Aiden POV.
Jadi kumpul semua begini keluargaku. Tidak hanya papa mamaku yang duduk berdampingan. Ada eyang uti dan eyang kung. Ada ayah Nino abang kandung mamaku juga bunda Noni istrinya yang bule cantik. Terus ada papa Reno yang abang sepupu mamaku, juga istrinya mama Kezia yang masih kelihatan muda. Lalu mama Sella tanpa suaminya karena sudah almarhum jadi duduk berderet dengan papa Reno yang adik lelaki bungsunya bersama istrinya satu bangku. Lalu terakhir mami Misel dan papi Eri yang juga adik mama Sella dan kakak Papa Reno. Merek bertiga memang sepupu mamaku. Dan dalam keluargaku tidak ada sebutan om atau tante, tapi ayah, papa, papi, mama, bunda atau mami. Jadi semua menganggap semua orang tua di keluargaku sebagai ibu dan bapak seperti ibu dan bapak kandung. Dan sebenarnya kadang jadi beban tersendiri sih kalo buat aku. Tentu hormat dan respectnya tidak mungkin sama seperti pada tante atau om, kalo mereka semua memang memperlakukan semua anak dalam keluarga sebagai anak mereka juga sekalipun keponakan.
“Ini beneran aku gak perlu mandi dulu?” tanyaku memastikan karena memang aku tidak di perbolehkan kemana mana dan harus bertahan duduk di antara kedua eyangku.
“Kalo kamu mandi dulu, setelah itu kamu kabur pergi lagi, dan susah untuk kami menyuruhmu datang ke rumah mamamu lagi” kata mama Sella.
Aku tertawa waktu semua orang tua mengangguk.
“Ya terus ada apa?. Kok ya aku seperti mau di sidang?” masih aku bercanda menanggapi semua orang tua di hadapanku.
“Bukan sidang schazt….” kata eyang uti sambil mengusap tanganku.
Eyang uti memang selembut itu pada anak lelaki. Mau anak, menantu lelaki atau cucu lelaki, pasti kalo panggil sayang dengan sebutan schazt. Kalo anak, menantu, dan cucu perempuan, urusan eyang kung dan selalu di panggil Belle untuk panggilan sayang.
“Dengar apa yang mau mamamu sampaikan Aiden” kata eyang kung.
Aku memilih mengangguk. Soalnya kalo eyang kung sudah angkat bicara, yang jadi orang tua pun akan bertahan diam dan menyimak.
“Mama mau kamu menikah” kata mama bersuara.
Baru deh aku menghela nafas. Urusan itu lagi.
“Dan biar mama yang pilihkan perempuan yang harus kamu nikahi” lanjut mama.
“HAH!!” cetusku tanpa bisa aku tahan.
Mama yang pilih perempuannya?. Maksudnya di jodohkan??.
“Ya harus begitu, kecuali kamu punya pacar” suara bunda Noni.
“Hadeh….” keluhku menghela nafas.
Memang aku tidak pernah punya pacar. Makanya tidak pernah mengenalkan gadis manapun ke keluargaku.
“Emang masih zaman di jodohkan begini?” protesku sambil tertawa supaya mereka tau kalo aku tidak marah.
“Ya habis mau gimana lagi?. Rasanya mama papamu sudah memberikan banyak sekali waktu untuk kamu mencari calon pasangan hidupmu sendiri dan di bebaskan mau siapa pun itu. Tapikan sampai sekarang nyatanya tidak ada satu pun perempuan yang kamu kenalkan sebagai pacarmu, apalagi calon istrimu” kata mama Sella sekarang.
“Jangan seperti papa Aiden, yang akhirnya menikah di usia papa yang hampir 40 tahun. Kasihan anak anakmu nanti. Papa aja menyesal kalo papa menyingkirkan kuasa Tuhan atas jodoh papa di masa lalu” kata papa Reno yang memang menikah di usia hampir 40 tahun.
Untuk itu ketiga anak papa Reno masih sekolah di saat anak anak kakak dan sepupunya sudah menikah dan punya anak. Dan buat aku menghela nafas.
“Dalam keluarga kita, yang usianya sudah cukup untuk menikah, tinggal kamu Aiden. Dan bukan kami menekanmu untuk segera menikah. Tapikan bagian tanggung jawab kami sebagai orang tua untuk menghantarkan anak anak kami untuk menikah dan punya pasangan” kata mami Misel ikutan bicara.
Aku lalu menghela nafas lagi, sambil mengawasi ayah Nino dan papaku yang bertahan diam mengawasiku juga.
“Okey…lalu dengan siapa aku akan di jodohkan?. Tentu aku harus tau orangnya kan??” kataku menyerah juga akhirnya pada tatapan ayah Nino dan papaku.
“Karenina, putri dokter Rey” jawab mama.
Sontak aku tertawa.
“Kenapa?” tanya ayah Nino bersuara juga akhirnya.
Buru buru aku diam dan menggeleng.
“Kamu tau siapa Karenina kan?” tanya mama.
Aku menganguk, walaupun agak agak lupa. Seingatku Karenina yang mama bilang, dulu itu berteman dengan Puput, adik bungsuku. Tapi karena satu tahun di bawah Puput, dan seingatku tomboy sekali, jadi mereka tidak akrab. Setelah itu aku lupa karena jarang sekali bertemu dengan Karenina atau Nina deh nama panggilannya.
“Aku tau siapa Nina, tapi memangnya Nina bersedia di jodohkan denganku?” tanyaku memastikan.
“Kalo Nina bersedia, apa kamu bersedia?” tanya ayah Nino bersuara lagi.
“Ya…gak harus langsung nikahkan?. Bolehkan penjajakan dulu atau pacaran dulu deh” kataku mencari aman.
Sambil aku tatap semua orang tua di hadapanku.
“Berapa lama?” tanya papaku bersuara karena mamaku menatap papaku.
Aku diam kali ini.
“Nina sudah jadi dokter anak di Twins hospital dan sudah praktek secara rutin di dampingi om Rey, ayahnya. Kamu bisa temui Nina di rumah sakit kalo memang butuh penjajakan dulu….” suara ayah Nino.
“Kalo ternyata tidak merasa cocok?” potongku.
Kompak kesemua orang tua menghela nafas.
“Coba dulu. Kamu kan sudah kenal Nina sebelumnya walaupun tidak akrab. Nina gadis baik, pekerja keras sepertimu, dan penyayang. Uti harus bilang juga, kalo Nina juga cantik” kata Uti.
Sontak aku tertawa menanggapi.
“Sepertinya kalo pun kami tidak merasa cocok, harus tetap menikah ini sih, kalo uti sudah punya penilaian seperti itu untuk Nina” komenku.
“Aiden…” tegur mamaku.
Aku tertawa lagi menanggapi.
“Loh aku benar dong mah. Kalo uti sudah punya penilaian baik pada Nina, pasti mama dan papa dan semua orang tuaku akan setuju, mengingat uti yang paling punya pengalaman di antar mama papa dan semua orang tuaku di sini” komenku lagi.
“Mungkin benar apa yang kamu bilang, untuk itu apa salahnya coba dulu Aiden” kata papaku bersuara lagi.
Aku menghela nafas lagi.
“Tidak ada orang tua yang akan membuat anaknya celaka. Om Rey dan tante Lila pun tidak mungkin akan membiarkan putrinya celaka karena mereka orang tua Nina. Kalo akhirnya mereka setuju putri satu satunya di jodohkan denganmu, tentu mereka juga menilai kamu sebagai sosok lelaki yang baik. Dan kamu nyatanya memang baik. Kamu bertanggung jawab, sampai kadang mengabaikan hal lain di luar pekerjaanmu. Dan sudah cukup untuk itu Aiden” kata eyang kung.
Aku memilih diam kali ini dan menyimak.
“Kamu bukan robot nak!!. Percuma juga kamu punya segala, kalo kamu tetap memilih sendiri. Kamu memang punya banyak uang, masih punya orang tua, masih punya saudara. Tapi punya pasangan hidup tetap perlu, supaya kamu punya tujuan akhir sebagai manusia pada umumnya. Orang tua nanti akan menua, lalu berpulang, karena memang siklus kehidupan seperti itu. Saudara saudaramu akan sibuk dengan keluarga mereka sendiri dan pasangan hidup mereka. Teman temanmu pun akan begitu juga karena akan punya kehidupan sendiri juga. Lalu dengan siapa kamu akan berbagi?. Dengan uangmu?. Harta bendamu?. Apa itu semua punya nyawa dan punya perasaan?. Tidak bukan?. Yang akan kamu rasakan akhirnya hanya sepi. Untuk itu Tuhan pun memerintahkan setiap manusia menikah dan punya pasangan” kata eyang kung lagi.
“Lihat uti, karena punya eyang kung. Sampai setua ini, uti tidak pernah merasa kesepian. Ada tempat untuk uti selalu berbagi kasih sayang dan perhatian. Uti dan kakung memang punya anak dan cucu sampai cicit yang semakin bertambah, tapikan ada kalanya, semua dengan kesibukan mereka. Apa uti bisa protes?, kan tidak bisa” tambah uti.
Aku mengangguk kali ini.
“Jadi kamu setuju dengan perjodohan ini?” tanya mamaku menjeda.
Aku diam lagi.
“Jangan berpikir kami memaksakan kehendak kami, nak. Lihat mama Ella, yang sekarang tidak punya suami, karena papa Pram sudah berpulang lebih dulu. Kadang mama merasa kesepian, dan rasanya tidak enak. Dan mama tidak berharap kamu merasakan kesepian yang mama Ella rasakan” kata mama Sella.
Tidak perlu mama Sella bilang pun, aku sebenarnya sudah merasakan kesepian itu. Terkadang ya kalo sudah kesibukan kerjaku mereda. Tapi seperti yang uti bilang, bisa apa aku?. Aku tidak mungkin merengek minta mama temani, sementara mama punya kesibukan mengurus yayasan, rumah sakit dan papaku. Mau merengek minta di temani dua saudara kandungku, mereka juga sibuk dengan keluarga kecil mereka. Mau kumpul dengan teman temanku, Keanu aja yang belum menikah, dan baru tunangan, tentu lebih sedang berduaan dengan tunangannya di banding menemaniku nongkrong. Sudah habis masanya juga untuk aku nongkrong di luar. Sudah kenyang semenjak aku sekolah, sampai lulus kuliah. Ujungnya aku sibuk olah raga, macam main basket atau futsal dengan siapa pun yang aku temui saat itu. Atau sibuk dengan peralatan gym di apartemanku atau di sport center terdekat dengan apartemanku.
“Okey, aku akan coba temui Nina dulu” kataku menyerah beneran sekarang
Kebayangkan kalo aku tentu kesulitan menolak keinginan para orang tua di hadapanku?.
“Kamu seriuskan?” tanya mamaku tanpa bisa lagi menyembunyikan rasa senangnya.
Aku mengangguk.
“Tapi…..” tegur ayah menjeda.
Ayah Nino tuh tipe yang tidak mungkin langsung percaya. Tipe yang bermasalah dengan trust issue, jadi harap di maklum.
“Yakan ketemu Nina dulu, bukan langsung menikahi Nina” kataku.
Menghela nafaslah mamaku, dan wajahnya mendadak cemberut khas mama, yang selalu di ledek si anyun oleh ayah Nino dan papa Reno kedua abangnya.
“Udah Dis, biar Aiden ketemu Nina dulu. Mana mungkin juga buru buru menikah. Memangnya MBA?” kata Mama Kezia.
Sontak aku tertawa walaupun mamaku bertahan cemberut.
“Kadang gue malah mikir mending bujang gue buntingin anak perempuan orang, kalo tau sampai umur segini dia belum juga nikah” komen mamaku.
“HEI!!!” tegur mami Misel.
“Ya habisnya masa adem banget sama perempuan” komen mama.
“Ya bisa jadi seperti Radit yang tidak grasak grusuk. Namanya anak, masing masing punya karakter berbeda Dis. Tapi bukan berarti mesti jadi b******n dulu macam Reno dan Nino dulu” kata mama Sella.
“KAK!!!” cetus ayah Nino dan papa Reno kompak.
“Jiah!!, mantan pemain sama sama protes” ledek bunda Noni.
Terbahaklah para orang tua.
Semua juga tau seberapa bajingannya dulu ayah Nino dan papa Reno semasa bujangan. Bagusnya tidak ada yang meniru. Aman aja sih semua sepupuku dalam melakukan pendekatan dengan orang yang jadi pasangan mereka sekarang. Dan bersisa aku yang belum menikah, kalo mengabaikan ketiga anak papa Eno yang masih sekolah dan kuliah.
“Nanti mama kirim nomor Nina dan kamu coba dulu untuk janji bertemu dengan Nina” kata mama menutup sesi sidang hari ini.
Aku mengangguk saja karena tidak langsung mama kirim juga nomor handphone dan foto Nina. Mama langsung sibuk mengajak tamu keluarganya untuk makan bersama lalu ngobrol seru sampai semua pamit pulang. Malamnya baru mama kirim nomor handphone dan foto Nina.
CANTIK!!!. Aku setuju bagian ini. Tidak ada lagi gambaran Nina yang tomboy seperti yang aku kenal dulu. Malah girly sekali dengan jas dokter yang dia pakai di luar dress sepanjang lutut yang dia pakai dan berwarna biru. Terlihat percaya diri lewat senyumnya, dan profesinal karena dia pakai jas putih dokter.
“Mama terobsesi punya mantu dokter ya?” ledekku saat mama mengawasiku saat menatap foto Nina di handphoneku.
Mama langsung tertawa.
“Tidak juga sih, kalo mama sudah punya mantu dokter gigi yang cantik sebelumnya. Tapi mama selalu berharap punya mantu perempuan yang pinter” jawab mamaku.
“Kenapa gitu?” tanyaku lalu mengantungi handphoneku.
Sudah cukup melihat foto Nina, bisa nanti lagi. Toh aku harus temui Nina sesuai janjiku pada mama.
“Supaya bisa menangani bujang bujang mama supaya jadi lelaki dewasa yang matang secara pemikiran dan bukan hanya matang berdasarkan umurnya” jawab mamaku.
Aku sontak tertawa.
“Abangmu itu emosian, dan hanya Bella yang bisa meredam itu. Harus punya skill untuk itukan?” jawab mama lagi.
“Kalo aku?” tanyaku.
“Si gila kerja. Dan mama rasa hanya Nina yang bisa meredammu untuk berhenti gila pada pekerjaanmu” jawab mamaku.
Masih aku tertawa menanggapi. Lelaki gila kerja, itu baguskan menurutku. Artinya dia bertanggung jawab?. Kenapa harus jadi sesuatu yang di redam atau di hentikan??. Mama berharap aku bermalas malasan apa ya??.
Tapi lalu malah aku yang di buat kesal saat akhirnya berhasil membuat janji dengan Nina sampai aku datang ke rumah sakit untuk menjemputnya pulang setelah dia praktek di unit gawat darurat rumah sakit.
“Abang masih bisa nunggu gak?. Aku belum rapi nih. Kalo memang tidak bisa, lain aja kita ketemu. Gimana?” jawabnya.
Ampun bangetkan??. Udah aku luangkan waktu loh untuk temui dia, dan karena sudah terlanjur datang dan sudah mau magrib juga, akhirnya aku setuju menunggu sampai aku sholat margib dulu. Tapi aku tidak berharap harus menunggunya sampai jam 9 malam juga dan aku seperti orang bodoh di loby rumah sakit. Belum apa apa udah buat aku kesal, gimana kalo aku dan Nina menikah??.