Bab 9

1051 Words
Kau tahu bagaimana menjadi orang yang tak berdaya dan tak bisa melakukan apa-apa. Hanya air mata yang bisa bebas menetes sementara otak seakan membeku dan tak bisa memberi instruksi apapun. Semua tampak ambigu, abu-abu dan membuatmu ragu. Aku tak pernah sendiri selama hidupku. Apapun yang terjadi padaku, selalu kuceritakan ke mama dan meminta pendapatnya. Setelah mama tiada, aku seperti layang-layang putus yang hanya bisa mengikuti kemanapun arah angin membawaku. Tapi sampai kapan? Dua minggu sudah sejak Herdy mendatangiku di café. Aku masih tetap tinggal di tempat ini dan membiarkan rumah tetap kosong. Penyelidikan berakhir tanpa ada solusi. Polisi menyatakan itu kasus pencurian biasa. Demian tak lagi mendatangiku, toh tak ada perlunya juga. Sesekali Tobias ke café atau sekedar mengajakku makan. Dia menjadi dekat denganku, tapi tetap saja aku belum bisa luwes saat berada bersamanya. Ia terlalu misterius meskipun sebenarnya dia selalu baik dan selalu tersenyum, entahlah. Omzet café bulan ini menurun. Setelah dihitung-hitung, tak ada laba yang kudapatkan. Bahkan gajiku menurun padahal bulan ini ada yang tidak digaji lagi (mama). “Tidak apa-apa. Kita bisa berusaha lagi,” desahku lebih kepada menghibur diri sendiri. “Kita buat promo saja, bagaimana?” saran Raka. “Kupikir itu ide yang bagus,” sahut Santika. Duduk bersama Raka, Santika dan Caca di tengah café, aku mengurut kepalaku sendiri. Selama ini aku tak pernah mengurus café, aku hanya bekerja dan menerima upah seperti layaknya karyawan biasa. Sekarang, aku jadi tahu bagaimana susahnya mengurus pendapatan café. “Maafkan aku, Gaes. Andai tahu mama pergi secepat ini, aku pasti belajar mengurus café,” gumamku. Fakta bahwa aku lulus dengan nilai yang cukup tinggi di perguruan tinggi, tidak menjamin bahwa seketika mampu mengurus sebuah café tanpa belajar terlebih dahulu. Bagaimana pun, pengalaman adalah guru terbaik. Karena itu, tak semua orang yang bersekolah tinggi bisa sukses pada suatu hal dan tak selalu orang yang berpendidikan rendah ada di strata terendah dalam masyarakat. Semua tergantung bagaimana kita mengatasi hal itu. Aku mengetuk meja selagi memikirkan ide yang digagas Raka. Kupikir itu ide yang bagus juga, setidaknya bisa membuat orang tergiur untuk datang demi mendapat promo itu. “Menurutmu promo apa yang tepat? Buy one get one, atau diskonan?” “Buy one get one untuk item tertentu, bagaimana? Promo juga berlaku pada pembelian via OJOl. Bulan depan kita lihat apakah trik ini berhasil meningkatkan pendapatan apa enggak,” ucap Raka. Aku mengangguk, mengerti ucapannya. Aku menyetujui saran Raka dan meminta semua bekerja sama demi meningkatkan omzet bulan ini. *** Aku memasang banner buy one get one untuk menu spesial café bersama Raka saat Tobias datang dengan CBRnya. Hanya memandangnya sekilas sebelum kembali fokus pada pekerjaan Raka. Aku memandang ke atas pintu, memperhatikan apakah banner terpasang dengan bagus atau malah kurang presisi. “Raka, agak ke atas dikit,” teriakku. “OK, Bos!” serunya. “Aku datang di saat yang tepat,” kata Tobias sambil berdiri di sebelahku, ikut memperhatikan pekerjaan Raka. “Kamu punya insting yang baik,” pujiku, membuatnya tersenyum lebar. Aku mengajak Tobias masuk café dan membiarkan Raka menyelesaikan tugasnya. Ia duduk di depan mini bar sementara aku membuatkannya segelas kopi, dengan sedikit gula aren. Dia tak suka makanan yang terlalu manis dan selalu puas dengan makanan yang kubuatkan. “Ini minumannya, Tuan,” godaku sambil menyerahkan segelas kopi dengan banyak es. “Thank you,” jawabnya. Aku membuat kopi untuk diriku sendiri dengan extra latte dan sedikit es lalu duduk di sebelahnya. Beberapa saat kami terdiam dan menikmati suasana yang begitu tenang. Jam masih menunjuk angka sepuluh pagi, makanya café masih lengang. Biasanya customer banyak yang datang saat jam istirahat siang atau sekitar jam dua belas. “Bagaimana kabarmu?” tanya Tobias sambil menyeruput es. “Baik.” Pertanyaan yang tak wajar mengingat kami baru bertemu beberapa hari yang lalu. “Apa Sofia pernah mendatangimu?” “Kenapa bahas Sofia? … tidak, lagipula untuk apa dia mendatangiku.” “Syukurlah.” Ia meletakkan es kopi di atas meja lalu memandangku sambil menghela napas berat. “Sebenarnya apa yang sedang terjadi?” tanyaku penasaran. “Kamu tidak tahu?” Aku mengerutkan dahi setelah mendengar pertanyaan yang justru berbalik kepadaku. “Kupikir Damien sudah menghubungimu,” “Untuk apa?” “Kamu sudah masuk dalam daftar keluarga Herdy. Apa kamu benar-benar tidak tahu?” Sontak mulutku terbuka setelah mendengar hal itu. Sejak mama meninggal, aku terlalu larut dengan kondisiku sendiri sehingga melupakan soal kartu keluarga. Lagipula, bagaimana bisa ia begitu saja memasukkan aku dalam daftar keluarga tanpa sepengetahuanku. “Apapun bisa terjadi asal ada uang, Nona,” ucapannya seakan tahu apa yang sedang kupikirkan. “Tentu saja,” balasku, pasrah. “Harusnya kamu senang karena artinya kamu bisa mendapat hak waris.” “Kamu mendoakan papamu cepat mati.” “Bukan seperti itu maksudku. Herdy terlalu sehat untuk cepat mati. Kecuali ada yang memang ingin membuatnya terbunuh,” ucapannya membuatku melotot. Kupikir hanya aku yang menyebut namanya, itu pun tanpa terang-terangan, ternyata Tobias juga melakukan hal yang sama. Sebuah kejutan. “Jangan mengatakan sesuatu yang menyeramkan. Mamaku….” Seketika aku menghentikan ucapanku sendiri. Aku tak ingin Tobias tahu kalau mama meninggal dengan cara yang tak wajar, sekalipun sebenarnya ada keuntungan jika dia tahu. Tapi itu terlalu beresiko karena bisa jadi Tobias adalah pelaku pembunuhan mamaku, walau sangat kecil kemungkinannya. Tobias menatapku lekat, menungguku melanjutkan ucapan, tapi tentu saja itu tak mungkin terjadi. “Bagaimana bisa Herdy memasukkanku dalam daftar kartu keluarganya?” “Bodoh,” Aku merengut mendengarnya, “Uang bisa melakukan segalanya,” jawabku sendiri. Tobias tersenyum dan meletakkan tangan besarnya di kepalaku. Aku menepisnya, merasa tak nyaman saat ia melakukan kontak fisik padaku. “Apa kamu masih tidak mau pulang ke rumah papa?” “Menurutmu?” tanyaku balik. Tobias menggeleng dan membuang muka. Aku tak lagi mengejar pertanyaannya dan memilih untuk diam. Sejujurnya aku ingin ke rumah itu untuk mencari tahu banyak hal, tapi aku belum siap secara mental. Herdy pasti punya rencana sendiri setelah aku ada disana. Lagipula, aku takut menemukan kenyataan-kenyataan yang akan membuatku sakit hati atau bahkan lebih dari itu. Tobias menghabiskan kopi dan kemudian bangkit dari tempat duduknya. “Kalau kamu ingin bantuan apapun, atau butuh sopir kemana pun kamu ingin pergi. Hubungi aku!” perintahnya sebelum meninggalkan café. Aku terkekeh, lelaki itu tiba-tiba muncul seolah-olah memang benar dia saudaraku. Aku mengambil gelas kami dan membawanya ke belakang. Mencucinya dan meletakkan di alat pengering. Aku tersenyum kecil mengingat hubunganku dengan Tobias yang sudah hampir seperti kakak adik yang normal. Perhatiannya yang sangat biasa, membuatku perlahan merasa bisa membuka diri. Tidak-tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku harus tetap waspasa karena bisa jadi Tobias lebih buruk dari Herdy. Setidaknya Herdy dan aku memiliki DNA yang sama, sementara Tobias dan aku berbeda mama. Aku belum mengenalnya terlalu dalam. “Mbak Isyana, ada orang yang mencari Mbak.” Santika membuatku tersadar dari pikiranku sendiri. “Oh ya, aku akan kesana,” ucapku. Aku segera mengelap tangan dan segera menuju ruang depan. Sebuah kejutan besar tiba-tiba muncul, membuat jantungku seakan berpacu dengan waktu. Menerka-nerka ada apa gerangan dia datang menemuiku disini. “Kita harus bicara, Isyana,” ucapnya. “Sebuah kejutan, Sofia,” sambutku sambil mengangkat satu sudut bibir kanan ke atas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD