Serangan Zombiee

1046 Words
"Devina!" Dave bergumam setelah terkejut mendengar teriakan adiknya. "Victor ayo kita lihat!" ajaknya pada pria yang masih memilih senjata. Dave dan Victor kemudian bergerak dengan membawa pistol masing-masing. Mereka menuju ke arah sumber suara, hingga di temukan sang adik tersebut di sel bawah tanah. "Devina, apa yang yang terjadi?" tanya Dave begitu sampai di belakang wanita itu. Menyentuh punggung adiknya yang gemetar. Devina masih tak mampu untuk mengeluarkan sepatah kata apa pun. Matanya melotot dan tubuhnya bergetar hebat. Tangan kanannya perlahan ia gerakkan, dengan gemetar menunjuk ke arah pria tadi yang tengah dimangsa oleh sekawanan tahanan yang ternyata sudah menjadi mayat hidup. "Oh my God!" Victor membungkam mulutnya saat melihat pemandangan mengerikan tersebut. "Tolong aku!" Suara pria di dalam sana terdengar merintih, menginginkan sebuah pertolongan. Tangannya tinggal separuh sedangkan tubuhnya berlumur begitu banyak darah. Niat hati ingin membebaskan mereka, malah dirinya sendiri yang menjadi mangsa bagi mereka. "Sebaiknya kita cepat pergi dari sini!" Dave berkata cepat. Jantungnya sudah mulai terpacu saat membayangkan hal-hal mengerikan di depan matanya. Pria dia dalam sana mencoba meraih sel besi, tetapi lehernya langsung disigit dan tak lama pria itu mulai terinfeksi menjadi seperti mereka. Sementara anjingnya terus mengonggongi. Sekawan mayat hidup tersebut mulai bergerak. Begitu semangat saat melihat Devina, Dave, dan Victor yang berdiri di anak tangga tak jauh tersebut. Serupa melihat makanan terlezat di dunia. Salah satu dari mereka membekam anjing yang terus menggonggong lantas memangsanya dengan begitu buas. Mencabik-cabik hingga anjing tersebut tak lagi bernafas. Darah yang menodai tubuh mereka semakin memberikan kesang mengerikan. "Ayo cepat pergi!" gertak Victor. Mereka bertiga mulai membalikkan tubuh. Menggerakkan kaki menaiki tangga dengan cepat, tetapi tiba-tiba salah satu zombie tersebut meloncat dan mencekal kaki Devina. "Aargh! Dave!!!" Devina berteriak saat kakinya diseret turun. "Devina!" Dave memutar tubuh. Terkejut dan mulai bergerak cepat menuruni tangga. Meraih tangan wanita itu dan menariknya ke atas. Namun zombie di bawah sana tak mau kalah. Tangannya yang memiliki kuku tajam mencengkeram kaki mulus Devina hingga kaki tersebut berdarah. "Aarghh!" Devina menjerit. "Sial!" Dave mengumpat kesal. "Victor, lakukan sesuatu!" pintanya pada pria yang berdiri gemetar di sampingnya. Victor memandangi pistol di tangannya. Segera mengoperasikankan dan menembakkan langsung tepat di tubuh zombie tadi. Dor! Dor! Suara tembakan tersebut mengiang. Mayat hidup yang mencekal kaki Devina tadi mulai melepaskan pegangannya dan tergeletak. Sekawanannya mulai mendekat dan memangsanya. Menggerogoti tubuhnya bagai seorang kanibal saja. Dave segera membantu Devina berdiri. Meraih tubuh adiknya tersebut dan memeluknya. Sebagian zombie zombie melihat mereka yang hendak melarikan diri mulai mengejar. Menaiki tangga bagai binatang buas saja. Tak lupa suaranya yang seperti serangga mengamuk. Begitu mengerikan. "Devina, ayo!" Dave menggandeng Devina. Devina menahan rasa sakit di kakinya dan terus mencoba berjalan. Sementara Victor yang siaga membawa pistol terus menembaki zombie-zombie tersebut hingga satu persatu dari mereka terjungkal dan jatuh terkena tembakan. "Sial!" Dave menghentikan langkahnya saat di depan sana terdapat tiga zombie yang menghadang. Entah dari mana para zombie tersebut. Tetapi penampakannya lebih mengerikan lagi. Kakinya tak ada yang tegak. Lututnya bengkok dan mengeluarkan banyak darah. Kulitnya keriput, pun begitu dengan lengannya yang memiliki jari-jari tajam kerinting. Bola matanya menonjol bahkan hampir terjatuh dan mulutnya memuntah cairan merah kental. Dave mengambil pistolnya di saku dan mulai mengoperasikannya. Gegas ia menembaki satu persatu zombie tersebut hingga peluru menembus tubuhnya. Namun, tak semudah yang ia bayangkan. Zombie tersebut seperti memiliki nyawa cadangan. Sementara Victor juga mulai kewalahan. Zombie yang naik semakin banyak. Devina mengambil napas cepat. Bergerak pincang ke arah tempat senjata senjata disimpan. Ia mulai menggeledah dan menemukan sebuah pistol panjang. "Victor, cepat ambil peluru lagi. Biar aku yang mengatasinya!" perintah Dave, yang kini tubuhnya menempel di punggung Victor. Mereka saling bahu membahu menembaki zombie yang mengepung dari segala arah. "Tapi bagaimana aku bisa bergerak ke sana. Mereka akan meloncat dan menggigitku," ujar Victor. "Kita tidak bisa membiarkan senjata kita ini kehabisan peluru. Itu akan jauh lebih berbahaya!" Dave masih saja mengoceh. "Baiklah baiklah!" Victor tampak menggerutu. "Hei!" Suara Devina berteriak lantang. Bukan ditujukan pada Dave maupun Victor. Tetapi untuk para zombie yang menyerang mereka. Devina dengan berani berdiri dengan sebuah senapan panjang di tangannya dan siap untuk ditempatkan. Detik berikutnya, senjata tersebut berdengung dan beberapa peluru keluar dari lubang secara bergantian dan menembaki para zombie. Dor! Dor! Dor! Peluru tembakan itu bersuara seirama dan menembus tubuh tubuh zombie tersebut hingga satu persatu dari mereka mulai terkapar. Berganti ke arah lain, menghabisi zombie yang menghalangi jalan Dave. Selesai. Zombie tersebut ambruk dengan darah membanjir dan tak lagi bisa bangkit. Dave tertegun melihat adiknya. Ah, bukan tertegun, lebih tetapnya terkagum. "Lihatlah siapa pahlawan wanita itu?" seloroh Dave ke arah Devina. "Diamlah, Dave! Dan ambil ini!" Devina melemparkan senapan pistol tersebut ke arah Dave. "Kau memang jagoan!" puji Victor. Kemudian bergerak menuju tempat senjata. "Dave, sebaiknya kita bawa semua senjata-senjata ini beserta pelurunya," saran pria itu. "Baiklah, ayo. Sebelum zombie itu datang lagi!" Mereka bertiga mulai meringkus beberapa senjata yang sekiranya sangat dibutuhkan. Membawanya keluar dan bergerak ke arah mobil mereka. "Sial! Kita sudah sangat terlambat. Teddy pasti sudah pergi jauh!" Victor mengusap kepalanya dengan ekspresi frustasi. "Tenanglah. Kita pasti akan menemukannya." Devina mencoba menghibur pria itu. "Kau punya kain?" Dave bertanya pada Victor. Pria itu mengerling heran. "Untuk apa?" Dave tak menjawab membuka pintu mobil dan meraih ransel Victor. Membuka resletingnya dan mengambil kaus berwarna hitam. Ia langsung merobeknya begitu saja. "Hei, apa yang kau lakukan?" Victor masih terheran. "Tenang, kau bisa mengambilnya yang baru di mall nanti. Gratis, tanpa perlu bayar!" ujar Dave sembari bergerak ke arah Devina. Tiba-tiba merendahkan tubuh dan mulai membelenggu kaki adiknya tersebut yang terluka tadi dengan kain bekas kaus Victor. "Astaga, Dave!" Devina sedikit terkejut. "Diamlah! Sudah tanggung jawabku menjagamu. Aku tidak mau ibu dan ayah sedih jika kau terluka," ujar Dave sembari mengaitkan ujung kaing tersebut dan mengikatnya. "Selesai." Pria itu mendirikan tubuh. "Kalian punya orang tua? Maksud ku apa orang tua kalian masih hidup?" Victor bertanya pada mereka. Dua kakak beradik tersebut langsung terdiam menunduk. "Hei, aku bertanya. Tapi jika kalian tidak mau menjawab ya sudah." Victor merasa bersalah setelah melihat ekspresi kakak beradik tersebut. "Lupakan, sebaiknya kita cepat cari anakmu!" Dave mengalihkan pembicaraan. "Ayo!" Pria itu menggerakkan kaki melangkah menuju ke arah pintu mobil dan mulai memasukkan tubuh ke sana. Devina membuntutinya, duduk di bangku belakang. Sementara Victor di samping Dave seperti biasa. Mobil pun mulai melaju meninggalkan tempat tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD