7.Kena Ulti

2463 Words
Aiden POV. Harusnya aku tidak pulang ke rumah mamaku sepulang mengantar Nina pulang. Soalnya mama langsung kepo mencariku ke kamarku dan menjeda tidurku hanya untuk tanya gimana pertemuaanku dengan Nina kemarin. “Masih ngantuk mah” tolakku karena mama seriusan tidak sabar menungguku bangun tidur. “Eh, cerita dulu. Lagian udah mau jam makan siang. Memangnya kamu tidak laper?” jawab mama lalu menarik bedcover yang membungkus tubuhku di ranjang tidurku. “Astaga….” keluhku jadi bangun terduduk lalu memincingkan kedua mataku menghadapi sorot matahari yang masuk lewat jendela kamarku. “Ai…” rengek mama kalo panggil aku memang seperti itu. “Wait” jawabku lalu turun dari ranjang menuju kamar mandi. Mana mungkin mama ikut. Sekalipun aku putranya, tetap aja punya privacy dan aku sudah dewasa. Masa iya mau ganggu aku pipis dan cuci muka?. Tapi ternyata menungguku di depan pintu kamar mandi. “Ya salam….” desisku meniru abangku kalo merasa kesal. “Ya lagian kamu kebanyakan iklan cuma untuk cerita sama mama soal pertemuan dengan Nina kemarin” jawab mama. “Aku kasih makan dulu kek. Nanti aku sambil cerita sama mama” jawabku. “Benar ya?. Ayo turun ke meja makan” ajak mama sampai menarik tanganku keluar kamar. Benar benar deh, mama dari dulu selalu kepo urusan anak anaknya. Mau soal apa pun. Untuk itu sering sekali ribut dengan bang Noah, karena memang mama ribet sekali kalo keinginannya belum di turuti. “Papa mana?” tanyaku dulu karena tidak menemukan papaku di meja makan. “Udah sarapan dan sudah ngopi ganteng di ruang kerja papa” jawab mama lalu teriak minta tolong pembantu rumah menyiapkan sarapanku. Sudah jam 9 pagi sih, masih cocok gak sih di sebut sarapan?. Cocok aja kali, kalo sarapan nasi goreng dan ceplok telur mah. Dan mama ternyata masih bisa sabar sampai aku selesai sarapan. “Jadi gimana Ai?” kejar mama setelah aku menghabiskan jus jeruk lumayan dingin sebagai minumanku. “Ya gak gimana gimana. Kalo orang ketemuan gimana menurut mama?” jawabku. “Maksud mama, gimana Nina menurutmu?” kata mama menanggapi. “Cantik….” “Kamu sukakan?” potong mama. Tertawalah aku. “AI!!” jedanya pada tawaku. “Aku suka, tapi masalahnya Nina suka juga gak sama aku?” jawabku. “Memang kamu gak bisa lihat apa Nina suka atau gak sama kamu?” tanya mama. Aku diam dulu. Rasanya sikap Nina biasa aja sih. Kalo terlihat malu malu atau kaku, karena dia tidak punya pengalaman di dekati lelaki sebelumnya. Jadi aku tidak bisa menebak dengan pasti, apa Nina suka aku atau tidak. “Honestly, aku gak bisa nebak apa Nina juga suka aku atau gak. Yang pasti dia bersedia juga aku ajak dinner sebelum aku antar pulang” jawabku. Mama gantian diam. “Kenapa sih mah?. Mama jangan ekspektasi berlebih dulu. Aku dan Nina itu baru sekali bertemu” jedaku pada diamnya mama. Mama lalu menghela nafas menanggapi. “Terus belum ada juga pembicaraan yang lebih pribadi karena waktunya tidak cukup untuk itu. Aku gak enak soalnya sama om Rey dan tante Lila kalo menahan Nina lebih lama di luar rumah, apalagi Nina pasti cape habis tugas di rumah sakit” kataku lagi. “Kalo gitu ajak lagi dong Nina ketemuan” jawab mama bersuara. “Ya nanti juga aku ajak ketemu lagi. Gak sekarang juga, kan kemarin baru ketemu mah” sanggahku. “Emang kenapa ketemu lagi?. Semakin sering kalian bertemu, memungkinkan untuk kalian saling mengenal satu sama lain. Yang gercep dong jadi laki, jangan main aman. Iya kalo Nina suka kamu, kalo Nina gak suka kamu, ya mesti kamu usaha dong supaya Nina suka kamu” kata mama. Menghela nafaslah aku. “Mama kasih tau ya, perempuan itu luluh kalo merasa di perjuangkan. Dan akan menyerah kalo merasa di abaikan” kata mama lagi. “Iya udah, nanti aku ajak ketemu lagi” jawabku beneran mencari aman. “Kapan?” kejar mama. Aku langsung diam lagi. “Ayo apa Ai….Kamu bilang kamu suka Nina, cantikkan?” kejar mama lagi. “Iya…lusa deh aku ajak ketemu lagi, mumpung Nina libur kerja” jawabku beneran menyerah. “Beneran?” tanya mama langsung antusias lagi. Aku buru buru mengangguk. “Iya beneran. Aku janji. Jadi mama bisa pegang janjiku, janji gentleman mah” jawabku. Bersoraklah mamaku dan memberikan kesempatan aku untuk bangkit dari dudukku. “Ai mau kemana?” jeda mama. “Mau tidur lagilah. Aku masih ngantuk” jawabku. “Okey” jawab mama melepasku juga kembali ke kamarku. Tapi lalu aku urung tidur setelah masuk kamar lalu mengecek handphoneku. Aku ingat mengirim kabar pada Nina kalo aku sudah sampai rumah semalam. Setauku seperti itu kalo sedang PDKT dengan cewek, saling berbagi kabar. Tapi kok pesanku tidak di balas, malah tidak ada tanda di baca juga, kalo tidak ada centang biru. Masa iya Nina beneran tidak baca pesanku?. Atau mungkin dia tidak perduli padaku?. Atau malah tidak tertarik?. Buat kepalaku mendadak pening. Aku udah bilang suka Nina lagi ke mama, terus kalo Nina tidak tertarik padaku, apa gak akan jadi PR ke mama??. Mau tidak mau, aku harus cari tau dengan mendatangi Nina lagi. Jadi aku bergegas mandi. Bisa sih aku telpon, tapi kalo bisa aku temui langsung, kenapa lewat telpon??. Iyakan??. “Mau kemana Ai?” tegur mama setelah aku selasai mandi dan bersiap. “Mau ketemu Nina mah” jawabku. Terbitlah senyum di wajah mama. “Ya udah sana, daripada kamu tidur lagi, lebih baik ketemu Nina terus kalian kencan” jawab mama. Aku tertawa dulu lalu mendekat untuk mencium tangan mama dan mencium pipinya. “Mama doakan bujang mama cepat berhasil merebut hati perawan cantik calon mantu mama” kata mama dan buat aku tertawa lagi. Gak akan ada habisnya kalo melayani mama, lebih baik aku buru buru bergerak menemui Nina. Tepat juga waktunya untuk aku datang. Tidak terlalu pagi juga untuk bertamu ke rumah om Rey dan tante Lila. Walaupun mereka sempat kaget juga melihatku datang. “Aiden?” tegur tante Lila yang sedang bersantai di ruang tengah rumah bersama om Rey. Buru buru aku mendekat tepat mereka berdua bangkit menyambutku lalu aku mencium tangan mereka. “Nina ada om, tante?” tanyaku setelah di persilahkan duduk oleh om Rey. “Ada…tapi masih di kamar, nak. Memang kalian janjian??” tanya tante Lila. Aku langsung mengusap tengkukku karena mendadak grogi. “Gak sih tante. Hm….” “Sana bangunkan putrimu. Sudah siang juga” jeda om Rey menyelamatkan aku. “Okey, sebentar ya Aiden” pamit tante Lila. Menghela nafas legalah aku. “Kamu dari rumah?. Atau dari apartemanmu?” tegur om Rey sebelum mengajakku ngobrol hal lain. “Dari rumah mama om. Semalam pulang ke rumah mama” jawabku. Ramah sih om Rey dan kelihatan tidak merasa keberatan aku datang lagi untuk menemui putrinya setelah kemarin aku temui. Yang jadi masalah justru Nina yang akhirnya bangun tidur dan sudah mandi. Tante Lila sendiri sudah sibuk di ruang makan karena mengundangku makan siang. “Loh, kok gak pakai baju yang lebih rapi nak?” tegur om Rey saat Nina sudah bergabung duduk di sebelahnya dan hanya pakai kaos gombrong dan juga celana pendek. “Emang kita mau pergi bang?” malah tanya aku. Aku sontak tertawa dan om Rey geleng geleng. “Benar benar kamu sih. Masa mau temui bujang pakai baju gak rapi begini. Aiden aja pakai baju rapi” tegur om Rey lagi. Nina langsung meringis waktu dia menatapku. “Gak apa om. Aku memang gak bilang juga akan ajak Nina keluar rumah” belaku. “Aku mesti ganti baju ya yah?” tanyanya pada om Rey. Om Rey hanya menghela nafas dan aku tertawa lagi. “Udah gak usah Nin, kita bisa ngobrol di rumah aja kalo kamu mau habiskan hari liburmu di rumah” jawabku. “Yah…” rengeknya pada om Rey. “Iya sudah kalo Aiden tidak keberatan. Lain kali jangan gitu ya nak. Aiden kan tamu kamu. Harus sopan kalo menerima tamu kamu, mau siapa pun itu” jawab om Rey. “Maaf yah” jawabnya. Ya aku tertawa lagi aja. Wajar sih kalo di rumah memakai baju santai. Aku aja sering kok pakai baju kaos doang dan celana pendek kalo sedang di rumah sekalipun ada tamu mencariku. Memangnya kenapa?. Om Rey aja agak berlebihan, atau tidak suka melihat penampakan paha putrinya yang jadi bisa aku lihat??. Hadeh…apaan sih Aiden, jadi m***m gini??. “Yah makan yuk, masa aku laper…” rengek Nina. “Astaga…kamu tuh…” tegur om Rey lalu memijat keningnya. Aku ya sudah tertawa lagi. “Aku laper yah, masa aku gak boleh makan dulu baru temanin bang Aiden ngobrol?” jawab Nina. “Iya sudah ayo makan dulu. Sana tanya bunda, makan siangnya sudah siap belum?” jawab om Rey menyerah juga pada kelakuan cuek putrinya. “Okey, sebentar ya bang” pamitnya padaku. Aku mengangguk saja lalu Nina berlalu mencari tante Lila di ruang makan rumah mereka. “Lihatkan?. Putri om macam itu. Di bilang tomboy, nyatanya penampakannya girly sekali sekarang. Tapi gak ngerti mesti gimana kalo berhadapan dengan lelaki” keluh om Rey. Aku tertawa menanggapi. “Tenang om, aku bisa maklumi” jawabku. Om Rey lalu menghela nafas setelahnya dia mengangguk. “Om tidak minta banyak padamu soal putri om. Hanya minta kamu sabar hadapinya. Kuncinya itu. Soalnya kalo bicara baik, putri om anak yang baik. Dan bukan bermaksud bela Nina. Tapi memang Nina baik kok” pinta om Rey. Aku mengangguk menanggapi. “Insya Allah om” jawabku. Baru deh om Rey tersenyum mendengar jawabanku. Setelahnya Nina kembali dan mengajak kami makan siang bersama. Aku masih kenyang sih, tapi demi adab kesopanan, aku penuhi juga ajakan makan siang om Rey dan tante Lila. Duduklah kami bersama di meja makan dengan om Rey di puncak meja makan lalu aku di sisi kiri dan tante Lila di sisi kanan. Nina ya di sebelahku, itu pun karena di ingatkan. “Nin…tawarin dulu lauknya ke tamu kamu” tegur tante Lila saat Nina mulai sibuk mengambil lauk untuk dirinya sendiri. “Loh, dari tadi bunda sama ayah udah tawarin terus ke bang Aiden. Emang aku juga mesti begitu?” jawabnya. “YA TUHAN!!!” cetus tante Lila sampai menepuk jidatnya dan aku tertawa. Om Rey yang geleng geleng menatap putrinya yang justru bingung melihat komentar bundanya. “Udah tante gak apa. Ayo makan Nin, kamu laperkan?” jawabku menanggapi. Nina mengangguk pada kata kataku lalu beneran mulai makan. “Maaf ya Aiden…” kata tante Lila. Aku mengangguk saja lalu mulai mengambil lauk yang justru di tawarkan tante Lila. Beneran PR kayanya melihat kecuekkan Nina, atau ketidak mengertian Nina saat menghadapi lelaki yang mendekatinya. Tapi aku abaikan dulu Nina yang makan dengan mode lahap di sampingku dan diam menyimak apa pun obrolanku dan kedua orang tuanya sampai kami selesai makan. Tapi Nina ngerti kok caranya bantu tante Lila membereskan meja makan dengan pembantu juga, sementara aku pamit sholat bersama om Rey. Ya aku sholat di kamar tamu sementara om Rey sholat di kamar pribadinya. “Sana ajak Aiden ngobrol di ruang tamu, biar kalian nyaman bicara” perintah om Rey setelah kami semua selesai sholat. “Aku permisi dulu om, tante” pamitku setelah melihat Nina mengangguk lalu membawakan kopi yang tadi dia buatkan untukku dan om Rey. Tante Lila masih sibuk khas emak emak di dapur jadi tidak ada di antara kami. “Kamu udah sholat?” tanyaku setelah kami duduk bersama di sofa panjang ruang tamu rumahnya. “Udah bang. Bunda soalnya bebasin aku dari urusan cuci piring supaya aku cepat sholat terus temanin abang” jelasnya. Beneran mesti as command ayah bundanya. Lucu banget ya??. “Abang ngapain sih ke ketemu aku lagi?” tanyanya menjedaku minum kopiku. “Memang gak boleh?, kamu bilang abang boleh ketemu kamu lagi?” jawabku lalu menaruh cangkir kopiku di meja. “Ya boleh, tapikan aku pikir besok besok yang abang bilang, bukan besok setelah kita ketemu kemarin juga” jawabnya. Sontak aku tertawa. “Abang malah ketawa” protesnya dengan wajah cemberut. Malah aku tertawa lagi menanggapi. “Dih, kenapa jadi ketawa trus sih bang. Biasanya muka abang kaku banget” jedanya. Baru aku diam dan menatapnya. “Kenapa sih bang?, jangan lihatin aku kaya gitu. Aku deg degan” rengeknya dengan wajah meringis. Sontak aku menghela nafas. “Abang mau tanya, kenapa gak baca dan balas chat abang semalam?” tanyaku to the point. Malah mengerutkan dahinya menatapku. “Memangnya abang kirim chat ke aku?” tanyanya. “Memang kamu gak cek handphonemu?” jawabku. “Gak lagi….” desisnya lalu meringis. “Beneran?. Memang kamu silence?” tanyaku lagi. “Gak sih. Semalam soalnya aku langsung mandi terus tidur setelah abang pulang” jawabnya. “Terus tadi pas kamu bangun tidur, kamu gak cek handphonemu?” tanyaku mengingat kebiasaan rata rata orang yang langsung mengecek handphone ketika bangun tidur. Nina justru menggeleng. “Memangnya harus ya??” jawabnya. “HAH!!” cetusku tidak percaya dengan kata katanya. “Iya, memangnya harus cek handphone gitu tiap bangun tidur atau setiap waktu?” tanyanya di luar nalar. “Terus kamu punya handphone buat apa?” tanyaku bertahan sabar. “Ya buat komunikasi sih. Tapikan bukan berarti aku harus banget setiap saat ngecek handphoneku. Memangnya siapa yang bakalan cari aku bang?. Paling bunda, ayah, atau adik adikku. Itu pun jarang karena mereka lebih senang telpon aku” jelasnya. Ya bisa jadi karena Nina abaikan pesan mereka jadi mereka memilih menelpon Nina. “Aku aja kadang bingung kok orang suka banget ya lama banget main handphone. Kok ya gak merasa rugi waktu mereka kebuang percuma cuma buat lihat handphone. Memang di handphone ada apa sih bang?” tanyanya. Mateng gak tuh kepalaku. Masa iya tanya di handphone ada apa?. Masa iya Nina tidak tau di handphone ada apa sampai orang betah sekali main handphone?. “Abang…abang sakit kepala?” tanyanya lagi karena aku mulai memijat keningku. Aku buru buru menggeleng. “Aku ada stok obat sakit kepala kok. Abang mau minum obat?” tanyanya lagi. “Ya salam….” desisku jadi terbahak juga akhirnya. Nina malah cemberut menatapku. Beneran PR banget melakukan PDKT dengan calon istri yang mamaku rekomendasikan, kalo model Nina gini. “Abang memang kirim pesan apa sih ke aku?” tanyanya menjeda tawaku. Aku jadi menatapnya karena dia serius juga menatapku. “Kamu suka abang gak sih Nin?” tanyaku memastikan. “HAH!!!” cetusnya lalu matanya terbelalak menatapku. “Jawab aja. Biar abang ngerti” pintaku. Dia meringis menatapku dulu dengan wajah memerah lalu dia menghela nafas dan menghindari tatapanku. “Kalo boleh jujur…” jawabnya lalu dia diam. “Ya jujur aja. Abang gak apa kok” kejarku jadi penasaran sendiri. “Aku gak suka sama abang….” jawabnya lalu menoleh menatapku. Hadeh…gak suka jawabannya. Aku hentikan usahaku aja kali ya??. Untuk apa kalo Nina gak suka aku, terus aku dekati terus?.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD