Aiden POV.
Rasa penasaranlah yang membuatku ikutan turun lalu menyusul Nina yang sudah lebih dulu masuk komplek pemakaman, lalu menyururi deretan papan nisan. Itu pun dengan pertanyaan yang terus memenuhi pikiranku. Mau apa ya Nina ke pemakaman seperti ini??.
Sampai kemudian Nina berhenti di depan dua makam dan memunggungiku. Aku jadi ikutan berhenti lalu bertahan mengawasi sampai Nina jongkong di depan kedua makam itu atau malah duduk di tanah di sela sela makam lain. Lalu buat aku bisa membaca nama di kedua batu nisan di depan Nina. NIRHAM DIRGANTARA WAHAB dan FARAHNI WAHAB. Aku sampai mengerutkan dahiku karena tidak mengenali dua nama di batu nisan marmer yang Nina datangi.
“Asalamualaikum…pah…mah…” sapanya bersuara.
Sontak aku terbelalak dan bagusnya masih bisa menahan diri untuk tidak bersuara. Semakin sibuk aku berpikir, siapa yang di makamkan di sini dan Nina sapa papa dan mama.
“Maaf aku baru datang temuin papa dan mama kalo aku sedang punya masalah….” kata Nina lagi lalu dia diam.
Sampai aku ikutan menghela nafas karena Nina juga menghela nafas berat setelah dia berhenti bicara. Tapi lalu Nina malah bertahan diam sampai aku kasihan melihatnya. Aku juga penasaran soal jati diri dua orang yang di makamkan dan Nina panggil papa dan mama.
“Nin…” tegurku sepelan mungkin supaya Nina tidak kaget.
Tapi tentu tetap kaget saat dia menoleh lalu menemukanku.
“Abang….” desisnya sampai langsung bangkit berdiri.
Buru buru aku mendekat supaya Nina tidak punya kesempatan untuk berlalu pergi dan menghindari aku lagi.
“Makam ini siapa kamu?” tanyaku setelah kami berdiri berhadapan.
Dia meringis dulu menatapku lalu beralih menatap kedua batu nisan di hadapan kami.
“Papa mamaku….” jawabnya.
Aku mau bertanya lebih lanjut tapi aku ingat adab saat mendatangi makam. Setidaknya kita harus berdoa, sekalipun hanya surat Alfatihah. Jadi aku jongkok dulu di sisi makam lain.
“Yuk kita doain dulu, Alfatihah doang juga gak apa kalo gak bisa baca doa lain” ajakku saat mengadah menatapnya.
Nina mengangguk lalu bergerak di sisi makam lain yang ternyata mamanya. Sedangkan aku di sisi makam papanya. Aku abaikan dulu soal om Rey dan tante Lila yang aku kenali sebagai kedua orang tua Nina selama ini. Dan karena lagi lagi Nina duduk di tanah di antara makam, aku jadi ikutan.
“Kotor bang” tegurnya bersuara.
“Bisa di cuci di banding kaki abang kesemutan karena jongkok lama” jawabku.
Nina mengangguk lagi.
“Ayo doa” ajakku lagi.
“Alfatihah…untuk papa dan mama aku” desis Nina lalu menunduk untuk mulai doa dan aku ikuti.
Tidak benar benar tanpa suara sih, tapi bukan berarti sampai terdengar berisik juga. Jadi aku masih bisa dengar saat Nina mengakhiri doanya.
“Aamiin…” desisnya lirih.
“Aamiin…” susulku lalu ikutan mengusap wajahku.
Kami diam dulu dan mengawasi makam di hadapan kami. Bagus sudah menjelang senja, jadi matahari sudah tidak memancarkan panas.
“Mereka papa mamaku bang” jelasnya tanpa aku tanya.
Aku mengangguk, karena dia sudah bilang itu sebelumnya.
“Mereka meninggal kecelakaan mobil yang di supiri ayah, waktu aku masih berusia satu tahun” jelas Nina lagi.
Sampai aku menatapnya karena rasa kagetku tapi Nina bertahan menatap batu nisan kedua orang tua kandungnya.
“Aku gak dendam apa lagi marah sama ayah karena ayah yang supiri papa mamaku yang akan pergi ke bandara waktu itu dan aku di titipkan pada bunda. Jadi aku selamat dari kecelakaan” kata Nina lagi.
Kok jadi ikutan merasakan kesedihan Nina?.
“Aku juga gak dendam sama ayah, karena hanya ayah yang selamat dalam kecelakaan sementara kedua orang tuaku meninggal dalam kecelakaan. Aku pikir lagi, kalo ayah memang orang jahat atau tidak baik, mana mungkin papa mamaku berwasiat, menyerahkan hak asuh aku hanya pada ayah dan bunda kalo sesuatu terjadi pada diri mereka. Artinya kedua orang tuaku percaya, kalo ayah dan bunda yang juga sahabat baik mereka, adalah orang baik dan sangat mungkin untuk menyayangiku dengan sepenuh hati mereka” kata Nina lagi sebelum mengambil tissue dalam tasnya lalu menghapus air matanya.
Dan aku hanya bisa diam mengawasi.
“Dan kenyataan memang ayah dan bunda sangat sayang ke aku bang. Valid dan bukan mengada ada atau sayang bohongan. Mereka juga tidak pernah berusaha menyembunyikan identitasku dan siapa orang tau kandungku. Mereka ceritakan semua dari semenjak aku kecil dan akhirnya aku mengerti kalo aku hanya anak adopsi” jelasnya lagi.
Bisa apa aku selain mengangguk. Kenyataan yang membuatku kaget sebenarnya. Selama ini aku taunya Nina anak kandung om Rey dan tante Lila. Aku juga tidak pernah memperhatikan dengan pasti nama lengkap Nina dari semenjak kami kecil. Aku hanya tau namanya Nina, atau Karenina. Aku tidak perhatikan nama belakang keluarganya. Tidak ada juga yang pernah membicarakan latar belakang Nina selama ini, seakan semua orang juga taunya Nina memang anak kandung om Rey dan tante Lila. Di tambah di negara kita nama belakang keluarga kadang tidak terasa penting, tidak seperti di luar negeri, yang harus sekali memakai nama belakang keluarga sebagai identitas diri seseorang dan menunjukkan latar belakang seseorang secara silsilah keluarga. Memang ada yang merasa penting memakai nama belakang keluarga yang sama, atau nama marga suatu suku tertentu, tapi kadang tidak selalu di pakai juga. Jadi rasanya wajar kalo akhirnya aku tidak pernah tau kalo Nina ternyata anak adopsi om Rey dan tante Lila sampai hari ini, atau saat ini setelah Nina cerita padaku.
“Dari semenjak kecil aku tidak pernah di bedakan, sekalipun ayah dan bunda punya anak lain hasil pernikahan mereka. Adik adikku pun selalu menganggapuku kakak perempuan mereka sekalipun mereka tau aku anak adopsi” lanjut Nina.
Aku mengangguk lagi. Hal itu yang buat orang akhirnya abai soal kenyataan Nina anak adopsi, karena memang om Rey dan tante Lila juga ketiga anak lelakinya, sayang dan perduli Nina layaknya keluarga sedarah dan sekandung.
“Tapi…tetap bang. Kenyataan kalo aku anak adopsi, terkadang buat aku merasa sebenarnya bukan bagian keluarga inti ayah dan bunda” keluhnya kali ini.
“Harusnya gak gitukan?” tanyaku bersuara.
Nina mengangguk.
“Harusnya, karena memang aku di sayangi dengan tulus oleh ayah bunda dan ketiga adikku” jawabnya.
Aku memilih diam lagi untuk menyimak cerita Nina. Aku harus tau semuakan?, mumpung Nina sedang menceritakan semua.
“Yang bisa aku lakukan akhirnya berusaha berdamai dengan kenyataan dan berusaha selalu jadi anak ayah dan bunda yang baik, yang penurut dan sebisa mungkin tidak menyusahkan ayah dan bunda. Gak apa aku harus mundur teratur saat semua orang membicarakan ketiga adikku yang pastinya lebih di kenali secara karakter dan kemampuan yang sama dengan ayah dan bunda. Toh kenyataannya aku bukan anak kandung ayah dan bunda. Aku harus cukup merasa beruntung karena papaku juga dokter hebat, jadi memungkinkan untuk aku jadi dokter yang hebat seperti papaku dan ayah. Aku harus merasa beruntung kalo aku punya keberanian dan kemandirian mirip mamaku yang juga putri tentara macam bunda. Jadi akhirnya orang yang tau aku anak adopsi selalu berpikir aku itu pantas jadi anak kandung ayah bunda, karena aku punya kemiripan juga dengan ayah dan bunda” kata Nina dengan lelehan air matanya lalu buru buru dia hapus dengan tissue yang sebelumnya dia pegang.
Kok ya jadi mirip aku ya?. Aku pernah bilangkan?. Kalo di banding kedua saudaraku yang lain, aku selalu merasa tidak menonjol. Walaupun setiap orang yang mengenalku selalu bilang aku mirip papa yang tenang dan tidak neko neko. Lalu kenyataan kalo aku tidak punya teman seumuran atau sepantaran dari circle pergaulan mama papaku, semakin buat aku sulit untuk bergaul dengan anak anak dalam pergaulan kedua orang tuaku. Akhirnya aku memilih menyendiri. Gak usah dengan anak anak teman atau sahabat kedua orang tuaku, dengan sepupuku sendiri aja, kadang aku merasa canggung. Padahal mereka welcome dan selalu menganggapku ada. Tetap aja akunya tidak bisa bergaul lepas dan luwes seperti kedua saudaraku yang karakternya menonjol dan mirip dengan karakter menonjol dari keluarga mamaku yang kaya raya. Bang Noah, jelas mirip sekali dengan ayah Nino yang juga abang kandung mamaku. Tidak hanya tampilan fisik bang Noah, minat dan bakatnya juga dalam bidang kontruksi bangunan, juga karakternya yang meledak ledak. Bang Noah juga dekat sekali dengan eyang uti.
Puput pun begitu, karakter dan tampilan fisiknya mirip sekali mamaku yang manja, bossy, dan kadang semaunya. Lah aku mirip siapa?, ya mirip papaku. Pada akhirnya juga, aku meniru sikap papa yang selalu ada dalam setiap kesempatan bersama keluarga mama yang lain, karena keluarga papa keluarga tentara yang tidak bisa menetap di suatu tempat tapi tergantung di mana di tugaskan, yang membuat papa terkesan sebatang kara. Papa yang hanya akan diam mengawasi tanpa banyak berkata kata kecuali di tanyai pendapat, tapi tetap selalu berusaha keras menunjukan papa punya kemampuan bertanggung jawab pada setiap hal yang di percayakan pada papa. Aku juga tiru bagian itu dengan berusaha keras bertanggung jawab pada kepercayaan papaku soal urusan unit usaha sport center, dan aku buktikan aku mampu seperti papa yang akhirnya berhasil membuktikan kalo papa mampu jadi pimpinan perusahaan keluarga mama sampai saat ini sekalipun sudah perlahan di ambil alih bang Noah.
“Sekarang aku bingung bang harus gimana….” keluh Nina lagi.
“Soal apa?” tanyaku.
Nina baru menatapku.
“Perjodohan kita oleh mama abang dan bunda aku, karena kalo ayah dan papa abang sepertinya tidak terlalu over ekspektasi ke kita berdua bisa merasa cocok lalu memungkinkan untuk kita menikah” jawab Nina.
Aku langsung menghela nafas berat.
“Di satu sisi aku yakin, abang pasti setuju, kalo kita masih butuh banyak waktu untuk saling mengenal. Jadi rasanya sulit untuk kita memutuskan menikah dalam waktu dekat. Tapi di satu sisi aku kasihan melihat mama abang, sampai segitu berusahanya supaya kita bisa sama sama terus sampai betah bertahan di rumah sakit padahal secara medis mama abang baik baik aja, hanya kurang istirahat” kata Nina lagi.
“Gak usah pikirin soal mama abang. Abang susul kamu pun karena merasa gak enak dengan sikap mama ke kamu tadi” jawabku buru buru.
Tapi Nina menggeleng menanggapi.
“Aku mana mungkin mengabaikan harapan mama abang yang udah baik sekali bantu karier ayah juga karierku sekarang secara tidak langsung, karena aku yakin ayah punya kemampuan memimpin rumah sakit dengan baik, dan aku merasa punya kemampuan juga jadi dokter yang baik” kata Nina menyanggah kata kataku.
Aku memilih diam lagi, karena kalo ujungnya dengan rasa utang budi ya susah ya?. Terkadang banyak orang yang akhirnya melakukan sesuatu yang buat dia tidak nyaman atau tidak suka atau malah menuruti kemauan orang yang sudah banyak membantu hidupnya, karena rasa tidak enak.
“Aku gak hanya kasihan sama mama abang tapi kasihan juga pada ayah dan bunda yang mungkin saja merasa serba salah, seandainya aku tidak bisa memenuhi harapan mama abang…” kata Nina lagi.
Lagi lagi aku menghela nafas.
“Udah ah gak usah kamu pikirin, ayo kita pulang. Besok kita temanin mama abang aja, sambil pelan pelan lakukan pendekatan lagi, kalo memang kamu tetap bersedia abang dekati kamu. Mama abang cuma overthinking karena selama kita temanin mama abang di rumah sakit, kita sama sama banyak diam. Jadi sekarang abang sekalian minta maaf sama kamu, kalo abang punya salah” kataku.
Gantian Nina menghela nafas.
“Yuk kita pergi, kapan kapan kita tengokin papa mama kamu lagi. Abang mau kok temanin kamu” ajakku.
Nina sontak menatapku lagi.
“Abang serius. Abang ngerti kok perasaan kamu. Makanya abang mau temanin kamu kalo mau ketemu papa mama kamu lagi di sini. Sekarang udah mau magrib. Lebih baik kita cari masjid terus kamu doa untuk papa mama kamu. Doa anak itu termasuk yang akan di dengar Tuhan, dan termasuk amal atau pahala yang tidak akan pernah putus untuk kedua orang tuanya. Yuk kita pulang dulu” ajakku lalu bangkit berdiri.
Dan karena Nina butuh waktu mengusap batu Nisan kedua orang tuanya dulu, baru aku ulurkan tanganku untuk membantunya bangkit berdiri.
“Makasih bang” jawabnya.
Tapi tidak akan aku lepas genggaman tanganku pada tangan Nina. Kasihan…
Jadi kami menyusuri deretan batu nisan sambil berpegangan tangan, dan baru terlepas saat Nina harus memasukkan uang ke kotak kayu di depan pintu masuk makam.
“Ayo bang” ajaknya lagi setelah selesai lalu dengan kemauannya sendiri merangkul lenganku sampai ke lokasi mobilku berada.
Aku bukakan dulu pintu mobil untuk Nina lalu dia tersenyum menatapku sebelum dia masuk mobil lalu aku menyusul masuk mobil.
“Kita sholat magrib dulu ya. Abis kita makan dulu baru abang antar kamu pulang” kataku lagi lalu mengusap kepalanya dulu sebelum aku menyalakan mesin mobilku.
Dan jadi mendadak risih akunya, karena Nina terus mengawasi aku menyetir mobil sambil aku mencari keberadaan masjid di sekitar kami. Mau aku jeda tatapannya dengan tanya kenapa dia terus menatapku, nanti malah Nina malu, lalu hindari aku lagi. Biar dulu deh, mau sampai juga lihatin aku terus. Dan berhenti juga menatapku saat akhirnya aku menemukan masjid untuk kami sholat magrib.
“Kita sholat dulu. Nanti kalo udah selesai kamu duluan, tunggu abang di depan masjid ya” pintaku bersamaan dengan kumandang azan.
Nina mengangguk lalu beiringan kami masuk area masjid. Kami sholat masing masing dulu dengan jamaah yang lain, lalu begitu selesai bertemu lagi di depan masjid lalu bergerak lagi menuju mobilku untuk pergi makan malam sebelum aku antar pulang.
“Mau makan apa kamu?” tanyaku dulu takut Nina mau makan sesuatu.
“Bang….” jawabnya malah menatapku lagi dan mencegahku menyalahkan mesin mobilku.
“Kenapa?” tanyaku jadi batal menyalahkan mesin mobil.
“Abang beneran mau nikahin aku?” tanyanya.
Aku jadi diam dan memilih serius membalas tatapan matanya yang juga serius menatapku.
“Kalo abang serius mau nikahin aku. Yuk kita nikah. Terserah kapan waktunya, aku mau kok nikah sama abang” katanya lagi.
Hampir aku tertawa tapi aku tahan. Aku juga bingung kenapa aku mendadak happy.
“Kamu serius?” tanyaku mamastikan dulu keseriusan ajakan Nina.
Kenapa jadi terbalik gini?. Kenapa malah dia yang ajak aku nikah duluan?.
“Aku serius” jawabnya.
Sontak aku tertawa lalu reflek memeluknya.
“Tapi ada syaratnya bang…” jeda Nina dalam pelukanku.
Nah bagian ini yang mesti kami tetap bicarakan.