7. Arti Kesayangan

1094 Words
Gianna masih terpaku di tempatnya berdiri ketika Azzima sudah beranjak menuju sepeda sewaan yang barusan ditendangi oleh gadis itu. Azzima meraih sepedanya, lalu naik ke sadel sepeda itu, dan siap untuk pergi. Namun, dengan cepat dan tiba-tiba, Gianna menarik bagian belakang sadel sepeda yang dinaiki Azzima, membuat goesan kaki pria itu terhambat. Azzima menurunkan kakinya, lantas menoleh ke belakang. Dapat dia lihat Gianna yang menahan sepedanya. Lalu, tanpa disangka-sangka, Gianna bergerak agresif. Gadis itu melingkarkan kedua tangannya di tubuh Azzima, dan memaksa pria itu untuk turun. Tarikan Gianna membuat Azzima yang duduk di atas sepeda menjadi tak seimbang. Pria itu terkejut, lalu membesarkan kedua bola mata. Azzima berusaha untuk melepaskan tarikan Gianna. "Kau tidak boleh pergi!" teriak gadis itu. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum aku berhasil mengajarimu untuk bisa menghargai barang kesayangan," tambah Gianna sambil terus menarik dan memaksa Azzima turun dari sepedanya. Hingga pada akhirnya, sepeda itu tumbang, beruntung Azzima sudah turun lebih dulu dari atas sana. Namun, Gianna masih saja melingkarkan tangannya di tubuh Azzima. Kini gadis itu malah meraba-raba saku jas dan celana pria itu, berniat mencari sesuatu yang bisa mengajari Azzima arti dari benda kesayangan. "Hei! Apa kau gila! Apa-apaan kau--!" seru Azzima terpotong. Pria itu menyadari tangan Gianna yang hendak mengambil sesuatu dari saku jasnya. "Kau ingin mencuri secara terang-terangan!" protes pria itu. Gianna berhasil merampas sebuah kunci di saku Azzima, dan kunci itu adalah kunci mobil. Azzima yang menyadari jika gadis itu berhasil mengambil kuncinya pun berusaha merebut kembali. Namun sialnya, Gianna melangkah mundur dan menyembunyikan kunci itu dengan gerakan yang lebih cepat dari aksi Azzima yang ingin merebutnya. "Hei!" protes Azzima ketika dirinya tak berhasil merampas balik kunci mobilnya. Gianna menyatukan kedua bola mata ke tengah-tengah batang hidung sambil mengeluarkan lidahnya, mencibir kegagalan Azzima yang tidak berhasil merebut kuncinya. Azzima menatap heran dengan tampang cengo. Gadis macam apa yang sudah dia temui sejak kemarin, pikirnya. "Kau takut kehilangan benda ini? Ah, ya, aku tau kau pasti sangat menyayanginya bukan?" ucap Gianna sambil menaikkan satu alisnya. Gadis itu mengangkat kuncinya dengan tatapan menggoda. Sementara Azzima bergerak cepat untuk merebut kunci itu sebelum Gianna menyembunyikannya lagi. Namun, tangkapan Azzima meleset, membuat Gianna buru-buru menyembunyikan kunci itu dan memutar tubuh untuk membelakangi Azzima. Pria itu maju satu langkah untuk menahan tangan Gianna dan merebut kuncinya. Dia sudah tidak bisa berpikir dan menunggu lagi. Gadis itu membuatnya merasa kesal sekaligus kasihan. "Aku bisa melaporkanmu ke polisi karena tindakan perampokan ini," kata Azzima sambil berusaha membuka kepalan tangan Gianna yang menyimpan kunci mobilnya. "Aaa!" Gianna tidak bisa menggerakkan tangan dan tubuhnya sebab Azzima menahannya dari belakang. "Aku akan mengembalikannya. Sekarang juga akan aku kembalikan. Lepaskan aku!" titah gadis itu dengan tempo yang sangat cepat. Untuk beberapa saat mereka terdiam. Azzima baru menyadari jika tindakannya barusan tampak seperti sedang memeluk dan memaksa gadis itu. Gianna yang terhalang oleh pagar pembatas embung dan Azzima pun tidak bisa bergerak banyak. "Lepaskan aku," ucap Gianna sekali lagi. Gadis itu melirik kedua tangan Azzima yang masih melingkar di tubuhnya, dia tersipu. Dengan cepat Azzima melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah. Kini, tampak jelas kebodohan yang membuat pria itu gelagapan. Gianna memutar kembali tubuhnya untuk menghadap ke arah pria itu. Dia menatap Azzima penuh selidik, lalu menyerahkan kunci mobil itu padanya. "Aku tidak menyangka jika ternyata kau pria m***m," bisik Gianna tanpa filter. "Nih, kunci mobilmu," kata gadis itu. Padahal sudah jelas bahwa dia yang sengaja memancing pria itu. Namun Gianna bertingkah sebaliknya. Azzima yang mendengar pernyataan itu pun tak terima. Kedua bola matanya membesar protes. "Apa katamu?" Gianna melipat satu tangan ke depan perut, sedangkan satu tangannya yang lain masih memegang kunci mobil Azzima sebab pria itu belum mengambilnya. "Kalau dari awal aku tau kau pria yang seperti itu, aku tidak akan mengajarimu dengan mengambil kunci ini," tambahnya, dan tentu saja membuat Azzima semakin merasa terendahkan. Gianna mengalihkan tatapan dari Azzima. Dia bertindak berlawanan. Padahal sudah jelas, jika hati gadis itu dibedah, pasti banyak bunga-bunga bermekaran di dalam sana. Hal itu membuat Azzima geram. "Kau yang …! Lebih dulu mencuri!" kata pria itu, menghela seluruh napasnya. "Baiklah, aku akui kalau aku mencuri. Sekarang aku mengembalikannya," jawab Gianna, lalu kembali mengalihkan tatapan dari pria itu. "Aku menyesalinya, maafkan aku." Gianna mengayunkan tangannya yang memegang kunci agar Azzima segera mengambil kunci itu. Sementara Azzima menatapnya dengan tampang tak habis pikir, kedua matanya mengerjap beberapa kali. Pria itu segera mengambil kunci mobilnya di tangan Gianna dengan sangat geram, lalu bergegas meninggalkan tempat dan gadis berisik binti menyebalkan itu. Dia berjanji akan memberikannya nilai E. Gianna masih berdiri di tempatnya dengan raut tertekuk hingga Azzima semakin jauh menggoes sepeda. Menit berikutnya, gadis itu melemaskan otot-otot tubuh, lalu memeluk tubuhnya sendiri. Tiba-tiba saja ekspresi wajahnya berubah menjadi sumringah. "Aah, apa itu berarti dia tertarik padaku? Sudah kuduga, tidak mungkin ada pria yang tidak tertarik denganku," ucapnya pada diri sendiri. Gianna kembali melihat sepeda Azzima yang sudah ingin hilang di tikungan kampus. Gadis itu tersenyum penuh kemenangan dan cibiran. "Dasar pria dingin, kenapa tidak bilang saja kalau dia tertarik padaku." Gadis itu tersenyum sambil mengibaskan rambut, lalu melangkah menuju mobilnya. *** Sementara itu, Azzima sudah tiba di tempat penyewaan sepeda. Dia mengembalikan sepeda itu pada pemiliknya, dan mendapatkan kembali kartu identitasnya. Pria itu sudah ingin pergi dari sana. Namun, wanita pemilik sewaan sepeda itu menghentikannya. "Tunggu." Azzima menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada wanita itu. Dapat dia lihat pemilik sepeda itu sedang mengecek kondisi sepedanya. Azzima sempat sport jantung sebab menyangka jika tendangan-tendangan Gianna tadi merusak sepedanya. "Bukankah kau pengendara sepeda yang baik?" ucap wanita itu dengan tatapan mengerikan. Azzima membuka bibirnya. "Ah, ya," jawabnya. Pria itu sudah mengira jika sang pemilik sepeda menyadari adanya kerusakan atau kelecetan di sepeda yang disewanya. "Kalau begitu, boleh aku berfoto denganmu?" Wanita itu mengembangkan senyumnya, lalu mengedipkan kedua mata beberapa kali. Azzima melemaskan otot-otot jantungnya yang sempat berolahraga. "Tidak, terima kasih," ucap pria itu, lantas melanjutkan langkah yang sempat tertunda. Wanita pemilik sewaan sepeda itu menekuk wajahnya dan mencibir. "Ah, pria tampan itu dingin sekali." Dia mengecek lagi sepeda yang tadi dipakai Azzima, dan menemukan sedikit kelecetan yang tampak seperti terhantam sepatu high heel. "Apa pria itu memakai high heel?" bingungnya tak mengerti. Wanita itu menatap kaki Azzima yang belum jauh melangkah, dan dia melihat Azzima memakai sepatu biasa khas pria. Hal itu cukup membuat wanita pemilik sewaan sepeda itu heran. _______________ Gimana, nih, apa yang akan terjadi jika mereka tinggal dalam satu atap? :D. Apapun yang terjadi, mereka akan melaluinya nanti, hihi. Jangan lupa follow writernya untuk yang belum, dan dapatkan notifikasi tentang cerita baru dariku :*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD