“Yakin nih mau ikut masuk ke dalam?” Danesh kembali meyakinkan sang istri untuk ke sekian kalinya tentang keputusan mengundang Zila secara langsung untuk datang ke resepsi pernikahan mereka. Kini keduanya masih berada di dalam mobil yang berhenti di halaman rumah Zila. “Ikut dong, aku nggak mau kamu diapa-apain perempuan lain di dalem sana ya?” Danesh mengulum senyum lalu meraih jemari sang istri untuk ia genggam. “Nggak akan terjadi apa-apa.” “Ya udah ayo masuk!” sambungnya dengan nada ketus. "Kamu turun duluan ya, Mas." Sherin mengendikkan dagu. Danesh mendesah pelan. "Kita masuk bareng." "Kamu duluan." Sherin meringis sambil mengangkat ponselnya yang berkedip-kedip. "Pak Dimas telpon, biar aku angkat dulu, pasti ada urusan yang berkaitan sama Opa." Memejam sesaat, Danesh yang pa

