KEMENANGAN YANG TAK MERIAH

1051 Words
Babak ketiga dimulai. Sintia tak lagi meremehkanku, dia sekarang jauh lebih hati-hati. Di menit awal babak ketiga, Sintia terus menyerang dan mempertahankan diri. Suasana terasa sangat sengit, dukung semua orang juga seketika hening, fokus pada setiap serangan yang aku dan Sintia lakukan. "Jangan harap kamu menang!" dengus Sintia. "Jika saya tak menang, bagaimana bisa pertandingan ini berhenti," balasku cepat. Aku tahu Sintia sengaja memancingku dengan kata-katanya itu agar aku lengah dari tendangan yang di layangkan ke arahku. Aku dengan cepap menangkap kakinya, hendak membantingnya, tapi gagal, karena pertahan tubuh Sintia yang sama kuatnya. "Jika saya tak menang, maka kamu juga tak boleh menang!" ujar Sintia. Aku tak menyahut dan tetap fokus pada serangan yang Sintia berikan. Sintia mulai memperbanyak tendangan jarak pendeknya, sepertinya dia mengincar lenganku. Menit awal berakhir tanpa poin apa-apa. Fakta itu sukses membuat Sintia makin kesal. Dia mulai gegabah dalam tindakan karena ingin cepat-cepat menjatuhkanku. Gerakan Sintia yang semula presis dan rapih, mulai terlihat seperti petarung abal-abal. Ia menyerang tanpa membaca pola yang ada. Ketidaksabaran Sintia inilah yang menjadi keuntungan bagiku. Aku berhasil menyerangnya hingga terjatuh dan berhasil mencetak poin pertama. "Sialan!" teriak Sintia tidak terima. Ia buru-buru bangkit. Serangannya makin berantakan. Dia bagai banteng yang matanya di tutup, hanya berambisi untuk mengalahkanku. "Bersiaplah untuk kalah," ujarku. Sekali lagi, aku berhasil membuat Sintia terjatuh. Beberapa orang yang sudah mulai pindah haluan kepihakku, bersorak ramai. "Kalahkan Sintia!" "Kalahkan Sintia!" Teriak mereka. Kemarahan Sintia makin tak terkendali, aku sempat kerepotan membendung setiap serangan berantakannya, yang lumayan bertubi-tubi dan sangat berpower. Tahan kakinya... Tinggal satu langkah lagi, aku hanya perlu mengunci total pergerakan Sintia agar tak bisa bangkit lagi dengan begitu aku akan menang. Saat aku hendak menyerang Sintia, tiba-tiba kepalaku terasa berat. Pandangan mataku mendadak kabur, badanku terasa lemas. Apa pun caranya! Kamu akan kalah! Kalimat terakhir yang Sintia katakan sebelum babak ketiga dimulai kembali terngiang di kepalaku. Apa jangan-jangan air putih yang aku minum tadi sudah diberi obat oleh Sintia dan komplotannya? Fakta itu membuatku sangat panik. "Kenapa? Kepalamu terasa berat?" Sintia tersenyum melihatku. "Sial, kenapa obat itu baru berfungsi sekarang!" umpat Sintia. Ia menatapku, lalu tersenyum mengejek. "Waktumu sudah berakhir. Bersiaplah kalah!" Sintia menyerangku. Aku tak cepat mengelak dan terjatuh. Buru-buru, aku paksa tubuhku yang makin lama makin terasa lemas. Aku tak boleh kalah! Tekadku Aku sekuat tenaga mencoba melawan efek bius itu dan berusaha tetap sadar. Dengan seluruh kekuatan yang ada, aku langsung mengerahkan semua serangan. Aku berhasil menjatuhkan jatuhin Sintia dan menahannya untuk tak lagi bangkit. "Lepaskan saya!" Sintia terus memberontak. Aku menguatkan kukunganku. Semua orang bersorak tegang dan bersemangat. Semua ikut menghitung mundur. "Lepaskan saya! Lepas!" teriak Sintia mulai kehilangan energi, bersamaan dengan hitung mundur semua orang, Sintia kehilangan tenaganya. Sintia tak berkutik! Tiba-tiba terdengar suara ramai dari arah pintu. Ada banyak orang yang datang. Hamzah berdiri menatapku. Saat aku hendak melangkah, efek obat bius makin melanda tubuhku, pandanganku memburam, langkahku memelan dan... Bruk. Aku terjatuh. . . Saat aku terbangun, rasa pusing di kepalaku masih terasa. Begitu mataku terbuka, yang pertama kulihat adalah langit-langit putih dan bau obat yang menusuk hidung, membuatku makin mual— aku di rumah sakit. Entah siapa yang membawaku ke rumah sakit. "Apa jangan-jangan HAMZAH?" Seketika aku bangkit dari kasur. Aku yakin betul, sebelum pingsan melihat Hamzah ada di sana. "Ning Vina sudah sadar?" Suara Nyai Siti menarikku dari lamunan. Aku baru sadar jika Abi, Fatmah dan Hamzah sudah berada di sana sisi ranjangku. "Siapa yang membawa kulo ke rumah sakit?" Aku menatap ke arah Hamzah. Hamzah mengangguk pelan, membenarkan. "Apa saya menang?" tanyaku spontan. Hamzah langsung membuang muka. Apa yang salah? Aku hanya ingin tahu hasil pertandiangan semalam. Jangan sampai Sintia memanipulasi hasilnya! "Siapa yang menang—" "Abi.. kulo pamit keluar sebentar." Hamzah sengaja memotong kalimatku. Hamzah langsung pergi setelah abi mengizinkannya. "Bi, kulo dan umi juga pamit pulang ya.." "Iya, Mas. Kita pamit pulang. Fatmah besok ada ulangan pagi, jadi harus cepat istirahat." Abi mengangguk. "Hati-hati di jalan. Maaf, karena urusan ini merepotkanmu dan Fatmah." "Tak masalah ...." Ruangan kembali hening setelah Fatmah dan Nyai Siti pergi. Sejujurnya aku tak punya topik untuk dibahas. Terlebih Abi hanya diam aja, duduk di sofa yang menghadap ke arahku. Namun, ini kesempatan baik bagiku untuk kembali menjalin komunikasi dengan abi. Mungkin aku bisa memulai dengan kata maaf.. atau basa-basi menanyai bagaimana kabar abi malam ini? Atau mungkin— "Kapan abi pulang?" Tunggu dulu... kenapa nada suaraku terdengar sangat datar? Sama sekali tak terdengar seperti basa-basi yang ramah. Malah terkesan seolah aku mengusir abi. Abi menatapku, menghela napas panjang. Dengan wajah sedih, abi bangkit dari sofa. Abi berjalan ke arah pintu melewatiku, tanpa menoleh, tanpa mengatakan apa pun. Suaraku tercekat. Aku terpaku. Aku ingin berteriak meminta abi berhenti, tapi suaraku tak keluar. Abi pergi, meninggalkanku sendirian di ruangan berbau obat dan asing. "Kenapa aku selalu ditinggalkan?" Seketika rasa nyeri melanda hatiku. Kenyataan ini amat pahit. Rasanya aku tak sanggup menahanya. Aku mulai terisak. Air mataku bergulir begitu saja tak mampu kubendung. Tak ada siapa-siapa di sana. Aku sendirian di masa depan dan masa lalu. "Aku benci rasa sepi ini ... aku benci sendirian." Setiap kali kucoba berhenti, tangis itu makin besar. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Buru-buru kuhapus air mataku. Dunia tak boleh tahu betapa rapuhnya aku! Ternyata itu Hamzah. Ia membuka lebar pintu. Berdiri di depan pintu, tak melangkah masuk. "Dokter bilang, kamu bisa pulang hari ini." "Hem ...." Sisa tangisku masih ada. Aku takut Hamzah menyadari itu. "Apa ada yang perlu kamu persiapkan?" tanyanya. Aku menggeleng cepat. Berharap Hamzah segera pergi menutup pintu. Namun, Hamzah malah diam mematung di sana. Kenapa dia belum pergi juga sih? Kenapa dia harus berdiri di situ? Aku makin kesulitan menahan tangisku. Bagaimaja jika tangisku meledak di hadapannya? Aku jelas tak ingin itu. Hamzah masih berdiri di sana. “Apa yang kamu tunggu? Kenapa kamu tak pergi sekarang!" bentakku tanpa sadar. Aku panik karena air mataku kembali bergulir dari mataku. Tapi Hamzah tak bergerak. Ia hanya membalik tubuhnya membelakangiku. "Saya akan menunggu di sini," katanya. "Tak perlu! Kamu bisa pulang sekarang! Saya bisa pulang sendiri!" Suaraku gemetar menahan tangis. Hamzah menghela napas panjang. "Menangislah sepuasmu. Anggap saya tak ada. Saya hanya akan diam di sini." Aku tertegun. Kata-kata itu seketika menyentuh pelan hatikku. "Kenapa?" “Bukannya tadi kamu bilang… kamu takut sendiri?” Air mataku jatuh lagi, tanpa suara, tanpa perlawanan. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD