Salah Paham

1092 Words
Senja kala itu redup lantaran langit kembali dihuni awan gelap. Seakan badai besar hendak datang menyerbu kota. Mobil Victor masih saja menyusuri jalanan tanpa tahu arah dan tujuan sebenarnya. "Sudah sore dan sebentar lagi malam dan kita belum mendapatkan perkembangan berita tentang anakku." Victor memukul setir dengan tangan kanannya. "Di mana kau Teddy…," ucapnya cemas. "Bagaimana kalau kita istirahat sejenak." Dave memberi saran. "Dengar, Victor, bukan berarti aku menunda pencarian, tapi tidakkah kau merasa letih. Mungkin kita bisa mencari minum dan makanan di sekitar sini." Dave melihat ke luar jendela. "Lihatlah, sepertinya badai akan tiba malam ini. Kalau kita terus-menerus menyusuri jalanan, itu akan lebih berbahaya," sambung pria itu. "Baiklah." Akhirnya Victor menyentujuinya. "Lihat, ada toko di sana. Sepertinya itu toko makanan." Devina menunjuk pada sebuah toko besar di pinggiran jalan yang menjual makanan Snack. Victor segera menepikan mobilnya. Mengerem saat sudah berada di depan sana. "Ayo kita keluar dan mengambil beberapa makanan dari sana!" ajak Devina. "Apa kalian akan mencuri?" Victor bertanya dengan sorot mata yang memandang ke arah toko tersebut. "Kami akan meminta jika ada penjaga tokonya. Tapi kalau tidak ada ya sudah. Terpaksa kita mengambilnya," ujar Dave. "Sudahlah, ayo!" Dave membuka pintu mobilnya dan mulai keluar dari sana. Matanya tertuju pada langit yang tampak gulita, juga betapa sepinya suasana di sana. "Kau tidak ingin keluar?" Devina bertanya pada Victor yang masih duduk di tempat. "Kalian saja yang mengambilnya," ujar pria itu malas. "Kenapa? Apa kau tak ingin berbuat dosa karena mencuri?" "Bukan seperti itu. Aku hanya malas. Aku masih sedih memikirkan anakku," jawab Victor. "Baiklah, aku mengerti. Kau tunggu sini saja. Kami hanya akan mengambil beberapa makanan juga minuman lalu kembali ke sini." Devina membuka pintu mobil dan mengeluarkan kakinya menapaki jalanan. Matanya sedikit prihatin memperhatikan suasana tempat tersebut yang benar-benar seperti kota mati. Wanita itu bergerak ke arah Dave yang sudah mulai memasuki toko. "Di mana Victor? Dia tidak ikut?" tanya Dave. "Dia masih sedih mengingat putranya. Sebaiknya kita segera ambil kebutuhan makanan di sini dan kembali mencari anak itu," ujar Devina. Tanpa mereka sadari, Simon ternyata juga sudah berada dalam toko tersebut. Pria itu tampak memasukkan beberapa kaleng s**u juga roti ke dalam saku jas hitam yang berukuran besar tersebut. "Dave, pistol mu." Devina memberitahu Dave saat melihat pistol di saku celananya itu hampir terjatuh. "Oh!" Pria itu menghentikan langkah. Mengambil pistolnya dari saku belakang. "Kenapa kau membawanya ke sini? Kau seperti seorang perampok saja," seloroh Devina. "Aku hanya berjaga-jaga saja. Mengingat zombie zombie itu ada di mana-mana." Dave tampak mengutak-atik pistol tersebut. Tanpa sengaja ia melepaskan pelurunya hingga mengenai kaleng-kaleng s**u dan menimbulkan bunyi yang mengagetkan siapa pun. Bahkan Simon yang berada di dalam sana langsung menyembul kaget. Pria baya itu melihat Dave dan Devina yang tengah berbincang. Menjadi takut saat melihat pistol di tangan Dave. Ia memutuskan untuk bersembunyi dan mengatur napasnya yang masih memburu. "Dave! Apa yang kau lakukan!" Devina yang juga terkejut tampak menegur dengan sedikit kesal. "Sorry, aku tidak sengaja," ujar Dave santai. Karena ia mengira tidak ada siapa pun di dalam toko tersebut. "Kita harus menemukan anak itu secepatnya." "Siapa? Teddy maksudmu?" tanya Devina. "Siapa lagi. Secepatnya kita harus menemukannya. Anak itu menjadi tujuan kita sekarang ini," ujar Dave sembari mengelus-elus pistolnya. Simon yang mendengar serta melihat gerak gerik pria itu menjadi salah paham. Ia mengira kalau Dave adalah