Reyna menghela napas lemas, menyadari bahwa pria yang dia sukai menyukai gadis lain. Selain itu, Reyna juga merasa tidak mampu jika harus menandingi Bianca. Wajar saja kalau Ryan menyukai Bianca, dia gadis yang cantik dan terkenal, pikir Reyna. Bagaimana mungkin dia bisa menyainginya.
Namun, Reyna masih memiliki sedikit kesempatan. Setelah mendengar sendiri dari Ryan tentang Bianca yang tampak menyukai kakaknya, Azzima.
Ryan meminta bantuan Reyna untuk membuat Azzima menjauh dari Bianca, dan kabar buruk bagi Reyna, rupanya Azzima memang tidak menyukai Bianca. Hal itu sempat membuat Reyna senang sebab dia bisa membantu Ryan. Namun, dia juga merasa sedih. Sebab, hal itu berarti Ryan akan terus memperjuangkan Bianca.
Reyna sempat berpikir lagi untuk membujuk kakaknya agar pria itu bisa dekat dengan Bianca, tapi sulit baginya. Seperti yang Reyna pikir jika kakaknya itu seharusnya terlahir menjadi kulkas, bukan manusia. Tidak pernah terpikir dalam benaknya jika ada pria seperti kakaknya di bumi ini. Reyna sempat pula berpikir jika kakaknya itu penganut homo seksual.
Entah keturunan siapa pria itu, yang Reyna tahu mama dan papanya tidak ada yang seperti kakaknya. Gadis itu pernah menuduh Azzima anak tiri. Namun, dengan cepat Azzima protes, dan mengembalikan keadaan tentang dirinya yang lebih dulu lahir daripada Reyna. Kemudian Azzima berkata jika Reyna lah yang anak tiri.
Ponsel masih melekat di telinga Reyna, dan sambungannya juga masih terhubung pada Azzima di seberang sana.
"Apa benar aku anak tiri?" tanya Reyna pada kakaknya setelah barusan dirinya mengingat tentang hari itu.
"Anak tiri?" Azzima membeo bingung, lantas tertawa renyah. "Haha, apa yang kau bicarakan?"
"Aku masih ingat, waktu kecil Kakak bilang aku anak tiri," kata Reyna mengingatkan.
Azzima bergeming sejenak, mengumpulkan ingatannya tentang waktu-waktu itu. Hingga akhirnya pria itu mampu mengingatnya.
Kala itu, ketika Azzima masih berusia tujuh belas tahun, dan Reyna masih berusia sepuluh tahun. Mereka bersekolah di sekolah yang sama, meski deretan gedungnya berbeda. Azzima di gedung SMA, sedangkan Reyna di gedung SD. Reyna melihat Azzima yang baru saja menolak gadis yang ingin mengajaknya bermain.
"Ayolah, aku hanya menarik tanganmu dan mengajak bermain," ucap gadis yang masih mereka ingat wajahnya.
Azzima membuat jarak darinya, lalu berlalu begitu saja meninggalkan gadis itu.
"Apa dia pacar Kakak?" tanya Reyna ketika kakaknya itu menghampirinya.
"Tau apa kamu tentang pacar? Seharusnya kamu belajar dengan baik," ucap Azzima sambil mengajak adiknya itu menuju kantin.
"Tau, Dina teman sekelasku pacaran. Laki-laki di kelasku juga nggak ada tuh yang kayak Kakak, jahat sama perempuan," kata Reyna terang-terangan.
"Heh!" protes Azzima.
"Ah, papa juga baik sama mama, baik sama perempuan, nggak kayak Kakak," tambah Reyna.
Saat itu Azzima hanya bisa tersenyum tipis.
"Kakak nggak mirip sama papa, nggak mirip juga sama mama. Jangan-jangan Kakak anak tiri," tukas Reyna.
"Hei, siapa yang ngajarin ngomong kaya gitu! Ah, seharusnya kamu tidak bersekolah di tempat seperti ini saat SD," ucap Azzima.
Memang, saat SD Azzima bersekolah di sekolah khusus yang menjunjung tinggi norma-norma, dan tentunya sekolah terbaik yang bahkan penerimaan siswanya terbatas. Sementara Reyna tidak, sebab dia sendiri yang meminta agar bisa berangkat sekolah bareng kakaknya, dan satu sekolah dengan kakaknya agar bisa makan di kantin bersama.
"Jadi, Kakak anak tiri?" ulang Reyna.
"Kamu yang anak tiri," jawab Azzima. "Kamu nggak pernah, kan, diceritain mama tentang papa. Itu karena kamu anak tiri."
Azzima menyudahi nostalgia recehnya. Pria itu tertawa lagi. "Hei, waktu itu aku hanya bercanda. Kau masih mengingatnya?"
Reyna menghembuskan napas bosan. Meski dia percaya dengan kakaknya, tapi tetap saja hatinya gundah sebab pria yang disukainya tidak menyukainya.
"Jadi kau benar-benar tidak menyukai Bianca? Kau tau kan kalau dia menyukaimu. Kenapa kau tidak menerimanya saja, sih," kata Reyna putus asa.
Azzima yang mendengar suara putus asa dari gadis itu pun membuka mulut heran. "Memangnya apa urusanmu?" tanyanya.
"Aku hanya ingin membantumu. Kau tidak punya kisah asmara sama sekali, lebih baik kau menerima gadis itu," ucap Reyna, terdengar sangat memaksa.
Hal itu membuat Azzima tertawa konyol. "Kau mengantuk? Ya sudah sana tidur, besok kuliah yang benar," kata Azzima mengingatkan adiknya yang suka ceroboh itu.
Kemudian, terdengar suara bel di apartemen Azzima. Pria itu mendongak sedikit terkejut, siapa yang mengunjunginya malam-malam seperti ini. Yang Azzima tahu, belum ada orang terdekat yang mengetahui tempat tinggalnya.
"Aku tutup teleponnya. Ingat, kau harus kuliah dengan benar," pungkas Azzima, lalu menutup panggilan itu.
Sementara di seberang sana, Reyna tampak tercekat, dia belum sempat menyampaikan niatnya yang ingin berkunjung ke sana untuk bertemu Ryan. Dia juga malu sebab sebelumnya berkata bahwa dirinya tidak akan merindukan kakaknya, apalagi akan menginap di apartemen pria itu.
Berpindah lagi ke tempat Azzima. Pria itu bangkit dari kursinya setelah menaruh ponsel di meja. Dia membuka layar monitor yang terhubung oleh sensor di depan pintu. Namun dia tidak melihat siapapun di depan sana.
Bel berbunyi lagi. Hal itu menandakan jika tamu yang datang sengaja untuk tidak menampakkan diri di monitor. Azzima sempat curiga, khawatir jika yang berdiri di depan sana adalah pencuri atau semacamnya.
"Siapa?" tanya Azzima setelah membuka speaker.
"Aku," jawab seseorang di depan sana. Orang itu mencoba untuk menyamarkan suaranya.
Namun, Azzima sudah menyadarinya. Pria itu mengerutkan dahi setelah yakin bahwa itu suara orang yang sangat dia kenal. Namun hal itu membuatnya bertanya-tanya tentang maksud kedatangannya.
"Ada perlu apa?" tanya Azzima dengan suara berat dan datar.
"Bukan kah tidak sopan jika kau tidak membukakan pintu untuk tamu?" tanya suara itu balik, terdengar jelas ciri khas suaranya yang mudah menyambar.
Azzima menghela napas singkat, lalu melipat kedua tangannya. "Lebih tidak sopan jika gadis sepertimu bertamu malam-malam seorang diri ke apartemen pria," balas pria itu.
"Hah." Gianna menutup mulutnya. "Dia tahu suaraku? Padahal aku sudah mencoba mengeluarkan suara pria," bisik gadis itu seorang diri.
"Pulang lah, sebelum aku memanggil security," kata Azzima.
Buru-buru gadis itu memunculkan diri di depan layar sebelum Azzima mengakhirinya.
"Kau mengusirku? Hei, kau tidak tau betapa sulit aku mencari alamatmu," ucap Gianna memelas. "Aku ingin memperbaiki nilai," tambahnya, berharap pintu itu dibuka oleh pemiliknya.
"Aku sudah memberikan nilai akhir untukmu. Kau harus mengulang tahun depan," ucap Azzima.
Gadis itu terperanjat. "M-mengulang? Apa tidak ada cara lain selain mengulang. Pak, aku sudah cukup tua untuk kembali mengulang perkuliahan. Kumohon kali ini saja buka pintunya."
Azzima melangkah menuju pintu, lantas membukanya. Tampak lah Gianna yang baru saja ingin memukul-mukul pintu itu. Namun tersendat sebab sudah melihat Azzima muncul. Gadis itu segera menegakkan tubuh dan merapikan rambut, lalu berdiri dengan profesional.
"Aku ingin melakukan asistensi. Kau tau aku tidak bisa membuat esai dengan baik. Setidaknya sebagai dosen kau harus mengajariku ...."
Azzima memejamkan mata sambil menghela napas. Beruntung hanya satu mahasiswinya yang seperti ini.
____________
Kenapa nih? Kenapa Azzima harus berurusan dengan Gianna? Apa ini sebuah takdir dari masa lalu? Sudah ada yang bisa menebak? Belum :v Oke, stay tune, hehe.
Jangan lupa follow writernya buat pembaca baru :*