"Kondisi Maria melemah."
Dokter berbicara pada Irgi.
"Bagaimana bisa, dokter lihat sendiri kalau dia tampak sehat, bahkan dia sangat ceria."
Dokter mengeluarkan sebuah amplop putih besar dengan tulisan nama Rumahsakit ternama di Jakarta. Dokter juga menyalakan layar komputernya, mulai menjelaskan gambar yang ada di sana.
"Kankernya sudah menjalar, kalaupun mau dilakukan operasi harus secepatnya dilakukan. Tidak bisa menunggu lama lagi."
Irgi harus segera membaritahu Eza soal hal ini. Kalau terlambat sedikit saja, Irgi yakin nyawa Maria akan terancam. Selain itu Eza juga bisa secepatnya menyuruh ayah Maria agar mau melakukan transaplantasi sumsum tulang belakang itu.
* * *
Maria menggenggam rambutnya yang rontok, sesekali ia menyibak rambutnya.
Apa sebaiknya aku memotong habis rambutku?
Senyum tiba-tiba tersungging di bibir Maria.
"Maria ..."
Mamah Irgi masuk ke kamar Maria, beliau mendapati Maria yang sedang duduk di depan meja rias.
Dengan segera Maria menyembunyikan pelembab bibir dan bedak tabur ke laci meja rias itu. Selama ini Maria menyembunyikan segala rasa sakitnya. Bahkan saat malam datang, saat tubuhnya terasa nyeri, apalagi berat badannya kian menurun. Maria terpaksa memakai beberapa lapis baju hanya untuk menutupinya. Tujuan Maria hanya satu, ia tak ingin jika Ana melihat betapa sakitnya tubuh Maria saat ini.
Maria tak ingin jika beban hidup Ana bertambah, apalagi saat Ana tergeletak di rumahsakit, Maria benar-benar takut jika Ana akan meninggalkannya. Doa Maria selama ini hanya satu, ia ingin meninggalkan dunia ini lebih dulu sebelum Ana. Maria mau agar Ana hidup bahagia, Maria mau agar saat dirinya pergi nanti Ana sudah memiliki pasangan hidup agar Ana tidak kesepian.
"Masuk tante."
Dari kejauhan Mama Irgi menatap lengan Maria yang putih pucat itu, terdapat beberapa memar di sana. Maria yang sadar saat mamah Irgi menatapnya, ia segera menyembunyikan lengannya ke bagian belakang tubuhnya. Ia belum sempat memakai cardigan yang memang sehari-harinya selalu Maria gunakan.
"Apa kamu sibuk?"
Mamah Irgi mengalihkan pembicaraan, ia paham saat Maria bersikap seperti itu, mungkin Maria tidak mau jika mamah Irgi bertanya lebih detail lagi. Sebagai seorang yang hidupnya jauh lebih lama dari Maria, Mamah Irgi tau batasan mana yang harus ia langgar atau tidak
"Tidak, ada apa tante?"
"Hari ini kita pergi ke supermarket, tante mau ajak kamu belanja bulanan."
Rasanya seumur hidup Maria, ia belum sekalipun menginjakkan kakinya masuk ke sebuah supermarket. Mendengar ajakan mamh Irgi membuat Maria bersemangat.
Mamah Irgi merasa kasihan pada Maria, itulah kenapa ia merasa senang saat mendengar bahwa Maria akan tinggal di rumahnya. Mamah Irgi juga tidak mengijinkan Maria untuk tinggal di panti asuhan, justru kamar tamu yang dulu digunakan sebagai tempat menginap Maria, diubah menjadi kamar Maria.
* * *
Semamgkuk ramen tersaji di hadapan Ana. Saat Eza mengajak Ana untuk makan siang, Ana menunjuk ke salah satu stand ramen yang cukup ramai.
"Kamu suka ramen?"
Ana hanya menggeleng dengan tatapannya tak lepas dari semangkuk ramen itu.
"Kalau kamu tidak suka kenapa kamu memilih untuk makan di sini?"
"Ini pertama kali saya makan makanan itu."
Hati Eza kembali terenyuh, nyatanya di dunia ini memang benar ada manusia yang mungkin seumur hidupnya tidak pernah bisa menikmati fasilitas yang disediakan meski dalam bentuk perdagangan. Memang untuk menikmati fasilitas itu membutuhkan uang yang banyak dan terkadang bagi sebagian orang mengeluarkan uang banyak hanya untuk sebuah makanan yang habis sekali di makan tidak sebanding dengan kebutuhan hidup mereka yang begitu besar.
"Setelah ini, kamu bisa menikmati apapun yang kamu mau An."
"Saya akan sakit jika terus makan-makanan seperti ini." Ana membalas ucapan Eza.
"Bukan hanya ramen, kamu bisa menikmati apapun yang ada di pusat perbelanjaan ini."
Ana menghiraukan ucapan Eza, menjadi asisten dadakan Eza saja Ana sudah mendapat banyak tekanam dari orang terdekat Eza. Apalagi jika apa yang diucapkan oleh Eza barusan menjadi kenyataan, pastilah hidup Ana di kantor bagaikan neraka. Mulutbsiapa yang tidak akan menggunjing hubungan seorang pemilik perusahaan dengan seorang OB kantor.
* * *
Setelah selesai makan Ana dan Eza kembali melanjutkan berkeliling pusat perbelanjaan. Kini mereka berdua berjalan di daerah tenant yang menjual pakaian dan sepatu.
Tiba-tiba Ana berhenti berjalan, ia menatap sebuah sepatu berwarna biru muda yang dipajang di salah satu display toko. Sejenak ia menatap sepatunya, kemduian kembali menatap sepatu di display toko itu.
"Ada apa?"
"Ah ... tidak, sampai mana tadi pak?"
Eza memasukan kedua tangannya ke saku di sisi masing-masing. Matanya tertuju pada sepatu berwarna biru muda juga.
"Ayo,"
Tiba-tiba tangan Ana ditarik oleh Eza, mereka berjalan masuk ke toko sepatu itu.
"Selamat datang," salah satu penjaga toko sepatu itu menyapa Eza dan Ana.
"Mbak, ada ukuran 37 untuk sepatu biru muda yang di pajang di depan?"
"Silahkan ditunggu, saya akan check terlebuh dahulu."
Penjaga toko itu meninggalkan Ana dan Eza, saat itu Ana menarik lengannya dari genggaman Eza.
"Ayo pak, tolong jangan lakukan ini."
"Sssttt ... diam. Ini juga termasuk pekerjaan jadi kamu harus menurutinya."
Tak lama penjaga toko itu kembali, ia membawakn sepatu berwarna biru muda itu.
"Ini pak, silahkan untuk di coba."
Eza membantu Ana untuk duduk di sebuah bangku yang tersedia di toko itu. Eza berjongkok, ia membantu Ana melepas sepatunya satu persatu. Eza juga membantu Ana untuk memakainya.
Sesuatu yang ada dalam diri Ana tak bisa Ana kontrol, jantungnya berdegup begitu kencang. Dia tidak permah diperlakukan seperti ini oleh siapapun di dunia ini, kecuapi oleh ibu angkatnya dulu.
"Coba jalan,"
Ana masih tidak sadar saat sepatu itu sudah terpakai di kakinya, ia masih menatap lekat pada Eza.
"An, Ana?"
"I-ya?"
"Ayo berdiri, coba jalan."
Ana segera berdiri, ia berjalan mengitari beberapa tempat display sepatu. Satu lagi kenikmatan yang tidak akan Ana nikmati jika saat ini ia tidak bisa merasakannya. Kaki Ana terasa begitu nyaman saat memakai sepatu itu. Jelas sangat berbeda dengan sepatu usang miliknya.
"Nyaman?"
"Hmm ... nyaman."
"Ok, ada lagi yang kamu mau?"
Melihat deretan angka di bandrol yang tertera di sepatu itu membuat Ana menelan ludah, hanya sekedar sepatu saja harganya cukup untuk jatah makannya selama sebulan.
Ana tidak menjawab pertanyaan Eza, ia melepas sepatu itu kembali dan memakai sepatu usang miliknya.
"Kenapa kamu lepas?"
"Saya tidak membutuhkan ini. Sepatu saya masih nyaman untuk saya pakai."
Ana mengembalikan sepatu itu pada penjaga toko. Ia segera keluar drai toko. Entah mengapa gengsi dalan hatinya tidak mengijinkan Ana untuk menerima kebaikan Eza lagi.
* * *
Maria berjalan mengikuti mamah Irgi di belakang, ia mendorong troly yang berisi bahan makanan. Matanya berbinar melihat banyak sekali makanan yang terpajang di setiap rak. Apakah rasanya menjadi orang kaya itu seperti ini. Berjalan-jalan, menghabiskan uangnya, membeli sesuatu tanpa berpikir apa yang akan mereka masak. Tidak perlu takut uangnya akan habis dalam sekali berbelanja.
"Capek Mar?"
"Nggak tante, Maria masih semangat."
Ini adalah kali pertama Maria pergi ke supermarket.
Baru saja Maria berucap, darah segar mengalir dari hidungnya.
"Ya ampun Mar, " Mamah Irgi tampak begitu panik, ia segera mengambil tissue yang ada di dalam handbagnya.
"Gak apa-apa tante, ini biasa." Maria mendongak, mencoba menahan darah yang terus saja keluar.
"Ini," Mamah Irgi memberikan tissue yang ia gulung terlebih dahulu untuk menyumpal hidung Maria.
"Makasih tante,"
"Kita pulang aja, kamu pasti kecapekan."
"Gak tante, kita lanjutin aja. Ini udah biasa, Maria gak apa-apa kok."
Kepala Maria terasa begitu sakit, badannya yang nyeri juga kini semakin terasa sakit. Pandangan Maria mulai kabur, tiba-tiba tubuhnya ambruk mengenai troly. Maria tergeletak pingsan.
Semua orang yang ada di lorong rak bahan makanan itu menoleh, mereka mulai mendekat dan mencoba menolong Mamah Irgi yang tampak panik dan meminta tolong.