Suara gelak tawa di ruang makan membuat langkah Danesh memelan. Dari kejauhan saja ia sudah bisa menebak itu adalah suara Sherin, Indira dan tentu saja ibunya. Meski Indira sudah punya rumah sendiri di ujung kompleks, kakak perempuannya itu kini lebih sering mampir ke rumah sang ibu lantaran kehamilannya yang semakin membesar. Hal yang tentu saja disyukurinya karena Rahayu tak kesepian lagi karena biasanya hanya ditemani asisten rumah tangga. "Kocak banget nggak sih kalau lihat Danesh pake baju pink? Luntur sudah wibawa dan kesan macho-nya selama ini." Suara khas Indira kini menjadi pusatnya. "Eh, jangan pink juga kali, Mbak. Kulitku auto kusem kalau pakai warna itu. Nggak cocok juga." Sherin ikut menimpali. "Lagi bahas apa sih? heboh banget kayaknya." Danesh langsung duduk di sebelah S

