. Mari kawan kita sana semua!” Victor menggeret Ravi dan di susul teman-temannya. Mereka begitu heboh memainkan pesta malam kala itu. Sedangkan Nia dan Selena masih duduk di antara meja kaca yang tersaji berbagai macam minuman. Mereka berdua pun tak kalah asyik untuk saling mengobrol. “Apa kau selalu minum minuman itu?” tanya Selena, matanya terfokus pada segelas minuman beralkohol yang Nia genggaman. “Ini sudah menjadi kebiasaanku. Bagiku, ini seperti air putih,” jawab Nia. “Kenapa kau tak coba jus anggur ini? Ini juga begitu berfantasi!” Selena menyodorkan segelas jus anggur itu pada Nia. Nia meletakkan gelasnya yang sudah tak tersisa alkohol lagi, lalu ia meraih segelas jus itu. Ia meminumnya sedikit, namun sepertinya itu malah membuatnya pusing. Ia meletakkan kembali jus itu dan mengelus keningnya. “Kau kenapa?” tanya Selena. “Tak apa Selena, aku mungkin kebanyakan minum. Aku akan ke kamar mandi dulu!” ujar Nia yang kemudian berlalu menuju kamar mandi. Selena mulai bosan. Ia mengawasi setiap sisi, begitu banyak kehebohan yang terjadi. Pesta malam? Bahkan ia tak menyangka akan mendapatkan teman-teman yang gaya hidupnya bak seorang anak raja. Ia melihat betapa hebohnya teman-teman barunya itu, menari tiada henti di tengah pekikan orang-orang. Malam semakin membuta. Pertengahan menuju hari esok sudah hampir menyongsong, dan jam sudah hampir menunjuk pukul 12. Ravi tengah asyik berjoget dengan kepala yang terpenuhi alkohol. Tiba-tiba seorang pria menghampirinya, memberikan sebuah lipatan tisu putih padanya. Ravi membukanya, ia membaca isi tulisan yang tergores dalam secarik kertas tipis itu. "Datanglah ke ruang atas, aku menunggumu. Your love, Nia!" Terdapat juga bekas bibir dengan lipstik merah yang tergambar di tisu. Ravi tersenyum, ia tahu pasti Nia yang mengirimnya. Segera ia beranjak ke ruang atas meninggalkan teman-temannya yang masih heboh. Terdapat kamar dengan kerlap-kerlip lilin yang menyala indah. Ravi membuka kamar dan menutupnya kembali rapat-rapat. Ia melangkah lebih dalam, terlihat seorang wanita berdiri menghadap belakang di depan jendela, ia berpikir itu pasti kekasihnya, Nia. "Nia?!" panggil Ravi pelan. Lantai kamar itu dipenuhi berbagai lilin yang menyala terang, dan di tengahnya terlukis hiasan indah dengan tulisan 'Happy Birthday Ravi'. Ruangan sekotak itu dibiarkan gelap, dan hanya berbagai lilin itu yang meneranginya. Ravi berpikir ini semua pasti Nia yang menyiapkan untuknya. Ia mencoba mendekati wanita yang ia sangka Nia yang masih berdiri di depan jendela. “Nia, apa kau yang menyiapkan semua ini?” “Siapa lagi?” ucap wanita itu, dan suaranya memang seperti suara Nia. “Aku menyiapkan semua ini hanya untuk kekasihku tercinta!” “Kalau begitu, kemarilah dan peluk kekasihmu ini.” “Kenapa Ravi? Kenapa terlalu berburu-buru? Apa kau tak besok kau tak lagi bertemu lagi denganku?” Ravi tersenyum. “Ayolah Nia, bagaimana aku bisa hidup tanpa dirimu? Aku akan selalu bertemu dan bersamamu!” “Lalu bagaimana jika takdir berkata lain?” Nia membalikkan tubuhnya, ia mulai berjalan ke arah Ravi. “Aku akan melawan takdir itu sendiri. Jika aku tak bersamamu, maka lebih baik aku mati saja!” ujar Ravi. Gadis itu memiringkan senyumnya, dan berdiri tepat di hadapan Ravi. “Kalau itu yang kau inginkan, maka aku akan mempermudah jalanmu!” Gadis yang mirip dengan Nia itu tiba-tiba menodongkan pistol tepat di kepala Ravi. Ujung pistol tempat keluarnya peluru sudah mendarat tepat di kening, tinggal satu gerakan saja sudah mampu melontarkan peluru itu dan menembus ke otak. “Apa yang akan kau lakukan?” Ravi terkejut, sekaligus gemetaran. Dorr! Dorr!! Dorrr!! Tiga tembakan terlontar, setiap pelurunya begitu saja menembus kening Ravi dan menerobosnya tanpa ampun. Seketika Ravi tergeletak menghantam lantai. Darah segar membanjiri dari lubang keningnya. “K-kau ... P-pembunuh ...!” ucapnya terbata-bata, dan langsung begitu saja menutup matanya. Nafasnya sudah tak mengembus lagi. Tangan gadis itu meraih lilin yang memancar dari lantai, kemudian membakar tirai kamar itu hingga menyembulkan api besar. Kamar itu terpenuhi api yang mulai merantak, dan menyembulkan asap hitam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD