“Ajarkan aku terbiasa bersamamu, tanpa harus melibatkan perasaan.” @atiikaaru SELEPAS meninggalkan panti tanpa mendapat informasi sedikitpun tentang keberadaan anak-anak, Gibran membawaku ke daerah Jakarta Selatan dan mengajakku makan di Café Shirokuma. “Wah… makanannya lucu-lucu.” Ekspresiku berubah setelah melihat bentuk makanan yang baru saja disajikan pelayan di atas meja. “Gitu dong, senyum. Seharian ini kamu banyak nangis, aku jadi ikut-ikutan sedih.” Gibran mengulum senyum sambil mengacak rambutku. “Tapi aku masih sedih kalau keinget anak-anak panti,” aku memainkan sendok dan kembali menampilkan wajah murung. Tangan Gibran terulur mengusap tanganku, “Nanti aku bantu cari mereka. Kamu jangan sedih lagi.” Kepalaku mengangguk, merasa tenang ketika Gibran mengatakan akan membantuku m

