TAK MUDAH JADI ORANG BAIK

1002 Words
Dua hari ini menjadi hari yang paling melelahkan bagiku. Aku terus-terusan ketempelan trio menyebalkan, Hesti, Fafa dan Karin. Ketiganya bahkan berinisiatif untuk pindah ke kamar yang aku tempati. Ketiganya memaksa anak-anak di kamar untuk menyerahkan kasur mereka. Beruntung sebelum mereka bertiga melakukan itu, aku terlebih dulu sudah membuat gerakan. "Jika ada yang berani pindah dari kamar ini, jangan harap kehidupan pondok kalian akan tenang," ujarku dengan wajah datar. "Kalian tak boleh keluar dari kamar ini. Sekali pun Hesti, Fafa dan Karin mengancam kalian!" "Kalian dengar?" Mereka mengangguk pelan. Jangan salahkan aku mengatakan kalimat mengancam seperti itu. Aku tak punya pilihan. Sebelumnya, aku sudah mencoba pendekatan persuasif bahkan nyaris memohon dan berkata dengan super lembut, tapi mereka malah curiga padaku. "Kenapa sangat susah jadi orang baik?" gumamku nyaris frustrasi. Ternyata kembalinya aku ke masa ini, tidak hanya untuk melawan Hesti dan antek-anteknya, tapi juga memperbaiki citra diriku yang sudah rusak sejak dulu. Belum selesai dengan keluhanku sepanjang jalan ke musholah, tiba-tiba dari arah belakang, orang berjalan terburu-buru, berusaha memotong langkahku, tapi kakinya tersandung dan malah menabrak keras pundakku. Belum sempat aku bereaksi, orang yang menabrakku langsung bersuara. "M-maaf, Ning Vina... S-saya–" "Fatmah?" Aku menatapnya. Biasa saja sebenarnya. Tapi entah kenapa tangannya tiba-tiba gemetar. Apa dia setakut itu padaku? "Gimana, kamu nyaman di kamar saya?" Aku murni bertanya. Informasi ini kudapat dari abi. Abi meminta izin padaku terlebih dahulu sebelum mengiyakan keinginan Fatmah pindah ke kamarku di rumah. Toh, kamar itu akan jadi lebih terawat jika ada orang yang menempatinya. Setidaknya aku tak perlu khawatir akan ada debu menumpuk. "Sa—saya, minta maaf. Saya janji akan pindah dari kamar Ning secepatnya." Fokusku terbagi. Daun kering jatuh di kepala Fatmah, tapi ia sama sekaki tidak menyadarinya karena terus menunduk. Aku mendekat hendak mengambil daun itu, tapi tiba-tiba... "Aaarggghh.... maaf Ning!" Fatmah melangkah mundur. Kakinya tersandung. Daun itu jatuh bersamaan dengan jatuhnya Fatmah. Matanya masih menatap tanganku yang tadi bergerak ke arahnya. Apa dia kira aku hendak menamparnya? Yang benar saja.. Itu bahkan tak terlintas di benakku. "Kamu salah paham, saya tidak bermaksud—" "Saya janji akan keluar dari kamar itu secepatnya! Saya janji. Sekarang tolong biarkan saya pergi..." Suara dan tangan Fatmah gemeter. Siapa juga yang ngelarang dia pergi? Aku hendak mengulirkan tangan membantunya berdiri, tapi lagi-lagi hal yang tak kuduga terjadi. Hamzah ada di sana. Ia memintaku untuk menjauh dari Fatmah. "Mau sampai kapan Ning mengganggu Fatmah? Saya tak habis pikir dengan pola pikir Ning yang egois itu." Aku terdiam sejenak, memandangi Fatmah lalu Hamzah. Apa Fatmah diam-diam tahu akan kehadiran Hamzah? Tapi, aku segera menepis pemikiran itu. Melihat wajah Fatmah yang pucat dan keringat dingin, jelas gadis itu asli ketakutan padaku, bukan seperti ibunya yang siluman ular itu. Fatmah tak serumit ibunya. Dia amat polos. Bahkan sangat polos untuk sekedar sadar kalau ibunya sangat berbahaya. "Saya tak mengganggu siapa pun!" sahutku. "Kalau tak percaya tanyakan saja langsung pada Fatmah. Saya tak melakukan apa pun. Saya hanya bertanya." "Iyakan Fatmah?" Aku kembali menoleh pada Fatmah yang masih terduduk di tanah. Begitu mata kami bertemu, tangan Fatmah kembali bergetar. Makin ketakutan. Hamzah melihatnya dan makin percaya aku telah menindas Fatmah. Sial! "Apa ada yang luka, Fatmah?" tanya Hamzah. Dari sorot mata Hamzah, bisa kulihat bahwa Hamzah sangat khawatir dengan kondisi Fatmah. Sepertinya Hamzah menganggap Fatmah seperti adiknya sendiri. Fatmah menggeleng pelan. "Butuh saya panggilkan santriwati untuk membantumu?" tanya Hamzah dengan nada lembut, yang tak pernah kudengar. Saat berbicara denganku, Hamzah selalu berbicara dengan nada datar dan dingin. Tak heran jika dulu aku sama sekali tidak bisa menyadari perasaan Hamzah padaku. "Biar saya bantu..." Aku hendak maju. Hamzah malah menghadang kakiku dengan tongkatnya. Bruk. Aku terduduk, jatuh. Kakiku sakit. "Hamzah!" pekikku kesal. Hamzah tak menyahut. Ia bertindak seolah kehadiranku tak terlihat. Fatmah buru-buru bangkit. Hendak menolongku, tapi aku yang terlanjur kesal, spontan menepis tangannya. "Ning Vina, besok saya janji akan pindah dari kamar Ning Vina," kata Fatmah lagi dan lagi. Aku muak mendengarnya! "Jika kamu suka di kamar itu, tak perlu keluar!" sahutku ketus. Belum sempat aku menjawab, lagi-lagi hal tak terduga datang dengan sangat cepat. Entah dari mana, Hesti, Fafa dan Karin sudah berada di belakang Fatmah. Hesti menampar keras pipi Fatmah. Saat Hamzah hendak membantu Fatmah, Karin dengan ceoat menyiram Hamzah dengan air comberan. Hamzah kaget, tongkatnya jatuh dan tubuhnya hilang keseimbangan. "Dua orang sampah memang cocok dengan aroma air comberang," ujar Hesti, yang langsung disambut tawa puas Fafa dan Karin. Aku tertegun melihat Hamzah berusaha meraih tongkatnya agar bisa kembali berdiri. Namun, Fafa dengan sengaja menenadang tongkat itu agar menjauh dari jangkauan Hamzah. Melihat Hamzah merangkak tak berdaya, ketiganya langsung tertawa puas. Persis sama seperti mereka memperlakukan aku di masa lalu. Mereka tertawa di atas lukaku. PLAK! Tawa ketiganya musah begitu saja. Fafa tertegun, memegangi pipinya yang panas karena tamparan kerasku barusan. PLAK! Hesti dan Karin korban berikutnya. Ketiganya terdiam menatapku. "Ning Vina..." Hesti memanggilku. Aku tak peduli! "PERGI KALIAN BERTIGA DARI HADAPAN SAYA!" teriakku. Ketiganya panik dan langsung berlari pergi. Hening. Fatmah menatapku bingung. Aku buru-buru mengambil tongkat Hamzah, langsung memberikannya, tapi Hamzah menepis keras tongkat yang ada di tanganku. Tongkat itu malah semakin menjauh dari jangkauan Hamzah. "Kamu maunya apa sih? Saya hanya berusaha menolong kamu!" kesalku. "Saya bisa sendiri! Tak perlu bantuan Ning," katanya. "Kalian sama saja." Aku mencoba meredam rasa kesalku. "Fatmah, segera panggil santri putra untuk membantu cowok sombong ini!" kataku nyaris setengah berteriak. Fatmah ketakutan dan buru-buru melenggang pergi. "Terserah kamu mau menuduh saya apa. Saya tak peduli pada penilaianmu," ujarku seraya melangkah pergi meninggalkan Hamzah yang masih berusaha meraih tongkatnya. Sial. Setelah sepuluh langkah, aku tak sengaja menoleh dan melihat Hamzah menatapku. Pandangan mata kami tak sengaja bertemu. Aku segera membuang muka, pergi. "Apa dia akan semakin membenciku?" tanyaku tanpa sadar. Pertanyaan itu entah kenapa membuat hatiku tak nyaman. Hati kecilku berharap jawaban atas pertanyaan itu adalah tidak. Kenapa aku takut Hamzah membenciku? Bukankah itu malah lebih baik? Aku jadi bisa menghindari Hamzah dari tangan busuk Hesti dan antek-anteknya. Tapi kenapa hatiku terasa nyeri ya? Rasanya sangat sesak. Ada apa ini? **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD