Sherin mematikan keran wastafel di walk in closet ketika mendengar pintu di belakangnya sedikit terbuka. Gegas ia menyeka bekas air mata dengan handuk, tak ingin Danesh tahu kalau ia baru saja dirundung sedih. Matanya memang masih terlihat merah, tapi ia sudah menyiapkan beberapa alasan yang masuk di akal jika suaminya bertanya nanti. “Aku kelamaan ya?” Danesh melepas jas yang melekat di tubuh, lalu menghampiri istrinya. “Lama, makanya aku balik duluan sama Mbak Lula,” jawabnya lirih. "Mas kok lama?" "Tadi habis nemuin mama, papasan sama Rendy lagi, dia ngasih bingkisan buat kamu, aku taruh di kasur. Katanya dari Billy. Siapa?" "Oh.. Billy?" Sherin mengangguk-anggukkan kepala menahan senyum. "Pantes daritadi nggak kelihatan, ternyata dia telat dateng." "Siapa?" ulang Danesh makin mem

