Salah Paham

1008 Words
Saat jam kerja berakhir dan satu per satu kursi mulai ditinggalkan pemiliknya, Agung melangkah ke divisi desain tanpa banyak pikir. Langkahnya terdengar lebih cepat dari biasanya, seolah ada sesuatu yang mendesaknya dari dalam d**a. Ruangan itu masih ramai. Suara keyboard beradu, tawa kecil bersahutan, aroma parfum bercampur pendingin ruangan memenuhi udara. Namun satu hal langsung terasa janggal. Arumi tidak ada di sana. Pandangan Agung menyapu tiap sudut. Meja kerjanya rapi. Monitor mati. Kursi sudah terdorong masuk. Bahkan tas yang biasanya tergantung di sandaran pun tak terlihat. Kosong. Kemarin ... wanita itu berusaha menegaskan bahwa takkan ada yang berubah dalam hubungan mereka. Tapi kenapa hari ini ... Agung merasa dijauhi? “Woy!” Sebuah senggolan tiba-tiba mendarat di lengannya. Salah satu staf desain berdiri di ambang pintu dengan mata berbinar penuh gosip. “Ada yang kasih Arumi bunga di lobby! Ganteng banget, kayak bule!” Kalimat itu seperti palu yang menghantam tepat di d**a Agung. Ia berbalik tanpa menjawab apa pun. Langkahnya cepat, lalu semakin cepat. Lift terasa terlalu lama. Ia beralih ke tangga darurat, menuruni anak tangga dua-dua sekaligus. Setiap dentuman sepatu di lantai menggema seperti hitungan mundur. Begitu tiba di lantai satu, suasana lobby sudah berubah seperti panggung pertunjukan. Beberapa karyawan berdiri setengah melingkar. Resepsionis pura-pura sibuk, tapi jelas menguping. Satpam menahan senyum. Dan di tengah semua itu— Daniel. Pria itu berdiri tegap dengan setelan rapi, wajah tampan yang terlalu percaya diri. Rambutnya tersisir sempurna. Di tangannya sekuntum mawar merah. Bukan buket besar. Hanya satu. Seolah ingin terlihat sederhana, tapi penuh makna. Arumi berdiri di depannya, tampak canggung. Tangannya terlipat di depan tubuh. Wajahnya memerah, entah karena malu atau terkejut. Lalu Daniel berlutut. Suara decak kagum terdengar dari sekitar. “Arumi,” ucapnya lantang, cukup keras agar setengah lobby mendengar, “aku mungkin bukan orang yang paling sempurna. Tapi aku serius. Mau gak kamu jadi pacarku?” Beberapa orang menahan napas. Pemandangan itu… terlalu familiar. Di kehidupan sebelumnya, Agung berdiri di sudut yang sama. Membeku. Membiarkan adegan itu berjalan tanpa gangguan. Membiarkan Arumi terseret arus situasi, tersenyum kikuk, lalu mengangguk karena tak ingin mempermalukan siapa pun. Dan dari satu anggukan itulah semuanya berubah. Tapi tidak kali ini. Langkah Agung menembus kerumunan. Tatapannya lurus ke depan. Tidak peduli bisik-bisik yang mulai terdengar. “Eh itu Agung…” “Wah, wah… ada adegan apa nih?” Daniel mendongak ketika bayangan seseorang menutupi cahaya di hadapannya. Agung berhenti tepat di samping Arumi. Tanpa banyak kata, ia meraih tangan perempuan itu. Arumi terkejut. “Gung—?” “Yuk, kita pulang,” ucap Agung tegas. Bukan nada memohon. Bukan ragu. Tapi keputusan. Seluruh lobby mendadak sunyi. Daniel perlahan berdiri. Senyumnya memudar sedikit, tapi masih berusaha terlihat tenang. “Maaf, ini urusan pribadi kami.” Agung menatapnya datar. “Iya. Dan dia juga punya hak buat gak dijadikan tontonan.” Kalimat itu membuat beberapa orang menunduk canggung. Daniel mengalihkan pandangannya ke Arumi. “Kamu gak keberatan, kan? Aku cuma mau nunjukkin keseriusanku.” Semua mata kini tertuju pada Arumi. Tangan Agung masih menggenggamnya. Tidak terlalu kuat, tapi cukup untuk menyampaikan satu hal. Aku di sini. Arumi menatap Daniel, lalu melihat ke arah kerumunan. Wajahnya tampak tak nyaman dengan perhatian sebanyak ini. “Permisi,” ucapnya singkat. Arumi mengabaikan Daniel dan menatap Agung. Seolah meminta untuk segera membawanya pergi. Pria itu dengan senyum menyetujui. Akhirnya, mereka bisa dengan mudah kabur dari kerumunan yang menyesakkan itu. Hiruk pikuk tertinggal. Udara sore menyambut dengan hembusan angin yang lebih ramah. Begitu sampai di parkiran motor, Arumi tiba-tiba tertawa. Bukan tawa terpaksa. Bukan tawa canggung. Tapi tawa lepas yang membuat pundaknya sedikit bergetar. "Kok kamu berani sih tiba-tiba ke tengah begitu?" tanya Arumi. Karena dia tahu, Agung sama sepertinya, pemalu dan tak enakan. "Mana bisa aku diem aja padahal kamu tertekan gitu?" jawab Agung dengan wajah serius. "Kata siapa aku tertekan?" “Jadi?” tanyanya tiba-tiba. “Kamu mau nerima cinta si Daniel itu?” Arumi menatapnya heran. “Kenapa nanya begitu?” “Jangan, ya,” lanjut Agung cepat, nadanya sedikit lebih rendah. “Dia bukan orang baik.” Arumi memiringkan kepala. “Tau darimana?” Pertanyaan itu membuat d**a Agung sesak. Bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa ia pernah melihat akhir dari semua ini? Bahwa pria itu kelak akan meninggalkan luka yang tak seharusnya Arumi rasakan? Ia tak bisa. Akhirnya ia hanya mengangkat bahu, pura-pura santai. “Tau aja. Auranya suram.” Arumi tertawa, kali ini lebih keras. “Auranya suram? Gimana tuh? Dipenuhi asap ungu kayak penjahat di film?” “Iya,” sahut Agung cepat. “Banyak dedemitnya. Kalau dia jalan, bayangannya duluan yang kabur.” Arumi menepuk lengannya pelan. “Ngaco.” Agung ikut tertawa, lalu mengambil helm dan dengan gerakan refleks memakaikannya ke kepala Arumi. Tangannya sempat menyentuh sisi pipi perempuan itu saat mengaitkan tali helm. Sentuhan singkat. Namun cukup untuk membuat jantungnya bergetar. Mereka berdiri saling berhadapan dalam jarak yang tak terlalu jauh. Tawa perlahan mereda, digantikan oleh hening yang tak canggung, tapi terasa penuh. Agung tiba-tiba terdiam. Sorot matanya berubah sedikit lebih serius. “Rum,” panggilnya pelan. “Hm?” “Kalau kamu suka sama seseorang… bisa gak kamu bilang dulu ke aku?” Arumi mengerjapkan mata. “Kenapa?” “Ya aku kan sahabatmu.” Ia berusaha terdengar santai, meski ada sesuatu yang bergetar di dalam suaranya. “Aku mau pastiin dia orang yang tepat.” “Dan kalau menurut kamu gak ada yang tepat?” tanya Arumi, setengah bercanda, setengah menantang. Agung menatapnya lebih lama dari seharusnya. Angin sore mengibaskan ujung rambut Arumi yang keluar dari helm. “Kalau gak ada yang tepat…” katanya pelan, lalu tersenyum miring, “ya kamu nikah sama aku aja. Dijamin tepat.” Arumi terdiam. Beberapa detik. Lalu ia terkekeh, berusaha menganggapnya candaan. “Pede banget.” “Lah, jelas. Paket lengkap ini,” balas Agung ringan, menepuk dadanya sendiri. Namun di balik nada jenaka itu, ada harapan yang tidak bercanda. Arumi tertawa sambil mengolok-olok candaan Agung. Tapi jika saja tadi siang dia tak melihat kedekatan Agung dengan Zivana, dia pasti akan langsung percaya. Bahkan mungkin akan langsung mengiyakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD