Nina POV.
Kalo sebelumnya saat bang Aiden tidak ada kabarnya membuatku mendadak uring uringan, sekarang saat aku tidak lagi dapat kabar apa pun dari bang Aiden, malah buat aku mendadak seperti kehilangan semangat. Aku maunya sih tetap semangat kerja seperti biasanya, lalu bermalas malasan saat pekerjaanku selesai atau tidur, tapi kok ya susah sekali. Aku berniat tidak memikirkan apa pun lagi soal bang Aiden dan rencana perjodohan kami, tapi kok malah sering aku pikirkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Apa mungkin karena aku takut ayah dan bunda dapat malu karena akhirnya batal besanan dengan putra atau cucu pemilik rumah sakit, yang jadi pikiranku?. Aku sudah tidak tau pasti lagi apa yang buat aku mulai merasa tidak nyaman karena sempat di dekati bang Aiden yang semua orang di rumah sakit tau siapa bang Aiden.
“Dokter Nina, mas Aiden gak pernah jemput lagi?” itu pertanyaan yang sering aku terima.
Atau,
“Mas Aiden apa kabarnya dokter Nina?”.
Atau,
“Salam ya dokter Nina sama mas Aiden”.
Rasanya mendadak semua orang kepo dengan urusan pribadiku. Padahal sebelumnya aku sering terlihat ngobrol atau bersama anggota keluarga pemilik rumah sakit. Tapi tidak pernah sekepo ini. Bisa jadi karena semua orang juga tau, kalo bang Aiden masih bujangan. Suntuk deh rasanya, sampai kadang aku malas datang ke rumah sakit untuk bekerja.
“Kamu sakit nak?” tanya bunda setelah sekian lama aku semakin jarang bersuara.
“Gak bun. Aku baik baik aja” jawabku.
Mau bilang kalo aku cape, rasanya ayah tidak mungkin percaya, karena memang area kerjaku tidak sedinamis saat aku bertugas di area UGD.
“Minum vitamin ayah ya?. Kamu kecapean kali” kata bunda lagi.
Dan aku hindari tatapan mengawasi ayah yang ikutan makan malam bersamaku dan bunda.
“Iya bun” jawabku menurut supaya bunda berhenti khawatir.
Bagusnya ayah tidak bersuara apa pun selama aku di tanyai bunda.
“Istirahat, kamu belum adaptasi benar dengan posisimu sekarang, jadi seperti ini” kata ayah akhirnya bersuara.
Lagi lagi aku menurut masuk kamar dan pamit untuk tidur. Padahal dalam kamar pun aku tidak bisa tidur. Sampai Loki si bungsu pulang ke rumah pun tidak berhasil buat aku seceria biasanya, menyambutnya pulang. Ya memang dari ketiga adik lelakiku, aku paling dekat dengan si bontot Loki di banding dua yang lain. Mungkin karena Loki yang paling mirip ayah kali ya?. Yang tenang dan penyayang.
“Kakak…gue sampai pulang loh, karena bunda bilang kakak kurang sehat. Masa trus gue di cuekin” keluh Loki.
Mau tidak mau aku tertawa.
“Kakak sehat sehat aja, bunda yang lebay ngadu kakak kurang sehat” sanggahku.
“Kalo gitu, ayo keluar rumah yuk. Nonton atau kemana kek” ajak Loki.
Mungkin lebih baik begitu, suasana luar rumah bisa saja mengembalikan moodku yang berantakan belakang ini. Jadi pergilah aku dengan Loki si bontot yang semakin tinggi menjulang. Kemana mana di area mall, aku pasti di rangkul rangkul seakan dia pacarku. Itu enaknya punya saudara lelaki.
“Ayo kakak mau ngapain atau mau kemana lagi?. Tanyanya setelah aku menolak nonton film.
“Kaya punya uang aja, elo masih kuliah” jawabku.
Dia langsung tertawa menanggapi.
“Aman soal uang mah. Ayah kasih kartu kredit yang bisa gue gesek di mana pun asalkan kakak happy lagi” katanya.
Gantian aku tertawa.
“Jadi elo di utus ayah buat lakuin semua ini?” tanyaku meledek.
“Ya mau gimana lagi. Dua ade kakak yang lain sibuk jadi abdi negara, cuma gue yang belum waktunya jadi abdi masyarakat kaya ayah sama kakak, jadi gue yang luang waktunya” jawabnya.
Tersenyumlah aku menatap si bontot. Lalu dia menurut aku ajak masuk counter es cream yang kata orang kalo makan es cream baik untuk meningkatkan mood.
“Kabar Tata gimana?” ledekku karena tau sejak dulu si bontot selalu intens berhubungan dengan anak perawan teman bunda sejak kecil juga dan bagian keluarga bang Aiden.
Malah tertawa.
“Masih selucu dulu, dan masih sibuk urusan sekolah. Jadi biar aja dia sekolah dulu” jawabnya.
“Gak kamu temuin mumpung kamu lagi libur kuliah?” tanyaku lagi.
“Ada waktunya buat temuin Tata sih. Kalo sekarang belum jadi kewajibanku. Cukup komunikasi lewat telpon atau video call. Yang penting gue tau Tata ngapain, dan Tata tau jug ague ngapain kak” jawabnya.
Aku jadi diam dulu.
“Ya lebih sering cari duluan siapa?” tanyaku lagi.
“Hmm…gak harus siapa duluan sih, kadang gue duluan, kadang Tata duluan. Seenaknya aja” jawab Loki.
Aku diam lagi.
“Kalian pacaran ya?” tanyaku sampai Loki tertawa.
“Emang mesti pacaran dulu cuma buat saling tanya kabar atau sekedar ngobrol?” jawabnya.
“Jadi gak masalah buat elo, kalo pun Tata yang cari elo duluan?. Gak terkesan murahan gitu, cari laki duluan, apalagi bukan siapa siapa?” tanyaku hati hati.
Loki malah terbahak.
“Elah kak, emang Tata kalo telpon aku atau video call aku m***m gitu?. Yakan gak, malah lucu lucuan. Soalnya kadang suka curhat soal teman sekolahnya atau curhat kelakuan si kembar jagoan abangnya yang sibuk PDKT sama teman temannya” jawab Loki.
Aku jadi diam.
“Balikin semua ke konsep silaturahmi kak. Apalagi kita saling kenal sebelumnya. Singkirin dulu dah soal rasa suka sukaan, karena gue juga kadang tanggapin chat atau pesan teman cewek gue yang lain, gak cuma Tata. Tata juga gitu, suka tanggapi chat atau pesan dari teman cowoknya yang lain. Bedanya mungkin komunikasi gue sama cewek lain, atau komunikasi Tata sama cowok lain ada batasnya dan gak intens. Itu doang sih” lanjut Loki.
Benar sih yang dia bilang, tapi kenapa sulit untukku melakukan hal yang Loki bilang, dengan mengembalikan semua ke konsep silaturahmi karena aku dan bang Aiden saling kenal dari dulu. Rasanya malu aja kalo aku yang chat atau telpon duluan sekedar cari tau kabarnya. Takut juga bang Aiden mikir aku cewek kecentilan, yang cari laki duluan. Dan itu berlaku pada teman teman lelakiku yang lain. Pokoknya kalo tidak chat atau telpon aku duluan, jangan harap aku akan chat atau telpon duluan. Hal itu yang akhirnya buat aku tidak punya teman lelaki, termasuk bang Naka yang dulu akrab sekali denganku. Semenjak aku tau bang Naka suka pada Riri adik bang Ben apalagi. Gak deh, nanti di pikirnya aku cewek gimana gimana.
“Kak kok jadi diam?” tegur Loki.
Aku buru buru menggeleng.
“Gak apa. Ayo kemana lagi ya kita?” kataku mengalihkan pembicaraan.
“Kakak maunya kemana lagi, gue ikutin. Waktu gue hari ini buat kakak” jawabnya.
Waktu dia buat aku gimana, saat Tata telpon sampai video call malah sibuk ngobrol dengan Tata dan bagusnya aku di libatkan.
“Apa kabar calon kakak ipar?. Yaolo, kak Nina keceh amat sih, bagusnya kakak bang Loki, kalo bukan, pasti aku cemburu” kata Tata sesantai itu dan Loki tertawa sepertiku.
Kata Loki mereka tidak pacaran, kok bisa ngomong soal rasa cemburu??. Memang lucu Tata tuh, pantas Loki suka di telpon Tata dan lama sekali sampai aku harus menunggu mereka selesai video call dengan Loki yang tertawa terus. Jadi menular sih aura kegembiraan yang coba Tata dan Loki bagi padaku. Moodku jadi lebih baik saat akhirnya pulang ke rumah.
“Better?” tegur ayah padaku.
Aku langsung tertawa menanggapi.
“Better dong yah. Biar ayah gak sia sia jadi sponsor aku senang senang sama bujang bontot ayah” jawabku.
Tertawalah ayah lalu terbahak saat aku berhambur memeluk ayah lalu menciumi pipi ayah. Jangan tanya di mana Loki, sudah menguasai bunda dan menye menye ke bunda. Enaknya jadi satu satunya putri ayah karena adik adikku memang seperti merelakan ayah, aku kuasai, dan aku harus merelakan bunda mereka kuasai bertiga.
Tapi rasa senangku tidak berlangsung lama kalo dua hari kemudian, lalu bunda datang menemuiku di rumah sakit dengan mode panik.
“Tante Adis masuk rumah sakit, nak. Kamu taukan?” lapor bunda setelah aku cium tangannya.
“Astagfirullah, kok bisa bun?” tanyaku.
“Ini bunda mau cari tau. Kamu nanti susul bunda ya di ruang VVIP, sudah di pindah sama ayah ke ruang VVIP” jawab bunda.
Aku mengangguk saja dan mendadak khawatir dengan kondisi tante Adis yang mendadak masuk rumah sakit. Ya cukup sering sih tante Adis masuk rumah sakit karena gak bisa cape cape. Cuma namanya berita orang sakit pasti selalu menyisakan rasa khawatir.
“Nanti aku susul dan aku tengok tante Adis, bun” jawabku karena posisiku yang masih kerja.
Dan lagi sudah ada dokter senior di bagian VVIP atau malah ayah yang turun tangan sendiri kalo ada anggota keluarga bosnya yang masuk rumah sakit dan harus di rawat inap.
Dan aku temukan dong semua anak dan menantu tante Adis saat aku susul ke ruang rawat tante Adis.
“NINA….” sapa kak Puput langsung memelukku saat aku bergabung dengan mereka semua.
Aku hanya bisa menanggapi pelukannya karena tatapanku ke arah tante Adis yang terbaring di ranjang rumah sakit di temani om Radit dan ayahku tentunya.
Aku salami dulu bang Noah, abang bang Aiden dan bang Ben suami Puput, juga bunda yang duduk di sofa kamar. Ada dokter Bella juga dekat ayah dan aku salami juga. Dia dokter gigi, tapi karena mertuanya yang sakit pasti bergabung juga.
“Gimana kondisinya dokter Rey?” tanyaku pada ayah.
“Elah Nin, babeh sendiri kaku amat” ledek kak Bella yang menurutku tidak tepat.
Aku meringis saja saat ayah dan om Radit tertawa pelan menanggapi pertanyaanku.
“Mama pasti stress mikirin bang Ai deh, makanya jadi sakit” malah kak Puput yang jawab saat mendekati ranjang rawat tante Adis.
Sontak aku diam dan menghindari tatapan lesu tante Adis. Jadi gak enak…
“Makanya biarkan mamamu istirahat” komen om Radit.
“Gak ada masalah serius Nin, tekanan darahnya rendah, dan lebih baik di rawat inap supaya bisa istirahat maksimal” kata ayah padaku.
Baru aku berani mengangkat wajahku.
“Jangan khawatir nak…tante gak kenapa kenapa. Makasih kamu udah tengok tante” kata tante Adis saat aku beralih menatapnya.
Aku mengangguk lalu membelas remasan tangannya pada tanganku.
“Istirahat ya tante” kataku tidak bisa berkata hal lain.
“Masalahnya orang yang udah bikin mama stress sampai kurang tidur, belum juga datang” omel kak Puput.
Aku jadi diam lagi dan menunduk menghindari tatapan semua orang di dekat ranjang tante Adis, pasti sudah tau semua yang di maksud kak Puput.
“Masih di tempat kerja abangmu. Tadi sudah papa beri tahu. Tenang Put….” tegur om Radit.
Kak Puput pasti langsung cemberut khasnya.
“Awas aja kalo sampai bang Ai gak datang. Dia yang mesti tanggung jawab temanin mama, dia yang bikin mama sakit” omel Puput lagi.
“Neng…” suara bang Ben suaminya pasti pada kak Puput kan??.
“Abang diam diam, aku lagi kesal nih sama bang Ai” jawab Puput.
“Ya salam…Elo sih siapa juga di keselin Put” komen bang Noah.
Lalu mereka berdebat khas saudara sampai aku pamit untuk sholat magrib dengan dokter Bella.
“Udah biar aja abang ade pada ribut, kita ke masjid aja yuk, sekalian cari makanan buat teman begadangin mertua gue” ajak kak Bella.
Aku mengangguk setuju atau memilih menurut. Untuk apa aku terlibat keributan antar saudara, yang termasuk angota keluarga macam kak Bella aja malah menghindar kok. Eh malah aku harus berpisah dengan dokter Bella saat di loby bertemu dengan anak anaknya yang di bawa oleh kedua orang tuany.
“MAMI!!!!” jerit mereka berlarian mendekat pada dokter Bella yang tertawa menyambut tiga bocah lucu anak anaknya.
Aku memilih mencium tangan om Obi dan tante Karin yang juga dokter gigi senior dan mantan bos ayah sebelumnya karena pernah menjabat jadi direktur rumah sakit ini sebelum ayah.
“Betahkan kerja jadi dokter di sini Nin?” tanya dokter Karin atau tante Karin.
Aku mengangguk sambil tertawa.
“Harus betah, supaya kamu bisa berkarier dan jadi dokter specialis nantinya” kata om Obi.
Aku mengangguk lagi.
“Nin, gak apa y ague antar anak anak gue ketemu eyangnya dulu, beli makanannya gampang deh bisa suruh Ben atau laki gue” kata kak Bella atau dokter Bella.
“Iya kak, aku tapi lanjut sholat di masjid aja ya” kataku.
Dan bagusnya mereka setujui. Jadi aku melanjutkan langkahku ke masjid untuk sholat lalu kembali ke ruangan rawat tante Adis setelahnya. Tapi sebelum sampai ruangan rawat tante Adis, tanpa sengaja, aku mendengar gibahan perawat di counter dekat pintu masuk menuju deretan kamar VVIP.
“Masa iya, mentang mentang pemilik rumah sakit, gak harus di bawa ke UGD dulu, tapi langsung masuk ruang rawat inap?. Terus dokter Rey langsung lagi yang periksa” gibah suster.
Aku jadi mengerutkan dahiku. Prosedurnya gak gitu memang. Kalo memang kondisinya urgent minimal di periksa dulu di ruang UGD atau ruang poli dokter yang di tuju, sebelum di putuskan rawat inap.
“Namanya keluarga sultan mah bebas kali” jawab suster yang satu.
Ya benar sih kalo alasannya itu. Jadi aku melanjutkan langkahku ke ruang rawat inap tante Adis. Kok ya semakin ramai dengan kedatangan kedua orang tua bang Ben dan si kembar anak bang Ben. Ini orang sakit apa acara pertemuan keluarga sih??. Malah bercanda juga karena celoteh lucu cucu cucu tante Adis dan om Radit. Ya memang sih tante Adis tetap di tempat tidur dan di suapi kak Puput makan yang di bawa mami mertuanya, tetap aja pemandangan yang ganjil untuk menengok orang sakit. Apalagi gak ada om Nino yang selalu ada di setiap moment saat anggota keluarganya sakit atau masuk rumah sakit. Sampai pening sendiri akunya.
“Nin, ayo sini makan, kamu belum makan malamkan?” undang bunda dan ayah pun ada di antara kami.
Aku mengangguk saja lalu ikutan makan. Kapan sih aku tidak bisa menurut pada apa yang di perintahkan ayah dan bundaku??.
“ASALAMUALAIKUM!!!”
“WALAIKUMSALAM” jawab kami semua bersamaan pintu kamar yang terbuka lalu muncullah dia yang berwajah kaku dan belakangan mengganggu pikiranku.
Aku langsung menunduk saat tatapan kami bertemu sekalipun dia tersenyum menatapku.
“Akhirnya penjahatnya datang juga mah” komen kak Puput.
Yang lain tertawa menanggapi, seperti dia yang awalnya berwajah datar dan kaku. Rasanya hanya aku yang memilih melengos menghindari tatapannya. Gak tau ya, mendadak aku kesal lagi, karena lagi lagi berhasil buat aku deg degan.