Ana menatap pantulan wajahnya di cermin, sesekali ia merapikan rambutnya. Sekalipun Ana tak pernah memperhatikan bagaimana penampilannya, selama ini.
Namun, setelah Irgi menceritakan semua masalalu Eza, sesuatu dalam diri Ana seolah bergejolak. Ana tau kenapa Eza bersikukuh mau menyelamatkan Ana dan Maria. Eza ingin menebus segala kesalahannya dulu yang telah dia lakukan pada kekasihnya Alya.
"Kak?"
Suara Maria mengagetkan Ana, sisir di tangannya ia lepaskan begitu saja.
"Ada apa?"
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
Maria memang sudah cukup akrab dengan Mamah Irgi, ia juga sudah mulai merasa nyaman tinggal di rumah Irgi. Daripada di apartemen, Maria lebih suka tinggal di rumah Irgi. Selain ramai, banyak kegiatan yang bisa Maria lakukan.
Namun, Maria tau Kakaknya tidak akan setuju jika Maria meminta untuk tetap tinggal di rumah Irgi.
"Tunggu sampai Pak Eza menjemput kita."
Mungkin sekarang Ana harus mau untuk menerima bantuan yang ditawarkan oleh Eza. Setelah mendengar cerita Irgi, rasanya Ana tidak perlu mencurigai apa yang sedang Eza lakukan.
"Kakak yakin?" Maria seolah tak percaya.
"Tentu."
Soal operasi Maria, Ana akan meminta Eza untuk mempercepatnya. Ana juga akan meminta agar pihak rumahsakit membuka donor sumsum tulang belakang dari pihak luar kalau memang itu memungkinkan. Ana tidak akan meminta belas kasihan dari Hendra.
"Tante menawarkan supaya aku tinggal di panti asuhan. Kalau memang kakak akan kembali bekerja, aku rasa lebih baik aku tinggal di panti asuhan."
"Di panti asuhan?"
Maria mengangguk, "di sana juga Maria bisa punya teman."
Mungkin dengan menitipkan Maria di panti asuhan, Ana bisa lebih fokus untuk bekerja. Setidaknya Maria bisa jauh dari Hendra. Jikapun Ana harus bertemu Hendra di tempatnya bekerja, Ana tak perlu khawatir karena Maria tidak ada di sekililing Ana.
"Tapi kakak tidak bisa terus-terusan tinggal di rumah ini."
Ana harus menjauh dari Maria, jika Ana tetap tinggal di sini, Hendra pasti akan kembali memyuruh orang untuk membuntuti Ana. Setelah itu Hendra akan tau di mana Ana tinggal. Sama saja, Ana membiarkan Maria dalam bahaya.
"Lalu kakak akan tinggal di mana?"
"Kakak akan kembali ke kontrakan kita yang lama."
* * *
Seminggu setelah pembicaraannya dengan Maria, Ana segera kembali pindah ke kontrakannya yang dulu. Meski Eza dan Irgi sempat melarang Ana untuk kembali ke rumah kontrakan yang dulu, namun Ana meyakinkan mereka berdua jika Ana akan baik-baik saja.
Ana bersiap untuk pergi bekerja. Untuk pertama kalinya Ana merapikan rambutnya. Ia mengikat rambutnya dengan gaya ponytail.
'Kamu pikir Pak Eza akan terpesona?'
Bayangan di kaca kecil penuh noda jamur yang tergantung pada tembok rumah kontrakan itu seolah mengejek Ana.
'Apa kamu sedang berharap kalau Pak Eza akan memilih kamu?'
"Apa salah kalau sekali ini saja aku bersikap egois?"
Ana seolah sedang berbicara pada sisi dirinya yang lain.
'Harapan hanya akan menghancurkan hidupmu.'
Perasaan itu belum tumbuh, namun kembali menusuk ke dasar hati yang paling dalam.
* * *
"Selamat pagi, silahkan."
Seorang satpam yang dulu cukup dekat dengan Ana membukakan pintu loby kantor untuk Ana.
"Selamat pagi," Ana menyapa kembali pada satpam itu.
"Bagimana kabarmu?" Satpam itu menghentikan langkah Ana.
Ana menatap satpam itu sejenak, "Saya baik-baik saja."
"Saya pikir kamu sudah tidak bekerja di sini lagi."
"Saya hanya cuti." Tukas Ana.
"Cuti apa?"
"Sakit."
"Sakit apa?"
Belum sempat Ana menjawab pertanyaan satpam itu, Rissa lebih dulu masuk. Satpam yang sedang mengobrol dengan Ana segera membukakan pintu dan menyapa Rissa dengan begitu ramahnya.
"Kalau kalian mau ngobrol, silahkan keluar jangan di sini." nada bicara Rissa penuh dengan kesinisan.
Ana yang masih berdiri, sedikit menggeser tubuhnya, memberikan jalan pada Rissa. Rissa berjalan terlebih dulu, diikuti oleh Ana. Mereka berdua sama-sama menuju lantai 3 kantor. Begitu pintu lift terbuka Rissa masuk terlebih dahulu, Ana yang menyandari j Masih pagi, Ana hanya mencoba untuk menahan emosinya, menghargai Rissa sebagai adik dari orang yang menolongnya selama ini.
"Enak, diperlakukan seperti ratu?"
Ana menatap lurus ke depan, ia sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan Rissa barusan.
"Sesuka hati masuk kerja." Rissa kembali menimpali.
"Saya mendapatkan ijin, saya juga punya bukti surat keterangan dari rumahsakit." Dengan santainya Ana menjawab.
"Lancang kamu!"
"Jadi, apa yang harus saya lakukan? Saya sudha mejawab semua pertanyaan ibu, bukan?"
"Kamu pikir dengan Eza memperlakukan kamu spesial, saya akan menyetujui kamu dan Eza?"
Ana tidak mempedulikan lagi ucapan Rissa, begitu pintu lift terbuka Ana segera melangkah keluar. Dari cerita yang Irgi bicarakan pada Ana, Ana tau kalau sebenarnya Rissa adalah orang baik. Rissa pun begitu menyayangi Eza dan Alya, kekasih Eza. Mungkin rasa kasih sayangnya itu yang membuat Rissa tidak suka saat melihat Eza dekat dengan Ana.
Ana tak sadar jika Rissa mengikutinya. Tangan Ana ditarik oleh Rissa, membuat tubuh Ana berbalik dan menghadap ke arah Rissa. Rissa mengangkat tangannya ke udara hendak menampar Ana.
"Sa!" Eza terlebih dulu menahan tangan Rissa sebelum tangannya mengayun, menampar Ana.
* * *
Hari ini Irgi dan Mamahnya pergi menemani Maria untuk melakukan Check up ke dokter. Setelah mendengar cerita Maria bahwa Maria mengidap leukimia, mamah Irgi meminta Maria agar mau tinggal di panti asuhan. Selain lebih aman, mamah Irgi juga bisa memantau Maria dengan mudah.
Eza meminta tolong pada Irgi untuk menemui dokter yang akan menangani Maria nanti.
"Apa operasi donor sumsum tulang belakang itu mahal?"
Di perjalanan Maria membuka pembicaraan dengan menbahas biaya operasi yang jelas-jelas akan ditnaggung oleh Eza.
"Yang terpenting kesembuhan kamu."
Mamah Irgi menatap Maria dari kaca spion tengah.
"Kalau begitu, bagaimana dengan rasanya Mas Dokter?" Maria kini beralih pada Irgi.
"Kamu akan di anestesi, kemungkinan rasa sakitnya tidak terasa."
Maria sedikit tersenyum, senyum yang seolah mengejek.
"Lalu bagaimana peluang keberhasilannya?"
Irgi menatap mamahnya, pun sebaliknya.
"Mar, jangan pikirkan hal itu. Biarkan Tangan Tuhan yang bekerja."
"Maria takut mati tante,