orang jahat yang hendak menculik Teddy. Karena itu ia harus tetap bersembunyi. "Cepatlah kau ambil semua barang-barang kebutuhan kita dan ayo kembali ke mobil," perintah Dave. Mereka berdua segera mengambil makanan Snack, roti, serta minuman-minuman. Devina bergerak ke arah rak yang berisi kaleng-kaleng s**u, dan tepat di belakang rak tersebut merupakan tempat persembunyian Simon. Simon yang menyadari wanita itu mendekat ke arah mulai panik. Ia melangkah pelan berniat mencari tempat lain. Namun sialnya kakinya tersebut menyenggol kaleng s**u yang tergeletak di lantai hingga kaleng tersebut berbunyi. Devina yang mendengarnya terdiam seketika. Mencari ke arah sumber suara. "Ada apa?" tanya Dave yang melihat tingkah adiknya yang aneh. "Aku rasa aku mendengar sesuatu. Mungkin ada orang di sini." Devina bergerak mencari sumber suara tersebut. Menemukan sebuah kaleng yang menggelinding. Lalu ia melihat tikus yang meloncat dari atas rak. "Aarghh!" Wanita itu berteriak terkejut. "Devina ada apa?" Dave langsung mendekat. "Itu hanya tikus!" ujara Dave saat melihat tikus tersebut yang langsung terbiri. Untungnya mereka tidak melihat Simon yang sudah bersembunyi di bawah rak lain. "Sudah cukup? Ayo kita kembali ke mobil!" ujar Dave saat sudah memasukkan semua kebutuhan yang diperlukan ke dalam kantong plastik yang besar. Mereka berdua kemudian bergerak menuju pintu kaca dan keluar dari toko tersebut. Berjalan menuju mobil dan mulai memasukkan barang-barang tersebut ke dalam mobil. Simon yang masih di dalam sana tak lagi mendengar suara merdeka berdua. Akhirnya ia memutuskan keluar dari tempat persembunyian dan berniat untuk gegas keluar dari toko tersebut untuk segera menemui Teddy. Lantaran sudah cukup lama pula ia meninggalkan anak tersebut sendirian di sebuah kabin. "Aku rasa ini sudah cukup untuk makanan kita tiga hari ke depan. Kalau masih belum cukup, kita bisa mengambil lagi nanti di toko lain," ucap Dave. Lantas pria itu mengambil seputung rokok, memasukkannya ke mulut dan menyalakan ujungnya dengan korek api. "Kau mau?" Dave menawari Victor yang masih duduk di depan setir mobil. Pria itu menggelengkan kepala pelan. "Aku tidak merokok," ujarnya. "Kau harusnya belajar darinya, Dave!" timpal Devina pada kakaknya tersebut. "Merokok hanya akan merusak paru-parumu," sambungnya lagi. "Diamlah, Dokter! Kau tidak menjadi dokter saja sudah cerewet apalagi menjadi dokter beneran," celetuk Dave sembari menyedot puntung rokoknya, kemudian menyemburkan kepulan asapnya. "Dan kau berlagak seperti polisi benaran. Nyatanya kau hanya pencuri senjata dan pencuri makanan. Huh!" Devina melipat tangannya dengan memutar mata malas. Sementara Victor sedikit tersenyum melihat tingkah mereka yang mulai bertengkar seperti anak kecil saja. Simon memperhatikan mobil mereka yang masih terparkir di sana dan belum juga berpindah tempat. Namun ia tak bisa menunggu lebih lama lagi dan membiarkan Teddy seorang diri. Akhirnya ia pun memutuskan untuk keluar secara diam-diam. Lelaki baya tersebut membuka pintu kaca secara perlahan. Mengeluarkan tubuhnya yang kurus dengan sangat hati-hati. Dari dalam mobil sana, Victor tampak memperhatikannya. "Apa di toko tadi ada orang lain selain kalian?" tanya Victor pada Dave. "Tidak ada," jawab Dave santai. "Lalu itu siapa?" Victor berkata dengan sorot mata yang merujuk ke arah Simon yang diam-diam keluar dari dalam toko. "Sial, siapa itu?" Dave menyelidik. Segera keluar dari mobil. "Hei!" Ia berteriak. Tentu saja langsung membuat lelaki baya di sana terkesiap. Simon buru-buru berlari dari sana secepat mungkin. "Sial!" Dave membuang putung rokoknya yang masih banyak dan mulai mengejar Simon. Sementara Victor dan menggerakkan mobilnya maju membuntuti mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD