Giano menegus espresso di depannya. Ia saat ini berada di salah satu kafe yang ada di bandara. Mendengar Aria yang baru tadi pagi memberitahunya soal keberangkatan wanita itu ke Singapura, membuatnya datang cukup pagi sambil membawa dokumen yang perlu ditandatangani oleh CEO Mohika tersebut. "Kau tinjau saja sendiri. Kurasa kau paham bukan?" tanya Aria langsung membubuhkan tanda tangannya, tanpa membaca dokumen tersebut. Alan mengulas senyum, melihat wajah kesal Giano. "Gimana selama ini bekerja di Mohika?" tanyanya pelan. Giano mengambil dokumen di hadapan Aria, lalu bersandar di kursi. "Semuanya lancar, kecuali … sikap Aria yang suka inspeksi mendadak ke setiap divisi dan mereka mengeluh kepadaku," jawabnya melempar tatapan seperti anak mengadu kepada orang tuanya. Aria mendengus pel

